Rabu, 13/06/2012 17:28 WIB
Dirut Gramedia: Kasus '5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia', Kami Teledor
"Kami untuk kasus ini betul-betul teledor. Tenyata ada masalah ini. Begitu tahu, saya langsung mengecek bahasa Inggrisnya dan Indonesianya, ternyata benar memang mengikuti kalimat aslinya. Penerbit bisa saja mengatakan kami tidak salah, karena ini mengikut buku asli. Tapi tidak bisa begitu," kata Dirut PT Gramedia Pustaka Utama, Wandi S Brata.
Berikut ini wawancara wartawan dengan Wandi usai pembakaran ratusan buku karya Douglas Wilson itu di halaman Bentara Budaya, Kompleks Gramedia Pustaka Utama, Palmerah, Jakarta, Rabu (13/6/2012):
Bagaimana isi buku itu?
Jadi buku itu berbicara soal kota Yerussalem yang jadi pusat agama besar. Jadi ketika bicara Islam, penulisnya menggunakan literatur orang Barat. Penulis menjelaskan Alquran itu tidak disusun berdasarkan tematik, tapi panjang pendeknya ayat.
Penulis menyebutkan Nabi Muhammad sebagai perampok dan perompak. Kami menerjemahkan letterlijk, apa adanya.
Itu sebetulnya kewenangan editor. Tapi kewenangan seperti itu harusnya lapor ke manajemen. Coba kalau kotanya Makkah atau Madinah, pasti lebih sensitif.
Kami untuk kasus ini betul-betul teledor. Tenyata ada masalah ini. Begitu tahu, saya langsung mengecek bahasa Inggrisnya dan Indonesianya, ternyata benar memang mengikuti kalimat aslinya. Penerbit bisa saja mengatakan kami tidak salah, karena ini mengikut buku asli. Tapi tidak bisa begitu.
Lalu apa yang dilakukan?
Saya lalu merumuskan permintaan maaf. Karena datangnya dari surat pembaca Republika pada hari Jumat, kemudian dimuat hari Sabtu. Kemudian atas fakta itu bahwa kami minta maaf kami menarik peredaran buku.
Kalau hari Jumat Anda ke toko buku Gramedia, itu tidak akan ditemukan lagi. Tapi kalau di luar toko buku Gramedia, karena kita tidak bisa mengontrol 100 persen, kemungkinan masih ada. Tapi pada hari Sabtu saya tekankan harus tidak ada lagi semuanya.
Berapa banyak yang dibakar?
Hari ini ada 216 eksemplar. Kemarin kami sudah membakar. Anjuran MUI berapa pun yang ada langsung kita proses. Kami sudah bakar di Surabaya dan Pekanbaru dan di sini (Jakarta). Setiap datang buku yang dikirim kembali itu kita bakar.
Yang laku terjual belum diketahui. Nanti kami rekap datanya. Buku itu beredar sejak pertengahan Maret, ditarik dari seluruh Indonesia. Yang sudah dicetak ada 3.000 eksemplar.
Soal tindakan disiplin?
Pasti ada. Satu orang.
Apa yang mendorong Anda menarik buku ini?
Karena pluralitas di Indonesia dengan keragaman agamanya. Itu sikap dasar kami. Kami menghargai pluralitas itu, maka jika ada yang menyinggung kami minta maaf.
Antisipasi?
Kami sudah mempunyai cara kerja yang berlapis. Bahkan korektor terakhir pun, jika menemukan yang sensitif, mestinya membicarakan kepada atasannya. Maka kami teledor. Kesalahan kami memberitakan buku apa adanya dari bahasa Inggris. Buku itu bagus sekali. Ada 5 kota, Yerussalem yang kemudian menjadi kota yang mewarisi iman, Athena kota mewarisi filsafat, Roma yang mewarisi hukum, London yang mewarisi sastra, New York mewarisi trade dan modernisasi.
Kalau kami buang kalimat itu, bagus sekali buku itu. Top markotop.
Bagaimana soal pelaporan FPI?
Itu kita lihat saja nanti.
(vit/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Ini Instruksi SBY Terkait Masalah Gunung Padang dan Lumpur Lapindo
824 share this. -
Uang Fathanah Mengalir ke 20 Wanita, Sefti: Yang Penting Bapak Sudah Tobat
673 share this. -
Puluhan Ribu Warga Palembang Saksikan Jembatan 'Ampera Berwarna'
657 share this. -
Korban Diperkosa Geng Motor Klewang Karena Tak Bayar 'Pajak Preman'
649 share this. -
Rekening Gendut Aiptu LS, Berapa Gaji Normal Polisi Berpangkat Aiptu?
643 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Wawancara Terbaru
Indeks Wawancara ยป
-
Senin, 13/05/2013 12:52 WIB
Ahok Soal Waduk Pluit: Jadi, Siapa yang Langgar HAM?
-
Senin, 06/05/2013 09:41 WIB
Hakim Agung Supandi: Eksekusi Susno, MA Dijadikan Keranjang Sampah
-
Kamis, 02/05/2013 18:03 WIB
Adrianus Meliala Soal Susno: Orang yang Sengaja Melindungi, Bodoh
-
Kamis, 02/05/2013 13:46 WIB
Hakim Konstitusi Arief: Bayar di Bawah UMR, Pengusaha Tak Bisa Dipidana
-
Rabu, 01/05/2013 14:06 WIB
Sekretaris MA: Trolly Rp 10 Juta Harga Perkiraan
-
Minggu, 19/05/2013 18:15 WIB
Ahok: Di Jakarta Ini Susah, Kami Sedikit Keras Aja Dianggap Langgar HAM
-
Minggu, 19/05/2013 15:38 WIB
Sefti: Yang Rp 10 Juta Saja Hubungan Intim, Apalagi yang Ratusan Juta
-
Minggu, 19/05/2013 17:11 WIB
16 RS Swasta Mundur dari KJS, Ahok: Mungkin Mau Untung Besar
-
Minggu, 19/05/2013 17:28 WIB
Anggota Geng Motor Penikam Jurnalis Trans TV Ditangkap Polisi
-
Minggu, 19/05/2013 16:20 WIB
Fathanah Ditahan, Sefti Main Sinetron Striping 100 Episode
-
Minggu, 19/05/2013 18:02 WIB
Polda Metro Resmi Menahan WN Nepal Penabrak Warga Hingga Tewas
-
Minggu, 19/05/2013 17:03 WIB
Sebelum Menikah, Sefti Mengenal Fathanah Sebagai Orang Baik
-
Minggu, 19/05/2013 16:37 WIB
Sefti Pernah Diminta Fathanah Beri Paket ke LHI
-
452 Komentar
-
308 Komentar
-
231 Komentar
-
227 Komentar
-
220 Komentar
-
210 Komentar
-
208 Komentar
-
201 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,833.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Minggu, 19/05/2013 14:14 WIB
Uang Fathanah Mengalir ke 20 Wanita, Sefti: Yang Penting Bapak Sudah Tobat
-
Minggu, 19/05/2013 12:54 WIB
Massa 'Jokowi Presidenku 2014' Aksi di Bundaran HI
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

.gif)





_5.gif)



Namanya Markamah. Semangat perempuan berusia 46 tahun ini tak pernah padam untuk menyalakan lilin pendidikan di tempat-tempat marjinal. Mulai dari memberantas buta huruf di Marunda, mengajar anak-anak PSK di Jakarta Barat hingga kini menjalankan roda sekolah semi permanen yang dikepung pabrik.
Prinsip Sun Tzu dalam bukunya The Art of War, “Pertahanan Terbaik adalah Menyerang” nampaknya sedang diadopsi oleh PKS saat terjepit berhadapan dengan kasus hukum di KPK. Upaya perlawananoleh PKS yaitu melaporkan sejumlah penyidik dan jubir KPK kepada Kepolisian.
