detikcom
Jumat, 08/06/2012 23:48 WIB

Tommy Diduga akan Serahkan Uang Rp 280 Juta ke Pemeriksa Pajak

Fajar Pratama - detikNews
Foto: detikcom
Jakarta - Ternyata ada link yang terpotong ketika penyidik KPK menangkap pegawai pajak Tommy Hindratno di Tebet. Jika tak keburu ditangkap KPK, Tommy diduga akan menyerahkan uang Rp 280 juta ke sejumlah orang pemeriksa pajak yang sudah menunggunya.

Penelusuran detikcom, Tommy diketahui hanya seorang perantara. Jika menilik pada posisinya sebagai Kepala Seksi Evaluasi KPP Sidoarjo, memang tidak relevan dengan transaksi suap yang diduga melibatkan PT Bhakti Investama, yang berdomisili di Jakarta.

Seorang sumber di KPK mengatakan, Tommy memiliki peran memediasi antara James dengan para pemeriksa pajak PT Bhakti Investama di Jakarta. Tommy sengaja datang ke Jakarta untuk menerima uang dari James. Nah, sebelum bertemu dengan James di RM Padang di Tebet, Tommy juga telah memiliki agenda untuk meneruskan uang dari James ke para pemeriksa pajak yang menunggu di tempat lain, di sebuah hotel di wilayah Jakarta.

Akan tetapi skenario itu buyar setelah penyidik KPK menangkap James dan Tommy di RM Sederhana di Tebet pada hari H, Rabu (8/6/2012). Bersama seorang bernama AH, keduanya digiring ke kantor KPK dan belakangan ditetapkan sebagai tersangka. AH yang merupakan ayah Tomy ini belakangan dilepas.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto membenarkan ada pihak lain selain dua tersangka. Namun karena masih dalam pengembangan, dia tidak bisa menceritakan lebih rinci.

"Mengenai adanya pihak lain, saya usulkan jangan ditanyakan dulu karena masih belum bisa diungkapkan ke publik. Kita masih mengembangkan," ujar Bambang.

Pihak Bhakti Investama membantah James merupakan pegawai mereka. Bantahan mereka memang benar. Berdasar informasi yang dihimpun, James merupakan broker yang terkait perusahaan milik Harry Tanusoedibjo, dan tidak tercatat secara resmi di struktur perusahaan.

Wakil Ketua KPK Zulkarnain membenarkan James memang terkait dengan Bhakti Investama. "Ya memang terkait dengan perusahaan itu," ujarnya. Pernyataan ini dibuktikan dengan penggeledahan yang dilakukan pada Jumat petang sampai larut malam.



Simak rangkuman aneka berita penting dan menarik sepanjang hari ini di "Reportase Malam" Pukul 0.30 WIB hanya di TransTV

(fjp/van)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 20/06/2013 17:40 WIB
    Mensos Salim Segaf: Saya Siap Dicopot
    Gb PKS menunggu surat 'cerai' dari Presiden SBY. Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri menghormati apapun keputusan Presiden SBY.
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%