Selasa, 22/05/2012 17:37 WIB

Reisa Kartika, Putri Lingkungan yang Ikut Identifikasi Korban Sukhoi

M Rizki Maulana - detikNews
Jakarta - Bagi Reisa Kartika Sari, mengidentifikasi jenazah bukan hal yang menakutkan. Puteri Lingkungan 2010 ini telah terbiasa menjalankan tugasnya sebagai anggota Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri.

Reisa bergabung dalam Tim DVI Mabes Polri sejak tahun 2006. Ia kini dilibatkan mengidentifikasi jenazah korban Sukhoi SuperJet 100.

Perempuan kelahiran Malang 24 Desember 1985 ini mengaku sempat mengalami sejumlah kesulitan dalam mengindentifikasi korban Sukhoi.

"Kesulitannya dalam identifikasi itu karena dalam proses evakuasi dari sana, itu memakan waktu yang lama. Selain itu, kondisi jenazah yang tidak utuh juga membuat kerja kami menjadi lebih berat. Namun dengan kerja sama kita, mungkin 60 orang, akhirnya bisa kita selesaikan semua," kata Reisa yang terbalut seragam DVI di RS Polri Kramatjati, Jakarta, Selasa (22/5/2012).

Selain itu, kata dia, kesulitan lainnya memberikan pengertian kepada keluarga korban mengenai kondisi korban. Karena sebagian ada yang menerima, dan sebagian besar ada yang tidak bisa menerima kondisi jenazah keluarga mereka.

"Untungnya, saat saya pernah mengikuti Putri Lingkungan, itu diajarkan bagaimana menghadapi orang banyak atau public speaking sehingga bisa membantu saya memberikan pengertian kepada keluarga korban," ujar perempuan berkulit putih dan berpostur tinggi ini.

Ia juga mengaku biasa-biasa saja melaksanakan tugas mengidentifikasi jenazah.

"Kalau saya sih biasa saja. Karena biar pun mereka sudah berbentuk bodyparts mereka juga manusia dan mereka mempunyai keluarga yang tentu menyayangi mereka sehingga kita tetap memperlakukan mereka sebagai jenazah utuh, walaupun tidak utuh," tutur perempuan berambut pirang.

"Saya dulu waktu belajar kedokteran dari semester II sudah diajarkan masuk ke kamar mayat, jadi sudah biasa saja, tidak ada yang aneh. Memang saat pertama, saya kaget saat kuliah. Tetapi karena sudah sering, sudah seperti tahan saja," lanjut alumnus Universitas Pelita Harapan tahun 2003 ini.

Reisa mengaku juga pernah mengidentifikasi jenazah teroris bomber Ritz Carlton, JW Marriott, dan gembong teroris Noordin M Top. "Saya sejujurnya tidak setuju dengan terorisme," ujar adik pengacara Dea Tunggaesti ini.

(aan/nvt)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 21/05/2013 11:43 WIB
      15 Tahun Reformasi
      Emha Ainun Nadjib: Reformasi Itu Omong Kosong
      Gb Budayawan Emha Ainun Nadjib berada di pusaran arus perubahan kekuasaan 1998. Dia adalah salah satu tokoh yang dengan lantang meminta Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi reformasi yang terjadi sampai saat ini, kata dia, palsu belaka. Mengapa?
    ProKontra Index »

    Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal

    Polisi sangat blak-blakan mengungkap kasus rekening gendut yang dimiliki oleh Anggota Polres Raja Ampat, Papua, Aiptu Labora Sitorus. Komisioner Kompolnas, Hamidah Abdurahman mengatakan Polri juga harus terbuka dan berani jika itu menyangkut rekening para jendral. Bila Anda setuju dengan pernyataan Hamidah Abdurahman, pilih Pro!
    Pro
    100%
    Kontra
    0%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel