Senin, 18/06/2012 10:41 WIB
Kolom Djoko Suud
Demokrat dan Korupsi
Makin hari, citra Partai Demokrat terus melorot. Itu sebagai konsekuensi logis atas tindak-tanduk pengurusnya. Sebagai partai penguasa yang gembar-gembor bersih dan wibawa, ternyata sikapnya jauh berbeda. Dugaan korupsi terjadi di mana-mana, dan menyeret seabreg pemimpinnya. Mantan bendahara Nazaruddin yang pertama, disusul Angelina Sondakh, dengan antrean segerbong elitenya.
Yang deras disebut diduga melakukan perilaku sama adalah Anas Urbaningrum, sang ketum, dan Andi Mallarangeng, Menpora. Jika dua yang terakhir ini benar-benar kelak menjadi tersangka, jangan salahkan konstituen kalau memberi cap pada partai bentukan SBY ini sebagai partai korupsi. Partai Demokrat dipelesetkan sebagai perwujudan 'demokratisasi korupsi', karena dipimpin oleh para koruptor.
Performa Partai Demokrat hampir pasti akan terus memburuk jika tetap dibiarkan seperti sekarang. Partai banyak faksi yang tidak akur-akur itu kian rawan ke depan. Apalagi roh partai, kejujuran dan rame ing pamrih tampil telanjang. Ada yang terduga korup dan ada juga yang memang korupsi.
Partai ini wajib segera bersih-bersih. Itu jika ingin partai ini tetap dijadikan kuda tunggangan dalam pemilu mendatang. Kalau tidak, maka Partai Demokrat hanya akan jadi penonton. Penonton yang dipermalukan. Ngunduh wohing pakarti (memanen buah dari tindakannya). Terpuruk jauh di bawah prediksi-prediksi normal.
Untuk membersihkan partai ini memang tidak gampang. Dibutuhkan tindakan radikal. Perlu sikap vivere pericoloso, nyerempet-nyerempet bahaya. Bahaya perang antar-faksi, intrik dan fitnah, dan mungkin saja partai ini akan terbelah. Namun tanpa itu, Partai Demokrat bak perahu kertas di laut luas. Terombang-ambing dalam ketidak-beraturan. Dengan demikian, mundurkah Anas?
Hampir pasti Anas tidak akan mengundurkan diri. Dia tahu bahwa politik itu kekuasaan. Kuasa yang sudah dipegang muskil dilepas, kendati risikonya membawa partai besar ini menjadi kerdil. Sebab jika itu dilakukan, masalah besar kemungkinan akan menimpanya. Sebab dia kehilangan 'macan' yang selama ini ditakuti penentang dan lawan-lawan politiknya.
Memang harusnya dewan pembina partai tegas dan langsung turun tangan. Pecat dan sanksi wajib dilakukan. Tapi dalam berbagai kesempatan sang dewan pembina hanya memohon dan meminta, agar kader partai yang bermasalah undur diri. Tidak berani mengambil resiko ricuh demi lajunya biduk partai. Akibatnya suasana partai tidak kondusif. Kubu-kubuan menonjol. Saling curiga tidak terhindarkan, dan ini yang kian menipiskan kepercayaan rakyat terhadap Partai Demokrat. Adakah hanya rakyat yang ragu terhadap partai ini?
Lihatlah sebait lagu dangdut yang dipelesetkan kader Partai Demokrat dan dikirimkan ke penulis. 'Anggur merah, yang selalu memabukkan diriku, kuanggap belum seberapa, dahsyatnya, dibanding gonjang-ganjing Partai Demokrat'. Ya, kisruh di tubuh partai ini membuat semua kader mabuk. Tidak bisa berpikir jernih, dan tidak bisa menemukan solusi.
Adakah SBY akan tegas menindak elite partai yang terindikasi korupsi? Ataukah timbul kesadaran baru Anas, Andi Mallarangeng, dan Angelina Sondakh legowo mengundurkan diri? Rasanya kok itu tidak akan terjadi, dan partai ini tetap limbung sampai di batas akhir kekalahan.
Djoko Suud
Budayawan, menetap di Jakarta
(nrl/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Kelamin Abdul Dipotong NN dengan Cutter
723 share this. -
51 Orang Tewas Akibat Tornado di Oklahoma
608 share this. -
Wanita Pemotong Kelamin Abdul: Saya Dipaksa Berhubungan Intim
603 share this. -
21 Mei 1998 Soeharto Tumbang, Apa Kabar Gelar Pahlawan?
555 share this. -
Nasib UN SD Ditentukan Bulan September
513 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru
Indeks Kolom ยป
-
Rabu, 15/05/2013 10:33 WIB
Politik Bunuh Diri PKS
-
Senin, 13/05/2013 13:28 WIB
Penyitaan Mobil Mewah Elit PKS: Dapatkah Ditolak?
-
Senin, 13/05/2013 09:40 WIB
Catatan Agus Pambagio
e-KTP dan Kegalauan Publik
-
Selasa, 07/05/2013 15:42 WIB
BBM Bersubsidi, Kompensasi dan Dilema Pemerintah
-
Rabu, 01/05/2013 13:07 WIB
Jelang Pemilu 2014: Saatnya Menagih Janji Politik
-
Selasa, 21/05/2013 20:03 WIB
Kasus Pencucian Uang Luthfi, KPK Bisa Panggil Paksa Darin Mumtazah
-
Selasa, 21/05/2013 18:54 WIB
Ibunda Darin Sempat Sebut ke Tetangga Menantunya dari Jeddah
-
Selasa, 21/05/2013 19:59 WIB
Pria Tanpa Kepala Ditemukan di Tol Cikampek, Diduga Korban Tabrak Lari
-
Selasa, 21/05/2013 17:30 WIB
Kata Ibunda ke Tetangga: Biarin Darin Dikawinin, Daripada Dia Hidup Susah
-
Selasa, 21/05/2013 17:15 WIB
Kisah Keluarga Darin yang Berubah Drastis Setelah Mengenal Luthfi
-
Selasa, 21/05/2013 20:06 WIB
Nasib Dua Dosen Hukum Unpad yang Diduga Plagiat Ditentukan Senin Depan
-
Selasa, 21/05/2013 18:33 WIB
Kata Anggota Majelis Syuro PKS Soal Pushtun
-
Selasa, 21/05/2013 17:55 WIB
Ibunda Darin Sering Sebut 'Bos', Siapa Dia?
-
358 Komentar
-
236 Komentar
-
229 Komentar
-
211 Komentar
-
211 Komentar
-
210 Komentar
-
175 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
15 Tahun Reformasi
Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,845.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Selasa, 21/05/2013 15:48 WIB
Ayo Lunasi Biaya Naik Haji Mulai 22 Mei Sampai 12 Juni
-
Selasa, 21/05/2013 15:35 WIB
Sohibul Iman Bicara Solusi Penyelamatan PKS
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








_5.gif)






Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.
