Demi Memori Terakhir, Keluarga Korban Sukhoi Aan Tak akan Lihat Jasad

Demi Memori Terakhir, Keluarga Korban Sukhoi Aan Tak akan Lihat Jasad

Ray Jordan - detikNews
Senin, 21 Mei 2012 11:33 WIB
Demi Memori Terakhir, Keluarga Korban Sukhoi Aan Tak akan Lihat Jasad
Jakarta - RS Polri Soekanto memberikan kesempatan kepada keluarga korban Sukhoi SuperJet 100 untuk melihat jasad korban. Namun keluarga korban Capt Aan Husdiana memilih untuk tidak melihatnya.

"Rencana, hari Selasa ini kita diberikan izin untuk boleh melihat. Tapi kami memutuskan untuk tidak melihatnya karena ingin punya memori terakhir," jelas putra sulung Aan, Angga Tirta.

Hal itu dikatakan Angga usai upacara dan syukuran bersama Marinir dan Mapala UI di Mako Brigif-2 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (21/5/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angga kemudian menuturkan kembali kenangan saat mencari ayahnya di Lereng Gunung Salak. Saat itu atas keinginan pribadinya, Angga nekat mencari ayahnya, tanpa perbekalan.

"Kemudian informasi yang saya terima itu kan kalau naik hanya 2-3 jam. Jadi saya naik dengan pakaian seadanya. Ternyata lebih dari 3 jam," jelas Angga.

Dalam perjalanan di hutan, dia bertemu dengan tim SAR dari Marinir. Setelah tahu dirinya merupakan anak dari salah satu korban Sukhoi, tim Marinir itu langsung memberikan bantuan.

"Setelah mereka mengetahui bahwa saya dari pihak keluarga korban, lantas mereka memberikan saya ransum. Kemudian memfasilitasi. Saya diturunin, dinaikin, dibakarin api unggun, pokoknya dibimbinglah. Jadi buat saya pribadi yang belum pernah naik gunung sangat respect dan berterima kasih," tuturnya.

Komandan Peleton Marinir di tim yang ditemuinya itu langsung menyuruh Angga untuk melakukan 'komunikasi' dengan ayahnya. Angga kemudian langsung melakukan salat.

"Terus saya tanya 'Papa di mana?'. Kemudian seperti ada bisikan yang bilang 'Aku di lereng'. Nah feeling itu begitu kuat. Kemudian saya bilang ke Danton-nya feeling saya mengatakan kalau ayah saya berada di lereng," jelasnya.

Lantas Angga ditemani Marinir bergerak ke lereng dan berhasil menemukan identitas ayahnya.

"Saat di TKP saya menemukan SIM ayah saya, dan itu sudah cukup buat saya. Lantas saya turun gunung tanpa alas kaki karena alas kaki saya jebol. Pasukan Marinir masih tidur di lereng," tuturnya.

Kini, meski memilih tidak melihat jasad ayahnya, rencana untuk menyalatkan dan memakamkan jenazah ayahnya pun sudah disiapkan. "Rabu, mau disalatkan di masjid Al Bakrie Taman Rasuna. Lalu akan dimakamkan secepatnya di pemakaman Al Azhar di Karawang, dekat San Diego Hills," tutur Angga yang berkemeja batik ungu lengan pendek itu.

(nwk/)


Berita Terkait