Jumat, 01/06/2012 17:45 WIB
Ladang Pembantaian Bernama Sepakbola Indonesia
Wajah sepak bola kita sepertinya dari waktu ke waktu semakin menuju ke tempat yang semakin gelap. Konflik di tubuh PSSI tidak hanya menimbulkan gugatan dan tidak ada wibawanya PSSI, namun juga melahirkan dua kompetisi sepak bola nasional, IPL dan ISL.
Dampaknya tim nasional yang terbentuk tidak ideal, karena masalah pengakuan kompetisi yang sah dan tidak. Pemain yang dianggap berada pada kompetisi yang tidak diakui oleh PSSI tidak akan dipanggil. Kondisi sepak bola kita semakin parah ketika dalam setiap pertandingan, tidak sekadar muncul keonaran, namun juga menjadi ‘ladang pembantaian’ penonton atau pendukung salah satu kesebelasan.
Kematian 3 orang selepas pertandingan Persija dan Persib, pada Minggu, 27 Mei 2012, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, bukan kasus yang pertama dari ladang pembantaian itu. Kasus serupa pernah terjadi saat final cabang sepak bola SEA Games XXVI, antara Indonesia melawan Malaysia, di mana 2 orang meninggal dunia. Kedua pendukung Indonesia itu meninggal dunia karena terinjak-injak saat antre masuk ke stadion Gelora Bung Karno di sektor XV.
Beberapa waktu yang lalu, ketika hendak mendukung Persebaya yang sedang tandang lawatan dalam LPI melawan Tangerang Wolves, ke Tangerang, Banten, di Lamongan, Jawa Timur, Bonek melakukan tindakan kriminal dengan menggeroyok 2 warga Lamongan yang berakibat satu mengalami kematian, satunya mengalami kritis. Dan masih banyak kasus serupa yang juga berujung kematian. Pendukung PSIS pun pernah mengalami hal yang demikian.
Dari kasus yang terjadi sepertinya aparat yang berwenang dan PSSI tidak pernah belajar untuk bagaimana kasus serupa tidak terjadi. Berbeda dengan FA dan UEFA, badan sepak bola Inggris dan Eropa, di mana setiap kasus yang pernah terjadi segera diinvestigasi agar tidak terulang.
Terbukti, Tragedi Hillsborough dan Tragedi Heysel, tak terulang di Inggris dan Eropa. Kasus itu tak terulang karena baik FA, UEFA, dan FIFA, tegas dalam menegakkan aturan. Akibat Tragedi Heysel, kesebelasan-kesebelasan yang bernaung di FA dilarang bermain di pertandingan internasional selama 5 tahun. Hal inilah yang mendorong FA maupun kesebelasan-kesebelasan di Inggris untuk membina pendukung sepak bola mereka.
Tragedi Hillsborough adalah tragedi yang mengakibatkan kematian para penonton sepak bola dalam pertandingan Sheffield Wednesday FC melawan Liverpool FC, 15 April 1989, di Hillsborough, akibat penuhnya stadion sehingga penonton berdesak-desakan. Akibat peristiwa itu 96 pendukung Liverpool meninggal dunia.
Sedang Tragedi Heysel, 29 Mei 1985, saat final Champions Cup antara Liverpool dan Juventus FC. Korban meninggal terjadi akibat hooligan Liverpool menyerbu tifosi Juventus. Akibat peristiwa ini sebanyak 39 orang meninggal dunia dan 600 lebih lainnya luka-luka.
Kasus-kasus kematian dalam pertandingan sepak bola di Indonesia selalu terulang sebab aparat yang berwajib dan PSSI tak serius menangani kasus yang ada. AFC dan FIFA sepertinya emoh mengurusi sepak bola di Indonesia yang mungkin dianggap sepak bola Indonesia tak ada manfaatnya bagi perkembangan sepak bola di Asia maupun dunia.
Ketika kematian 2 pendukung kesebelasan Indonesia saat final ASEAN Games, ada berita AFC dan FIFA hendak mengusut kejadian itu, tapi sampai sekarang mana laporannya? Mengapa kematian dalam pertandingan sepak bola di Indonesia terulang dan akan terulang lagi apabila pertandingan-pertandingan yang mempertemukan kesebelasan-kesebelasan di mana pendukungnya bermusuhan?
Hal demikian terjadi karena, pertama, malasnya aparat keamanan, polisi, dalam mengusut masalah-masalah yang ada. Polisi selalu berdalih ini merupakan amuk massa sehingga sulit diidentifikasi pelakunya. Akibat malasnya aparat menginvestigasi masalah membuat pendukung sepak bola yang tak bertanggungjawab akan selalu melakukan demikian dengan ramai-ramai. Paling yang dilakukan oleh polisi adalah selepas melakukan kerusuhan, mereka hanya diamankan kemudian diberi pengarahan setelah itu dipulangkan.
Kedua, PSSI tidak tegas atau tidak mau memberi sanksi ketika kesebelasan (klub) yang mempunyai tanggung jawab terhadap tempat pelaksanaan dan pendukungnya bila melakukan tindakan yang melanggar hukum. Hal demikian bisa terjadi karena adanya perkoncoan antara pengurus sepak bola itu dengan orang-orang PSSI. Perkoncoan ini bisa terjadi, misalnya saat Kongres PSSI, pengurus sepak bola memilih dirinya menjadi Ketua Umum PSSI. Timbal baliknya bila klub itu bermasalah, pasti tidak akan dikenakan sanksi oleh PSSI. Karena orang PSSI itu sudah merasa dibantu saat kongres. Contoh, entah karena perkoncoan atau bukan, pernah Bonek dihukum tidak boleh datang ke stadion, namun larangan itu dicabut sebelum masanya habis.
