detikcom
Jumat, 15/06/2012 11:35 WIB

Adu Mulut Kerabat Raja Warnai Peringatan Jumenengan Keraton Surakarta

Muchus Budi R. - detikNews
Jokowi, Hangabehi, Marzuki dan Tedjowulan/Ramses/detikcom
Solo - Sempat terjadi insiden kecil di tengah pelaksanaan peringatan jumenengan PB XIII di Keraton Surakarta. Rekonsiliasi yang terjadi dua kubu ternyata masih menyisakan ketegangan pada para pendukungnya. Di tengah khidmat acara tradisi, saling bentak dan saling dorong terjadi di hadapan para tamu undangan.

Keributan terjadi ketika Tedjowulan dipanggil untuk mendekat dan duduk di posisi kehormatan di depan singgasana raja di lantai Sasono Sewoko. Tedjo dan rombongannya kemudian mendekat menuju lokasi tersebut.

Namun tidak semua kerabat yang mengiringinya diperbolehkan duduk di lokasi tersebut. Salah satu yang dilarang adalah GPH Madukusumo, putra almarhum PB XII yang merupakan pendukung Tedjowulan. GKR Retno Dumilah, kakak kandungnya yang memihak pada kerabat, mempersilakannya duduk di kursi di Paningrat, belakang Sasono Sewoko, bersama para tamu undangan.

Madu menolak sehingga terjadi saling bentak dan saling dorong. Kakak beradik itu adu mulut di hadapan umum yang semenjak pagi datang menunggu acara dimulai. Madu kemudian dirubung kerabat-kerabat lainnya, sehingga setelah cukup lama bersitegang akhirnya dia bersedia duduk di kursi tamu undangan.

Suasana gaduh itu itu tentu saja mengejutkan para tamu undangan yang hadir. Para undangan dari sejumlah kerajaan Malaysia bahkan segera menyingkir dari lokasi keributan. Tak terkecuali Anita Chairul Tanjung, istri pengusaha Chairul Tanjung, karena lokasi keributan peris berada di depannya. Bahkan untuk menghindari kemungkinan terburuk, Ishadi SK, komisari Trans Corp, segera berdiri dari tempat duduknya dan melindungi posisi duduk Anita.

"Tadi Ibu sempat berteriak karena panik dan bahkan meminta pulang meninggalkan keraton. Tetapi setelah ditenangkan akhirnya Ibu bersedia mengikuti acara lagi," ujar Andri, ajudan Anita C Tanjung.

Saat ini peringatan jumenengan masih berlangsung untuk menyaksikan tari Bedhaya Ketawang, tarian sakral Keraton Surakarta yang berdurasi lebih dari 2 jam.



Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.30 WIB

(mbr/try)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
68%
Kontra
32%