detikcom
Jumat, 22/06/2012 07:32 WIB

TNI AU: Keluarga Korban Fokker Tak akan Dibiarkan Telantar

Ramdhan Muhaimin - detikNews
Jakarta - 8 Rumah hancur akibat tertimpa pesawat Fokker 27 milik TNI AU yang jatuh di kawasan Halim, Kamis (21/6) kemarin sore. Meski sebagian besar penghuni rumah selamat, namun mereka tidak dapat lagi menempati rumahnya dalam waktu dekat ini. Lalu, dimanakah mereka akan tinggal?

"Itu nanti dalam proses. Pasti ada lah, karena mereka menjadi korban bukan keinginan mereka sendiri. Kami sudah pikirkan, tidak akan didiamkan. Karena masih keluarga besar AU. Kalau di AU tenang lah mereka," ujar Kasubdis Penum TNI AU Kolonel PNB Agung Sasongko Jati kepada detikcom, Jumat (22/6/2012).

Agung mengatakan rumah-rumah yang hancur adalah rumah dinas milik TNI AU. Karena itu rumah-rumah tersebut, menurutnya, akan dibangun kembali. Bahkan pihak TNI AU memang berencana akan menambah jumlah rumah dinas anggota secara bertahap.

Terkait asuransi atau uang kerahiman bagi keluarga, Agung juga mengatakan, hal itu pasti diberikan. Namun Agung mengungkapkan berapa besar nilainya yang akan diberikan.

"Itu sudah ada prosedurnya. Kalau di TNI AU tenang lah," tuturnya.

Pesawat Fokker 27 milik TNI AU jatuh di Komplek Rajawali, Halim Perdanakusumah, Kamis (21/6) pukul 14.45 WIB. Pesawat itu bernomor register A 2708 buatan tahun 1977. Pesawat nahas itu dipiloti Mayor Pnb Heri Setiawan dan kopilot Lettu Paulus. Pesawat jatuh saat latihan rutin. 11 Orang dinyatakan tewas dan 11 lainnya mengalami luka-luka.


(rmd/rvk)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    MustRead close