BBC Indonesia
Rabu, 13/06/2012 21:30 WIB

Aung San Suu Kyi berkunjung ke Eropa

BBCIndonesia.com - detikNews
Aung San Suu Kyi

Suu Kyi akan berpidato dalam pertemuan tahunan ILO dalam kunjungan ke Swiss.

Pemimpin prodemokrasi Burma Aung San Suu Kyi berkunjung ke Eropa, lawatan pertama sejak 1988, dan dianggap sebagai terobosan besar dalam politik negara itu.

Dia sudah meninggalkan Burma untuk menuju Jenewa, Swiss, Rabu (13/06) dalam kunjungan selama dua minggu yang akan mencakup tujuan Inggris, Irlandia, Prancis, dan Norwegia.

Ia akan menerima Hadiah Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepadanya tahun 1991.

Di Jenewa, Suu Kyi akan berpidato Kamis (14/06) di depan pertemuan tahunan Organisasi Buruh Internasional, ILO.

Suu Skyi mendekam sebagai tahanan rumah selama 24 tahun di Burma.

Kunjungan ke Eropa ini adalah yang kedua ke luar negeri setelah ke Thailand bulan Mei lalu.

Suu Kyi mengatakan kepada para wartawan sebelum meninggalkan Burma Rabu (13/06), kunjungan ini ia harapkan dapat membuka mata negara itu.

"Setiap negara berbeda. Saya tahu bagaimana tertinggalnya (Burma) bila saya tiba di negara lain," katanya.

Kepentingan rakyat

Suu Kyi juga menambahkan bahwa ia "akan melakukan yang terbaik demi kepentingan rakyat."

Suu Kyi menjalani hidupnya dalam dua puluh tahun terakhir sebagai tahanan politik. Namun di tengah reformasi di Burma, ia dibebaskan tahun 2010 dan mendapat kursi di parlemen dalam pemilihan umum sela baru-baru ini.

Keputusannya untuk melawat ke luar negeri dianggap sebagai petanda kepercayaannya pada pemerintah Presiden Thein Sein, yang melakukan reformasi setelah ia berkuasa tahun lalu menyusul pemilu pertama Burma dalam 20 tahun.

Suu Kyi bertolak ke Burma tahun 1988 dari Inggris, untuk mengunjungi ibunya yang sakit. Namun saat itu terjadi unjuk rasa besar dan sejak itu Suu Kyi tidak pernah meninggalkan negaranya.

Suu Kyi sebelumnya selalu menyatakan ia khawatir tidak dapat kembali ke Burma bila ia angkat kaki saat itu.

(bbc/bbc)



ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%