detikcom
Jumat, 11/05/2012 14:54 WIB

Jatuhnya Sukhoi Bangkitkan Kenangan Akan Airbus A320

Rita Uli Hutapea - detikNews
Foto: AFP
Moskow, - Jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 menimbulkan berbagai pertanyaan atas penyebab tragedi ini. Adalah hal langka bagi sebuah pesawat baru untuk jatuh. Namun hal ini pernah terjadi beberapa tahun silam.

Pesawat Airbus 320 pernah jatuh saat demo terbang pada tahun 1988 silam. Sebanyak tiga orang tewas dan 50 orang lainnya luka-luka dalam insiden yang terjadi saat event airshow di Habsheim, Alsace, Prancis pada 26 Juni 1988. Pesawat Airbus tersebut jatuh dan terbakar saat demo terbang dalam acara pagelaran udara tersebut.

Hasil penyelidikan kemudian memastikan bahwa penyebab kecelakaan adalah kesalahan pilot. Para penyidik tidak menemukan bukti adanya gangguan atau kerusakan mesin pesawat.

Kejadian nahas itu tidak berdampak buruk bagi Airbus, raksasa produsen pesawat asal Prancis tersebut. Terbukti Airbus A320 kemudian menjadi salah satu model pesawat paling laris di dunia.

Namun menurut para analis, Sukhoi kemungkinan tak akan semujur Airbus. Tragedi ini akan menimbulkan kesulitan untuk memasarkan Sukhoi Superjet 100 ke pasaran global. Apalagi musibah ini terjadi di saat industri penerbangan Rusia tengah berusaha untuk bangkit.

"Industri aviasi kita pada dasarnya sedang koma," kata Roman Gusarov, editor Avia.ru, jurnal aviasi online Rusia seperti dilansir Russia Today, Jumat (11/5/2012).

"Industri aviasi kita telah mempertaruhkan segalanya untuk pesawat ini, dan kini di saat kita baru saja mulai memproduksinya, bencana ini terjadi," ujarnya.

"Bagaimanapun ini pukulan berat bagi imej industri aviasi kita. Bahkan sekalipun investigasi menunjukkan bahwa pesawat tidak bermasalah, dan bahwa penyebabnya adalah kesalahan pilot atau kondisi cuaca yang buruk, hanya para pakar yang akan memperhatikan ini. Sementara yang diperhatikan dunia hanyalah pesawat baru Rusia jatuh," cetusnya.

Namun pemerintah Rusia optimis akan masa depan Sukhoi Superjet 100. "Pesawat ini punya masa depan hebat, menjanjikan dan kompetitif," tegas Pjs Wakil Presiden (Wapres) Rusia Dmitry Rogozin kepada para wartawan di Moskow, Rusia.

Dikatakan Rogozin, dirinya pernah terbang dengan pesawat jenis Sukhoi ini pada Februari lalu di Novosibirsk, Rusia. Menurut Rogozin, pesawat tersebut merupakan pesawat modern yang bagus, bisa diandalkan.

"Selama penerbangan dari Novosibirsk menuju Moskow, saya berada di kokpit dan pilot menjelaskan pada saya mengenai kelebihan jet tersebut. Pilot punya opini bagus soal pesawat ini," tuturnya.

Seperti diketahui, pesawat Sukhoi Superjet 100 melakukan joy flight dari Bandara Halim Perdana Kusuma dalam rangka promosi kepada konsumennya. Setelah berhasil pada penerbangan pertama, pesawat yang mengangkut penumpang dari berbagai kalangan termasuk lima wartawan itu, hilang kontak dan ditemukan di kawasan gunung Salak pada Kamis (10/5/2012) pagi oleh tim SAR.



Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV

(ita/nrl)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 17/06/2013 18:39 WIB
    Dirjen KA Tundjung Inderawan Bicara Mental Penumpang dan Seramnya MRT Subway
    Gb Seraya membangun infrastruktur seperti stasiun dan rel kereta api, Kemenhub juga mengkhawatirkan mental penumpang kereta yang belum tertib. Apalagi, teknologi maju kereta bawah tanah bakal dibangun di Jakarta. Kekhawatiran timbul bila perilaku penumpang KA masih timpang dengan teknologi transportasi.
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
35%
Kontra
65%