detikcom
Rabu, 13/06/2012 14:57 WIB

Gramedia Bakar Ratusan Buku '5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia'

Ray Jordan - detikNews
Jakarta - Buku '5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia' dianggap telah menghina Nabi Muhammad SAW. PT Gramedia Pustaka Utama selaku penerbit telah menyampaikan permintaan maaf dan menarik buku itu dari peredaran. Kini ratusan buku tersebut dibakar oleh penerbit tersebut.

Pembakaran buku dilakukan di halaman Bentara Budaya, Kompleks Gramedia Pustaka Utama, Palmerah, Jakarta, Rabu (13/6/2012) pukul 14.10 WIB.

Buku itu dibawa dengan menggunakan kardus, ditaruh dalam 3 tong, kemudian disiram bensin. Sesaat kemudian, korek api dinyalakan. Wuss! Api seketika menjilat-jilat lembaran buku karya Douglas Wilson yang telah dialihbahasakan tersebut.

Pembakaran buku itu disaksikan oleh Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin dan 3 pengurus MUI lainnya. Hadir pula Dirut Gramedia Pustaka Utama, Wandi S Brata.

Unsur lalai memang diakui Gramedia Pustaka Utama setelah ada surat pembaca di Republika yang ditulis salah satu warga Muhammadiyah pada Jumat 8 Juni lalu. Kemudian pada 9 Juni 2012, muncul perintah tarik buku tersebut oleh Gramedia Pustaka Utama.

Namun pada 10 Juni masih ada buku yang belum ditarik di toko Gunung Agung di Arion Plaza. Berdasarkan ini salah satu anggota Front Pembela Islam (FPI) yang mengatasnamakan sebagai warga biasa ke Polda Metro Jaya. Menurutnya si pengarang menuliskan kata-kata yang menjurus ke penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Buku tersebut disadur ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit.

Pada Selasa (12/6) kemarin ada pertemuan Dirut Gramedia Pustaka Utama dengan MUI. Pemusnahan buku ini adalah salah satu hasil pertemuan tersebut.
(vit/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel