detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 07:38 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 19/06/2012 12:05 WIB

Pilkada Langsung Munculkan Pemerintahan yang Terbelah

jurnalparlemen.com - detikNews
Jakarta -
Kepala daerah jalan ke ke kanan, sementara wakil kepala daerah jalan ke kiri Pemilihan kepala daerah secara langsung memunculkan fenomena pemerintahan yang terbelah atau divided government dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. Pemerintahan yang terbelah ini muncul dalam wujud tidak harmonisnya hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang kemudian menimbulkan fragmentasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

"Kepala daerah jalan ke ke kanan, sementara wakil kepala daerah jalan ke kiri," ujar anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani kepada jurnalparlemen.com, Selasa (19/6).

Kata Miryam, fenomena inilah yang kemudian melahirkan persaingan yang tidak sehat antara kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam pilkada berikutnya yang menimbulkan pecah kongsi, dan majunya kepala daerah dan wakil kepala daerah dengan pasangan masing-masing.

"Bahkan seperti pada kasus provinsi DKI Jakarta, wakil kepala daerah terpaksa harus mengundurkan diri sebelum berakhir masa jabatannya," tambahnya.

Fraksi Partai Hanura menilai ada celah dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah khususnya pasal 56 yang mengatakan kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon secara demokratis dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Pencalonan secara berpasangan ini menyebabkan kepala daerah dan wakil kepala daerah merasa dirinya pihak yang memiliki kontribusi sama dalam memenangkan kompetisi pemilihan kepala daerah secara langsung.

Selain itu, menurut Fraksi Partai Hanura, perpecahan kongsi ini lebih disebabkan karena tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara kepala daerah dan wakil kepala daerah yang seharusnya diatur secara terperinci dalam Undang-undang Pemerintahan Daerah.

"Selama ini sebagaimana yang terjadi di level nasional wakil kepala daerah hanya menjalankan kewenangan seremonial dan kewenangan substantif, yaitu kewenangan dalam bentuk menggantikan kepala daerah jika berhalangan. Ini sangat ironis karena sama dengan membiarkan pemborosan anggaran negara untuk membiayai wakil kepala daerah."

Rayakan kasih sayang anda dengan coklat. tapi bagaimana kalau coklat tersebut ternyata rekondisi? Simak di Reportase Investigasi, Pukul 16.30 WIB Hanya di TRANS TV

(nwk/nwk)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%
MustRead close