Ketiga, organisasi suporter yang bersangkutan melindungi oknum-oknum yang melakukan tindakan melanggar hukum. Biasanya organisasi suporter itu bila anggotanya melakukan pelanggaran hukum, selalu berdalih kami membela diri atau kami yang diserang duluan. Akibat dari perlindungan inilah yang membuat pendukung sepak bola selalu berulah terus, karena merasa nyaman atas pembelaan yang dilakukan.
Keempat, harga tiket yang murah sehingga semua orang bisa menonton pertandingan sepak bola. Murahnya harga tiket merupakan bagian dari mobilisasi pendukung sepak bola untuk menjadi pemain ke-12. Tak heran bila harga yang murah, stadion tak hanya penuh namum sampai membludak hingga ke pinggir lapangan. Hal demikian tentu bisa menjadi pematik kerusuhan.
Bila harga tiket mahal, tentu orang yang menonton sepak bola bukan orang sembarangan. Bukan sembarangan orang inilah yang membuat penonton bisa jadi akan lebih tertib. Contoh, saat pertandingan antara Internazionale Milan dengan Timnas maupun Liga Selection, penonton tertib, ini bisa jadi karena harga tiket mahal, sehingga tidak setiap orang bisa menonton pertandingan itu. Sehingga alangkah baiknya bila untuk menyeleksi penonton, harga tiket pertandingan dimahalkan, tujuannya untuk menjaga ketertiban dan lebih untuk mengendalikan massa.
*)Ardi Winangun, penggemar sepak bola, tinggal di Matraman, Jakarta Timur.
Seorang polisi diduga bunuh diri dengan cara menembak kepalanya. Simak di "Reportase Malam", pukul 02.08 WIB Hanya di TransTV
(nwk/nwk)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
4.564 Siswa Tak Lulus UN di Sumut
1,987 share this. -
Anggota Komisi X Ragu Kelulusan UN Hasil Kejujuran Siswa
1,045 share this. -
Napi Tato Tweety Jual Sabu: Di Penjara Tak Ada yang Gratis
690 share this. -
Sebut Ahok Cina, Farhat Abbas Jadi Tersangka
683 share this. -
Tabrak Polisi Saat Konvoi UN, 3 Siswi Diburu Hingga ke Kolong Ranjang
620 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru
Indeks Kolom ยป
-
Jumat, 24/05/2013 21:27 WIB
Opini
e-KTP, Kelemahan dan Harapan: Berkaca pada Swedia
-
Rabu, 22/05/2013 10:43 WIB
Bubarkan Partai Korup
-
Senin, 20/05/2013 12:15 WIB
Melihat Arah Ekonomi Jalan Ketiga
-
Rabu, 15/05/2013 10:33 WIB
Politik Bunuh Diri PKS
-
Senin, 13/05/2013 13:28 WIB
Penyitaan Mobil Mewah Elit PKS: Dapatkah Ditolak?
-
Jumat, 24/05/2013 20:30 WIB
Canda Ahok Soal Status Tersangka Farhat Abbas: Masak Lama Amat?
-
Jumat, 24/05/2013 21:55 WIB
Setelan Jas, Mobil & Laptop Bripka Jeremy Dibawa ke RS Polri
-
Jumat, 24/05/2013 20:49 WIB
Keluarga NN datangi Abdul, Ajukan Pernikahan Sebagai Jalan Damai
-
Jumat, 24/05/2013 21:08 WIB
Kenangan Terakhir Istri Bersama Bripka Jeremmy
-
Jumat, 24/05/2013 22:23 WIB
Air Asia Batal Terbang, Penumpang Diinapkan di Hotel Pekanbaru
-
Jumat, 24/05/2013 21:48 WIB
Tetangga Mengenal Bripka Jeremy Manurung Sebagai Orang Baik
-
Jumat, 24/05/2013 21:05 WIB
KPK Launching Baju Baru untuk Koruptor
-
Jumat, 24/05/2013 22:35 WIB
KPU Imbau Caleg Lapor Dana Kampanye, PKS: Ada Aturannya Nggak?
-
548 Komentar
-
365 Komentar
-
230 Komentar
-
222 Komentar
-
215 Komentar
-
205 Komentar
-
203 Komentar
-
145 Komentar
-
Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 17:59 WIB
Busyro: PKS Bukan Partai Malaikat!
-
Jumat, 24/05/2013 17:44 WIB
Mau Malam Minggu, Staf Korlantas Minta 'Tambah Darah' ke Sukotjo
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer
















Made Tantrawan (21), mahasiswa Fakultas MIPA UGM memiliki catatan prestasi yang luar biasa. Ia menjadi langganan juara olimpiade internasional dan kini lulus dengan sempurna. Apa resepnya?
Perlawanan para koruptor memang bervariasi. Sejak pertama kali pemberantasan korupsi dilakukan pada permulaan revolusi di Indonesia, tahun 1957, perlawanan sudah terjadi. Perlawanan para koruptor sudah merupakan hukum besi. Hukum perlawanan adalah hukum kemestian.
