detikcom
Rabu, 20/06/2012 19:11 WIB

Laporan dari Den Haag

Menristek: Teknologi Disiapkan, Masyarakat Harus Siap Beralih Energi

Eddi Santosa - detikNews
Den Haag - Energi fosil (minyak dan gas bumi) akan habis dan tak bisa diperbarui. Krisis energi dan dampaknya pada sosial, ekonomi, politik dan keamanan sudah kita rasakan. Masyarakat harus siap beralih ke energi alternatif.

Demikian benang merah dialog Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta dengan para pemuka masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Ruang Nusantara KBRI Den Haag, Selasa malam atau Rabu (20/6/2012) WIB.

"Minyak kita akan habis kurang dari 20 tahun ke depan. Pemerintah sudah mulai menyiapkan sumber-sumber energi alternatif. Sumber energi panas bumi sudah digarap 2,5% dari kapasitas. Bioetanol dan biodiesel untuk menggantikan bensin dan diesel dari sumber fosil," ujar Menristek.

Hanya saja, lanjut Menristek, energi alternatif seperti bioetanol dan biodiesel harga jualnya masih cukup mahal pada kisaran Rp10.000-an/liter. Sementara bensin dari fosil cuma Rp4.500/liter. Harga bensin ini murah karena disubsidi, padahal harga sebenarnya lebih dari Rp10.000/liter.

"Pemerintah sedang mengkaji kemungkinan mengalihkan subsidi untuk minyak fosil ke subsidi bioetanol dan biodiesel, supaya harga sumber energi alternatif ramah lingkungan ini jadi terjangkau," imbuh Menristekdalam dialog yang dibuka oleh Dubes RI Retno Lestari Priansari Marsudi.

Selain bahan bakar nabati (BBN), sumber-sumber energi lain yang terus dikembangkan dan menjadi perhatian pemerintah antara lain tenaga surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), hinggaenergi nuklir.

Energi nuklir adalah alternatif lain yang harga energinya dalam jangka panjang jatuhnya lebih murah per satuan KWH.Pemerintah sudah sangat serius mengkaji, sangat teliti dan hati-hati melakukan persiapan.

Calon lokasi yang dinilai paling aman untuk pembangkit energi tenaga nuklir adalah di sekitar Bangka- Belitung, jauh dari 'cincin api' (gugus gunung berapi), lempeng gempa, dan terlindung oleh Pulau Sumatera, sebaliknya juga mudah untuk distribusi ke kawasan padat penduduk Sumatera- Jawa.

Dikatakan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur juga bersedia sebagai lokasi, namun kebutuhan energi penduduk di dua kawasan itu belum sebanding dengan nilai investasi untuk PLTN.

"Ada sebagian masyarakat yang sinis terhadap energi nuklir, padahal mereka perlu energi. Nuklir itu ibarat pisau tajam, bisa melukai, tapi bisa bermanfaat untuk memotong," tamsil Menristek.

Menurut Menristek, semua infrastruktur energi alternatif itu penting untuk disiapkan, agar rakyat Indonesia bisa mulus memasuki zaman tanpa minyak dan gas bumi yang memang akan habis, sekaligus menyongsong era mobil listrik.

"Bagaimana mobil listrik mau diproduksi masal kalau infrastruktur catu energinya tidak memadai?" demikian Menristek.

Pemerintah, imbuh Menristek, sangat serius mengembangkan mobil listrik. Presiden telah meminta riset dan pengembangan mobil listrik dan baterainya, supaya baterai mobil tahan lama.Bahkan Presiden sudah memanggil kalangan universitas untuk membuat roadmap, selanjutnya menteri terkait diminta untuk menyiapkan kebijakannya.

Mengenai energi fosil berupa batubara pemerintah sudah memutuskan untuk lebih ketat memanfaatkannya. Ekspor batubara sudah dikurangi antara lain melalui regulasi dan menaikkan pajak ekspor batubara.

Batubara itu penambangannya saja sudah berdampak pada lingkungan, dengan menebang pohon dan mengeruk lahan hutan dari bukit menjadi danau dengan skala sangat luas. Pemanfaatan batubara juga menghasilkan gas rumah kaca.

"Kebijakan itu sejalan dengan tekad pemerintah Indonesia untuk mengurangi sebanyak 26% gas rumah kaca pada 2020," pungkas Menristek.

Menristek juga memaparkan capaian- capaian Indonesia saat ini di bidang teknologi, antara lain bioteknologi, teknologi strategis seperti persenjataan dan roket, juga food security dengan menghasilkan padi varitas baru yang tahan penyakit, dalam 105 hari sudah bisa panen dan produksinya mencapai 9 sampai 10 ton/ha, jauh di atas produksi varitas unggul saat ini yang rata- rata 6 ton/ha.

Menristek, sebagaimana dijelaskan Dubes Retno, berada di Negeri Belanda dalam rangka Scientific Program Indonesia- Nederland (SPIN), yakni kerjasama jangka panjang antara periset dan konsorsium riset Indonesia dan Belanda untuk keuntungan kedua negara.

Kerjasama SPIN ini dilandasi perjanjian yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Sains Maria van der Hoeven bersama Menteri Negara Riset dan Teknologi Hatta Radjasa pada 2002.

Dalam periode 2007-2011 sebanyak EUR 8,235 juta disediakan untuk riset bersama dengan fokus pada tiga disiplin, yakni komoditi hijau, energi berkelanjutan dan riset air, kemudian penyakit menular dan kesehatan, serta pembangunan sosio-ekonomi.

Disiksa dan Tidak Digaji Selam 15 Bulan, 2 PRT di Medan Kabur Dari Rumah Majikannya. Simak Selengkapnya di "Reportase Pagi Akhir Pekan", pukul 04.30 - 05.30 WIB Hanya di TransTV

(es/es)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    58%
    Kontra
    42%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    • Rp .000
    • Rp .000