Dokter Pakistan dipenjara bukan karena bantu CIA
Dr Shakeel Afridi dinyatakan bersalah membantu Lashkar-e-Islam.
Dokter Pakistan Shakeel Afridi divonis penjara pekan lalu karena memiliki hubungan dengan kelompok militan terlarang dan bukan karena membantu Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) untuk melacak keberadaan Osama bin Laden, kata dokumen pengadilan.
Dalam surat putusan pengadilan yang diumumkan hari Rabu (30/05), disebutkan dr Afridi dinyatakan bersalah karena mmberikan dukungan dan perawatan medis kepada para anggota kelompok militan Laskar-e-Islam.
Surat putusan menyebutkan ada bukti-bukti bahwa dr Afridi terlibat dengan badan-badan intelijen asing dan perkara itu harus ditangani oleh pengadilan lain.
Semula dilaporkan Shakeel Afridi divonis penjara karena berpura-pura menjalankan program vaksinasi untuk mengumpulkan informasi bagi CIA tentang keberadaan Osama bin Laden.
Perkembangan tak terduga
Dr Afridi dijatuhi penjara selama 33 tahun dalam sidang tertutup berdasarkan sistem kehakiman kesukuan Pakistan. Keluarganya menyatakan dakwaan pengkhianatan terhadap dr Afridi tidak memiliki landasan.Wartawan BBC di Islamabad Orla Guerin mengatakan dokumen pengadilan yang baru saja diterbitkan merupakan perkembangan tak terduga dalam kasus ini.
Apapun alasan resmi vonis terhadap Shakeel Afridi, lapor Guerin, banyak kalangan di Pakistan yakin bahwa dokter tersebut dipenjara karena membantu melacak keberadaan Osama bin Laden.
Muncul spekulasi bahwa penerbitan putusan pengadilan dilakukan di bawah tekanan dari Washington.
Jumlat lalu, panel Senat Amerika Serikat memotong bantuan sebesar US$33 juta kepada Pakistan sebagai reaksi atas pemenjaraan dr Afridi, US$1 juta per setiap tahun hukuman penjara.
Menurut para pejabat Amerika, dr Afridi memainkan peran penting dalam melacak pemimpin al Qaida dan menyerukan keras agar dia dibebaskan.
Hingga belum belum jelas apakah DNA Osama bin Laden atau anggota keluarganya berhasil dikumpulkan, atau apakah dokter tersebut mengetahui identitas sasaran yang dituju.
Bin Laden ditembak pasukan khusus Amerika di Abbottabad, Pakistan pada Mei 2011.
(bbc/bbc)
-
Minggu, 19/05/2013 13:27 WIB
500 Benda Seni Dicuri Tak Ketahuan Rimbanya Pasca Sang Kolektor Mangkat
-
Minggu, 19/05/2013 13:24 WIB
Ayah Wamenlu Suriah Diculik
-
Minggu, 19/05/2013 10:37 WIB
Politisi perempuan pakistan ditembak
-
Sabtu, 18/05/2013 23:06 WIB
Perempuan Saudi taklukkan puncak Everest
-
Sabtu, 18/05/2013 18:04 WIB
Taiwan tarik penyelidik dari Filipina
-
Senin, 20/05/2013 03:42 WIB
Ini Pengakuan Komandan Milisi yang Memakan Jantung Tentara Suriah
-
Senin, 20/05/2013 03:00 WIB
Kehabisan Bensin, Pencuri Motor Dibekuk Polisi Usai Beraksi
-
Senin, 20/05/2013 02:18 WIB
Banjir Masih Genangi Citraland Grogol, Lalin Padat Merayap
-
Senin, 20/05/2013 03:36 WIB
Diduga Mengantuk, Nissan X-Trail Kecelakaan di Tol Dalam Kota
-
Senin, 20/05/2013 04:11 WIB
Pencopet Tewas Tertabrak Busway usai Beraksi di Bogota
-
Minggu, 19/05/2013 15:38 WIB
Sefti: Yang Rp 10 Juta Saja Hubungan Intim, Apalagi yang Ratusan Juta
-
Senin, 20/05/2013 00:27 WIB
Wanita Muda di Semarang Ditemukan Tewas dengan Luka di Tubuhnya
-
Minggu, 19/05/2013 11:05 WIB
Ketika Ketua Komnas HAM Ditanya Andai Jadi Jokowi Soal Waduk Pluit
-
345 Komentar
-
232 Komentar
-
228 Komentar
-
210 Komentar
-
209 Komentar
-
208 Komentar
-
201 Komentar
-
173 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS
- Rp 2,833.000
- Rp .000
-
Minggu, 19/05/2013 18:02 WIB
Polda Metro Resmi Menahan WN Nepal Penabrak Warga Hingga Tewas
-
Minggu, 19/05/2013 17:28 WIB
Aiptu Labora Dijerat Pasal Pencucian Uang dan Undang-Undang Kehutanan
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks

.gif)
Namanya Markamah. Semangat perempuan berusia 46 tahun ini tak pernah padam untuk menyalakan lilin pendidikan di tempat-tempat marjinal. Mulai dari memberantas buta huruf di Marunda, mengajar anak-anak PSK di Jakarta Barat hingga kini menjalankan roda sekolah semi permanen yang dikepung pabrik.
Prinsip Sun Tzu dalam bukunya The Art of War, “Pertahanan Terbaik adalah Menyerang” nampaknya sedang diadopsi oleh PKS saat terjepit berhadapan dengan kasus hukum di KPK. Upaya perlawananoleh PKS yaitu melaporkan sejumlah penyidik dan jubir KPK kepada Kepolisian.

