Minggu, 06/05/2012 14:50 WIB
Gara-gara Kena Gempa, Yudhi Hernawan Ciptakan Alat Seismik Portabel
Yudhi & Waspada Meter ciptaannya (FB)
Yudhi menjadi korban gempa karena dia menetap di Klaten, tak jauh dari pusat gempa. Pada tahun 2010 dia menjadi relawan Merapi.
"Nah sesudah Mbah Maridjan kena awan panas, dari situ teman-teman memantau perkembangan dari HT (handy talkie). Dari situ saya penasaran, bagaimana caranya membuat deteksi getaran, kok bisa secanggih itu menangkap getaran dari jauh," jelas Yudhi ketika berbincang dengan detikcom, Minggu (6/5/2012).
Saat itulah Yudhi memiliki ide membuat alat pendeteksi getaran gempa. Apalagi, minat untuk mempelajari getaran gempa itu mempertemukannya dengan teman-teman berminat sama dalam Komunitas Pemerhati Seismik Indonesia (KPSI). Atas bimbingan dari teman-temannya dalam KPSI pula, Yudhi dibantu mewujudkan ide untuk membuat alat ini.
Cara kerja alatnya, Yudhi menjelaskan, memanfaatkan gaya gerak listrik (GGL) seperti bila bermain kumparan dan magnet, keluarannya akan menghasilkan listrik seperti pada dinamo.
Nah di atas magnet dan kumparan ini, Yudhi menggantungkan suatu pegas. Dalam keadaan normal, pegas memang terlihat diam. Namun pegas itu bisa mendeteksi getaran sehalus apapun, seperti kendaraan lewat atau gempa bumi. Getaran kecil yang ditangkap pegas itu kemudian diperbesar arusnya memakai pre-amplifier. Kemudian getaran seismik itu bisa dipantau menggunakan multimeter atau VU LED Buzzer dengan bunyi, sebagai pertanda adanya getaran gempa.
Lantas, bagaimana bisa membedakan getaran itu suara kendaraan lewat atau gempa?
"Ada polanya, ada bedanya kalau ada motor lewat atau gempa. Kalau motor lewat dari dekat itu suaranya panjang, nggak terputus, 'teetttttttttt'. Kalau gempa ada polanya, 'teettttt-tit-tit-tit-tit-tit'," jelas pemuda kelahiran Klaten, 26 Juni 1991 ini.
Dia menambahkan, konsep alat buatannya ini cara kerjanya mirip seismometer yang dimiliki Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Alat ini bisa bekerja baik ketika ditanam di dalam tanah. Semakin solid tanah dan batuannya semakin baik alat itu bekerja.
"Syaratnya, alat ini harus dipasang yang jauh dari aktivitas elektromagnet, seperti adaptor, TV, HP, atau travo besar, itu kan gaya lilitannya besar. Tapi alat pembaca outputnya bisa dibawa ke dalam rumah," jelas Yudhi.
Beberapa model alat yang diciptakan Yudhi sudah dipasang 3 unit di Padang. 3 spot alat di
Padang menangkap kenaikan seismik beberapa hari sebelum kejadian gempa Aceh, tremor seismik terus terpantau oleh alat itu. Yudhi juga memasang alat ini di belakang rumahnya sendiri.
Hasilnya? "Alhamdulillah bisa mendeteksi gempa Aceh 8 SR, dan gempa Sukabumi 5,8 SR. Sampai Tongas, Filipina, hingga Sumatera, Sulawesi, Alhamdulillah sudah bisa. Diujicobakan di Merapi yang ada peningkatan aktivitasnya juga sudah bisa mendeteksi," jelas dia.
Alat sensor getaran ini akhirnya diberi nama dengan Waspada Meter. Selain di Padang, alat ini juga dipasang di Yogya, Riau, dan akan dipasang di Bengkulu dan Aceh.
Bentuk alat Waspada Meter saat belum disempurnakan sebenarnya belum sesempurna ini. Namun melewati beberapa perbaikan, alat Waspada Meter ini akhirnya bisa lebih disederhanakan, menjadi portabel dan bisa dibawa ke mana-mana.
Berapa modal membuat alat ini? "Murah, dulu awalnya kan punya pemikiran kita bisa memantau dan mendeteksi gempa jarak jauh, dengan alat murah sederhana yang bahannya ditemukan di sekitar kita, biaya (pembuatan) tidak sampai Rp 200 ribu," jelas mahasiswa semester 6 Universitas Widya Darma, Klaten, Jawa Tengah, ini.
Melaui kakaknya yang bekerja di BMKG, Yudhi mengetahui bahwa tanggapan dari BMKG pun positif dan mengimbau Yudhi untuk mengembangkan alat ini. Yudhi sudah memperagakan alatnya di depan Staf Khusus Presiden bidang Penanggulangan Bencana Alam dan Sosial Andi Arief. Andi Arief akan membantu pendaftaran hak paten di Kemenkum HAM.
"Besok Senin mau diuruskan hak paten. Ini kan untuk kegiatan sosial kemanusiaan ya, belum terpikirkan memperjualbelikan alat ini. Membuatnya mudah kok. Sebenarnya saya nggak terpikirkan sampai segitunya, dan nggak terpikirkan responsnya sampai sebegitunya," jelas Yudhi.
Meski pintar ngoprek, bukan berarti Yudhi merupakan mahasiswa Fakultas Teknik. "Saya mahasiswa akuntansi. Saya dulu sekolahnya (di SMA) IPA dan memang suka sains," ujarnya sambil terkekeh.
Putra pertama dari dua bersaudara pasangan Srianto dan Sri Sumarni ini berharap alat ciptaannya ini bisa berguna dan menjadi peringatan dini gempa bumi.
"Kita kan berada di daerah rawan bencana ya. Saya prihatin, tempat saya sendiri dekat dengan sesar gempa. Berharap alat ini bermanfaat buat masyarakat dan dapat digunakan seoptimal mungkin untuk penyelamatan diri (gempa bumi)," tutur pemuda yang hobi bermain alat musik organ ini.
Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore", Pukul 16.30 WIB, Hanya di TRANS TV
(nwk/nrl)
Baca Juga
Twitter Recommendation
-
Harga BBM Naik, Tarif Angkutan DKI Diusulkan Naik 30 %
587 share this. -
Demo Hingga Tengah Malam, Mahasiswa Bentrok dengan Polisi
566 share this. -
Siap-siap! Hari Ini Air PAM di Depok Bakal Mati 4 Jam
531 share this. -
Pertama di Indonesia! Pemakai Diampuni karena Ungkap Mafia Narkoba
495 share this. -
Mengerikan! 9 Siswa di Nigeria Ditembak Mati Saat Ujian
348 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Tokoh Terbaru
Indeks Tokoh ยป
-
Jumat, 14/06/2013 17:23 WIB
Ayesha Farooq, Pilot Jet Tempur Perempuan Pertama di Pakistan dan Berjilbab
-
Jumat, 07/06/2013 13:33 WIB
Ahmad Redi, Peraih Doktor Hukum Tercepat dalam Sejarah FHUI
-
Rabu, 05/06/2013 10:06 WIB
Tim Samaras, Pengejar Tornado yang Pergi dalam Dekapan Puting Beliung
-
Senin, 03/06/2013 17:26 WIB
Gresi Tifani, Putri Papua yang Bakal Bawa Pesan Persatuan ke Inggris
-
Kamis, 30/05/2013 20:02 WIB
Christy Zakarias, Mengajar Bahasa Inggris Gratis dan Sabet Diana Award
-
Rabu, 19/06/2013 13:07 WIB
Ini 5 Penampakan Aksi 'Tikus' di Bandara
-
Rabu, 19/06/2013 14:22 WIB
Saling Lontar Sindiran, Kubu Tifatul dan Anis Matta Adu Kuat di PKS?
-
Rabu, 19/06/2013 14:08 WIB
Celoteh Jokowi tentang Kecelakaan hingga Jarang Berbaju Lengan Pendek
-
Rabu, 19/06/2013 14:17 WIB
Banyak Dihujat di Twitter, Fahri Hamzah Anggap Sebagai Latihan
-
Rabu, 19/06/2013 14:25 WIB
Polri akan Akomodir Polwan yang Ingin Berjilbab
-
Rabu, 19/06/2013 12:38 WIB
Perempuan Asal Lembata yang Dimakan Buaya Hamil 5 Bulan
-
Rabu, 19/06/2013 13:16 WIB
Rumor 'Soekarno Kecil' Disiapkan Jadi Penerus Tahta Mega
-
Rabu, 19/06/2013 14:20 WIB
Effendi Simbolon Buka-bukaan Soal Prospek Politik Prananda dan Puan
-
429 Komentar
-
359 Komentar
-
291 Komentar
-
260 Komentar
-
229 Komentar
-
210 Komentar
-
203 Komentar
-
198 Komentar
-
Rabu, 19/06/2013 14:22 WIB
Penerus Mega di PDIP
Effendi Simbolon Buka-bukaan Soal Prospek Politik Prananda dan Puan
Prananda dan Puan Maharani disebut-sebut disiapkan menjadi penerus tahta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Anak kedua Mega, Prananda (43), diyakini sebagia pembawa ideologi kakeknya, Bung Karno.
ProKontra
Index »
Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019
Pro
Kontra
MustRead
close
-
Rabu, 19/06/2013 12:01 WIB
Makam Sabeni Sempat Numpang di Ruang Tamu Sebelum Dipindah ke Karet
-
Rabu, 19/06/2013 11:39 WIB
Pesan Mahfudz untuk Tifatul Cs: Santai Aja Bro
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer




_10.gif)





_5.gif)






_4.gif)
Mudik selalu dirindukan bagi setiap perantau. Tak terkecuali bagi Dirjen Perhubungan Darat Soeroyo Alimoeso. Beliau curhat tentang dirinya yang tidak pernah mudik dan susahnya mengatur pemudik.
Giatnya Pemerintah memperjuangkan munculnya regulasi (Peraturan Menteri Perindustrian) tentang Low Cost and Green Car (LCGC) bersama-sama DPR-RI membuktikan bahwa Pemerintah sekarang tidak pro angkutan umum.

