detikcom
Selasa, 12/06/2012 01:02 WIB

Tuntutan Tak Digubris, Petani Padang Lawas Jahit Mulut

Khairul Ikhwan - detikNews
Petani Jahit Mulut/ Khairul
Jakarta - Aksi mogok makan anggota Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri (KTTJM), Padang Lawas di depan gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut) ternyata tak juga mendapat tanggapan seperti diharapkan. Mereka lantas menjahit mulutnya.

Ada dua petani yang melakukan aksi jahit mulut itu pada Senin (11/6/2012) malam. Masing-masing. Norman Sidabutar (36) dan H Silitonga (32).

Penjahitan itu dilakukan di salah satu klinik kesehatan di Medan. Mereka tidak bersedia menyebut lokasi, sebab berkaitan dengan konsekuensi yang mungkin dihadapi paramedis yang menjahit mulut ketiga petani tersebut.

Setelah mulutnya dijahit, kedua petani itu kembali bergabung dengan rekan-rekannya sesama pemogok makan yang tidur di tenda plastik di depan DPRD Sumut, Jl. Imam Bonjol, Medan.

Irfan Fadilamawi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan yang menjadi pendamping kegiatan aksi menyatakan, aksi jahit mulut dilakukan petani karena ternyata aksi mogok makan tidak mendapat tanggapan dari DPRD Sumut. Padahal aksi itu berlangsung di depan gedung dewan.

”Kita berharap DPRD Sumut merespon persoalan yang dihadapi warga," ujar Irfan.

Aksi mogok makan sudah memasuki hari keenam sejak dimulai 6 Juni lalu. Tercatat sudah tiga peserta mogok makan yang terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kesehatan memburuk.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes warga di Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padang Lawas. Menurut warga, lahan mereka yang luasnya sekitar 1.500 hektar direbut dua perusahaan perkebunan, PT Sumatera Riang Lestari (SRL) dan dan PT Sumatera Silva Lestari
(SSL).

Penyerobotan warga oleh kedua perusahaan itu juga diikuti dengan tindakan membakar rumah dan merusak tanaman perkebunan milik warga. Mereka menuntut DPRD Sumut menuntaskan masalah itu dan melepaskan seorang koleganya yang ditahan Polres Tapanuli Selatan.


(rul/mpr)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel