BBC Indonesia
Senin, 07/05/2012 14:53 WIB

Ulama Malaysia haramkan demonstrasi

BBCIndonesia.com - detikNews

Pemerintah mencurigai aksi demonstrasi bertujuan menggulingkan pemerintah

Ulama Malaysia telah mengeluarkan fatwa melarang umat muslim di negara itu melakukan demonstrasi.

Fatwa ini terbit tak lama setelah Perdana Menteri Najib Razak mengatakan unjuk rasa adalah upaya untuk menggulingkan pemerintah menjelang pemilihan umum.

"Membuat kerusuhan, menyebabkan gangguan dan merusak properti publik semua dilarang dalam Islam," kata ketua Komite Fatwa Nasional Abdul Shukor Husin pada media setempat seperti dikutip kantor berita AFP.

"Hal ini juga berlaku bagi segala niat untuk menggulingkan pemerintah terpilih dengan mengorganisir demonstrasi," kata dia.

Puluhan ribu orang turun ke jalan di ibukota Kuala Lumpur 28 April lalu menuntut pemilu bersih.

Mereka menerobos barikade dan terlibat bentrok dengan polisi yang menggunakan gas air mata dan air kimia untuk membubarkan massa. Lebih dari 500 orang ditangkap dalam kerusuhan itu.

Pemilu

Najib diperkirakan akan mengumumkan pemilu di bulan Juni yang diprediksi akan menjadi ajang persaingan ketat antara pemerintahan koalisi dan oposisi yang dipimpin Anwar Ibrahim.

Namun sejumlah analis mengatakan pemilu kemungkinan akan diundur menyusul aksi unjuk rasa April lalu.

Najib mengatakan aksi di Dataran Merdeka, yang didukung kelompok-kelompok oposisi, memiliki tujuan terselubung.

"Mereka ingin mengambil alih Dataran Merdeka, bukan untuk berunjuk rasa selama dua atau tiga jam, tetapi dua atau tiga hari atau bahkan lebih lama lagi untuk menunjukkan bahwa pemerintah tidak bisa mengendalikan situasi," kata Najib pada kantor berita Bernama.

"Mereka ingin menjadikan Dataran Merdeka seperti Lapangan Tahrir di Mesir," kata dia.

Kepala polisi federal Ismail Omar mengatakan pada surat kabar Star bahwa polisi telah memulai penyelidikan untuk mencari dalang di balik upaya "kudeta" itu.

(bbc/bbc)



Berita Terbaru Indeks Berita ยป
  • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
    50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
    Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
    Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra Index »

Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
Pro
46%
Kontra
54%
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel