detikcom
Kamis, 21/06/2012 23:49 WIB

Hidayat Nurwahid & 3 'Kembarannya' akan Kampanye Bareng di Pilkada DKI

Nograhany Widhi K - detikNews
Jakarta - Cagub DKI yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid menobatkan 3 'kembarannya'. 3 Kembaran itu akan diajak turut serta berkampanye di pilkada DKI.

Kembaran Hidayat itu dinobatkan dalam pengumuman lomba foto dan video mirip Hidayat-Didik di Hidayat+Didik Center di Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan, Kamis (21/6/2012).

Ada 3 'kembaran' Hidayat dari 20 orang yang mengikuti lomba foto dan video mirip Hidayat-Didik ini. Mereka adalah Hedi Irvan, Ainut Tijar dan Cahyadi Takariawan. Heri Irvan, sebagai kontestan mirip Hidayat pertama didaulat untuk berkampanye ala Hidayat.

"Banyak anak yang terlantar tidak bisa sekolah, saya rasa biar dari SD sampai SMA kalau bisa digratiskan biaya pendidikan. Ayo bersama benahi Jakarta," kata Heri yang gaya dan intonasinya mirip dengan Hidayat.

Kontestan berikutnya, Ainut Tijar. Ainut adalah pemeran 'Hidayat Nursahid' di Republik Mimpi, acara parodi politik besutan pakar komunikasi politik Effendi Gazali di stasiun TV swasta. Ainut juga beretorika ala Hidayat.

Kontestan ketiga, Cahyadi Takariawan malah menceritakan pengalamannya saat Hidayat belum terlalu terkenal pada era 2000-2005. Cahyadi saat itu beberapa kali mendampingi Hidayat.

"Saat itu perawakan saya persis Pak Hidayat. Pak Hidayat waktu itu belum terkenal. Saat diundang ke mana-mana, saya yang sering dikira Pak Hidayat di bandara mana-mana, di Jakarta, Makassar, Yogyakarta," jelas Cahyadi yang juga ustad Pengasuh Pengajian Permata (Pernik-pernik Rumah Tangga) ini.

Bahkan suatu hari, ada kejadian lucu saat di Palu, Sulawesi Tengah. Di saat Hidayat berpidato di mimbar, Cahyadi berada di hotel tak jauh dari tempat Hidayat berpidato. Saat itu Cahyadi bertemu dengan panitia acara Hidayat di Palu.

"Panitia itu sampai berdebat seru, karena ada yang bilang baru bertemu Pak Hidayat di hotel, di saat yang sama Pak Hidayat sedang berpidato di mimbar. Pak Hidayat sampai dianggap bisa berada di dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan. Hahahaha," kisah Cahyadi yang disambut tawa para hadirin.

Setelah itu, Hidayat diminta menobatkan yang paling mirip dirinya. Namun Hidayat menolak menentukannya sendiri.

"Karena ini era demokratis, maka saya menyerahkan kepada hadirin dan hadirat. Ayo angkat tangan siapa yang memilih Hidayat Nursahid," kata Hidayat.

Hasil didapatkan, hadirin banyak memilih Heri Ivan sebagai pemenang pertama karena mendapatkan 23 suara. Sedangkan Cahyadi dan Ainut memiliki pemilih yang sama, 9 suara. Hidayat lantas menyuruh kedua kembarannya itu untuk bersuit. Akhirnya, setelah 3 kali suit, Cahyadi menjadi juara kedua dan Ainut menjadi juara ketiga.

"Mereka akan tetap datang pada kampanye saya sebagai pendahuluan. Tidak ada salahnya ini sebagai hiburan. Ajang (lomba) ini mengandung unsur edukasi yang tinggi, tidak harus hingar bingar. Di Jakarta ini tidak boleh sedikit-sedikit tawuran, nonton bola tawuran, lulus SMA tawuran," kata Hidayat.

Sementara menurut Ketua Panitia Lomba Rian Fajri, pemenang I mendapatkan Rp 10 juta, pemenang II mendapatkan Rp 7,5 juta dan pemenang III mendapat Rp 5 juta.

Ada yang kurang, dimanakah pemenang lomba mirip Didik Rachbini? "Ya ada, tapi karena yang mendaftar 2-3 orang jadi ya sudahlah, nggak jadi," kata Rian sambil tersenyum.

(nwk/rmd)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel