detikcom
Selasa, 29/05/2012 09:59 WIB

Menari Bersama di Pernikahan, 4 Wanita & 2 Pria Pakistan Dihukum Mati

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Ilustrasi
Islamabad, - Hanya karena menyanyi dan menari di pesta pernikahan, empat wanita dan dua pria Pakistan dijatuhi hukuman mati. Hukuman ini dijatuhkan karena mereka menyanyi dan menari bersama-sama dalam satu ruangan.

Seperti dilansir oleh Sydney Morning Herald, Selasa (29/5/2012), majelis ulama setempat mengeluarkan keputusan tersebut setelah rekaman video yang menunjukkan keenam warga Pakistan tersebut menyanyi dan menari bersama menyebar di masyarakat. Video tersebut diambil oleh seseorang dengan telepon genggam dalam acara pernikahan di desa terpencil di Distrik Kohistan, sekitar 176 km dari Islamabad, ibukota Pakistan.

Otoritas Pakistan telah membenarkan hal tersebut. Menurut mereka, majelis ulama setempat memerintahkan agar 6 orang tersebut dihukum karena menyanyi dan menari bersama di Desa Gada. Padahal, di wilayah tersebut berlaku peraturan adat istiadat yang memisahkan pria dan wanita dalam pesta pernikahan.

"Ulama setempat mengeluarkan keputusan untuk menghukum mati empat wanita dan dua pria yang ada dalam video tersebut," ujar Kepala Kepolisian setempat, Abdul Majeed Afridi.

"Diputuskan bahwa prialah yang akan dihukum mati terlebih dulu, tapi mereka melarikan diri jadi saat ini yang wanita masih aman. Saya telah mengirim tim khusus untuk menangkap mereka dan saya sedang menunggu kabar lebih lanjut," imbuhnya, sembari menambahkan keempat wanita yang dihukum mati saat ini menjadi tahanan rumah.

Lebih lanjut, Afridi menyebut, kasus ini sebagai bentuk pertikaian sengit antara dua suku. Dia sendiri mengakui, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa para pria dan wanita tersebut berbaur dalam satu ruangan saat pesta pernikahan tersebut.

"Mereka semua terlihat terpisah dalam video. Saya telah melihat videonya di telepon genggam saya sendiri. Video itu menunjukkan empat orang wanita bernyanyi dan seorang pria menari secara terpisah dan kemudian terlihat seorang pria lainnya tengah duduk dalam adegan yang terpisah," terangnya.

"Ini adalah pertikaian antar suku. Video ini telah direkayasa untuk memfitnah salah satu suku," tandas Afridi.

Diketahui bahwa menurut catatan Komisi HAM Pakistan, sedikitnya 943 perempuan dibunuh karena dianggap mencemarkan nama baik dan kehormatan keluarga. Statistik ini menunjukkan bahwa kaum perempuan di Pakistan masih diperlakukan seperti layaknya warga kelas dua.


Penimbunan BBM gunakan macam cara untuk menimbun bbm.Saksikan penelusurannya di "Reportase Investigasi" pukul 16.45 WIB, hanya di Trans TV.

(nvc/ita)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Rabu, 22/05/2013 08:47 WIB
      Salim Segaf Galau Melihat Kondisi PKS
      Gb Salim Segaf Al Jufri, anggota Majelis Syuro PKS, mengaku prihatin dengan kondisi partainya saat ini. Salim mengingatkan semua kader PKS kembali berpolitik bersih dan tidak berurusan dengan kasus korupsi.
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    58%
    Kontra
    42%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel
    • Rp .000
    • Rp .000