detikcom
Kamis, 24/05/2012 12:39 WIB

Hidayat Nurwahid: Survei Indo Barometer Tentang Pilkada, Lucu!

Ferdinan - detikNews
Jakarta - Hasil survei yang dikeluarkan lembaga riset Indo Barometer tentang pilkada DKI kemarin dinilai sejumlah pihak cukup mengejutkan. Calon Gubernur DKI Jakarta, Hidayat Nurwahid, melihat hasil survei tersebut terkesan aneh dan lucu.

"Survei yang kemarin di-launching itu saya agak lucu juga. Di situ disebut bahwa Foke dan Nara diberi nilai tertinggi karena dipersepsikan sebagai yang berpengalaman dan berkinerja," kata Hidayat kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (24/5/2012).

Menurut Hidayat tolok ukur prestasi Foke diragukan. Alasannya, Foke belum menunjukkan perbaikan tata kelola Jakarta. Dia merujuk hasil audit keuangan Pemprov DKI yang mendapat nilai wajar dengan pengecualian.

Dia membandingkan hasil audit BPK atas lembaga yang pernah dipimpinnya yakni MPR. Hidayat menjabat sebagai Ketua MPR periode 2004-2009. Tak hanya itu, Hidayat juga menyinggung pecah kongsi Foke dengan wakilnya Nachrowi Ramli.

Sementara Hidayat ketika memimpin MPR tetap rukun tiga wakil ketuanya hingga masa jabatan berakhir. Baginya pengalaman di MPR jadi modal kuat memimpin Ibukota.

"Artinya mana yang lebih baik? Bagi yang mengerti tentang kinerja akan lebih mudah katakan bahwa lebih baik (hasil audit keuangan) wajar tanpa pengecualian. Survei itu jadi aneh. Dengan alasan berpengalaman dan punya kinerja, Foke dapat 49 persen, survei itu jadi agak lucu," pungkasnya.

(fdn/rmd)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel