detikcom
Minggu, 10/06/2012 05:34 WIB

NasDem Modali Dana Kampanye Caleg, Pendidikan Politik Kader Partai Buruk

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Strategi pemenangan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang memodali calegnya Rp 5-10 miliar di Pemilu 2014 dinilai tidak elegan. Selain itu, cara seperti itu berisiko buruknya pendidikan politik bagi kader partai.

Hal tersebut disampaikan pengamat politik UI, Iberamsjah, saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (9/6/2012).

"Cara seperti itu tidak cantik, tidak elegan. Seharusnya partai mengasah kemampuan profesionalitas, keikhlasan kader. Cara itu tidak baik untuk pendidikan politik kader," tegas Iberamsjah.

Meski Nasdem menjamin strategi memberi modal kepada calegnya untuk pemenanagn Pemilu 2014 nanti agar kadernya tidak 'bermain', hal itu tidak serta merta menjadi jaminan mutlak.

"Tidak ada perilaku orang yang dapat dibuat garansi. Dalam teori politik hal itu tidak bisa diperkirakan," jelas Guru Besar UI ini.

Seharusnya, lanjut Iberamsjah, partai tidak menghamburkan uang demi pemenangan kadernya dalam pemilu nanti. Justru yang harus ditumbuhkan partai adalah sikap profesionalitas kader dalam merangkul hati konstituen, tentunya dengan program yang dikendaki rakyat.

"Tidak ada negarawan yang dididik dengan harta. Kejujuran, profesionalitas, ikhlas, itu adalah sikap negarawan," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, NasDem menyediakan dana kampanye sebesar Rp 5-10 milyar kepada setiap calon legislatornya. Menariknya, program insentif dana kampanye tersebut juga terbuka bagi politisi dari partai politik lain yang bersedia berjuang bersama NasDem untuk menghadapi Pemilu 2014.



Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(ahy/ahy)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%