Sabtu, 16/06/2012 17:23 WIB

'Faisal-Biem Bintang Independen', Buku Tentang Ide Benahi Jakarta

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jakarta - Faisal-Biem Bintang Independen. Itulah judul buku tentang ide dan road map membenahi Jakarta dari pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta, Faisal Basri-Biem Benyamin. Hari ini buku itu diluncurkan.

Buku tersebut ditulis oleh Komarudin dan diterbitkan La Tofi Enterprise Media. Buku setebal 240 halaman itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (16/6/2012).

Menurut Faisal yang hadir dalam acara itu, ide yang tertuang dalam buku tersebut bermuara pada tiga nilai dasar. Nilai-nilai tersebut yakni bangunan kota yang memiliki keadaan, mengedepankan prinsip kepentingan publik yang terpinggirkan, dan pertanggungjawaban seorang pemimpin yang menegakkan keadilan. Nilai-nilai itu tidak boleh dipinggirkan ketika membuat suatu program/

"Jakarta itu merupakan kota yang paling murah sampai paling mahal. Kota yang perlu kita hembuskan roh. Jakarta yang dikatakan sebagai kota paling menyebalkan dari 10 kota. Katanya Jakarta nggak aman, banyak polusi, kita bertekad untuk memperbaiki itu semua. Karena kota Jakarta selain kota sentral juga kota perbaikan ekonomi," terang Faisal dalam acara tersebut.

Dia lantas membuka buku di halaman 14 yang berisi wawancara. Dalam wawancara itu, Faisal mengemukakan pandangannya tentang Jakarta saat ini. Menurutnya jika Jakarta dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Kuala Lumpur, Bangkok, Ho Chi Minh City pada 1970-an, kondisinya relatif sama. Namun di tahun 1980-an kota-kota itu berkembang lebih baik, sedangkan Jakarta seolah mengalami kemunduran lantaran banyaknya keluhan macet, polusi, maupun banjir.

"Kalau kita lihat satu kota dari dekade berikutnya menunjukkan adanya perubahan yang mengarah kepada keteraturan seperti Milan, Washington DC dan lain-lain. Di sana tata kota didesain secara konsisten," imbuh Faisal.

Dijelaskannya, di belakang rumahnya di kawasan Jakarta Selatan, dulu dikenal asri. Namun sekarang situasi itu tak ada lagi, beralih dengan kondisi macet dan tidak teratur.

"Kebayoran yang awalnya asri di mana terdapat taman kemudian berubah menjadi bisnis karena pemukiman di sana tidak menyediakan tempat parkir yang banyak, sehingga menciptakan kekacauan kota seperti trotoar menjadi tempat parkir. Dan itu dasarnya adalah pemukiman," tutur staf pengajar Universitas Indonesia (UI) ini.

Saat ini di beberapa titik di Ibukota pertumbuhan tidak tertata, tidak terpola dan penerapan perencanaan kurang konsisten. Karena itulah kemudian terjadi pelanggaran atas aturan yang berlaku. Mislanya saja muncul bangunan pusat perbelanjaan yang tidak menyediakan tempat parkir layak sehingga muncul parkir di jalanan.

"Jadi parkir di jalan, muncul kemacetan, parkir liar, premanisme, dan transportasi semakin memburuk," kata Faisal.

(vit/mpr)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Twitter Recommendation
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    70%
    Kontra
    30%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel