detikcom
Kamis, 26/04/2012 11:43 WIB

TNI AD: Kami Diserang Brimob, Tidak Ada Bentrokan di Gorontalo

Rivki - detikNews
ilustrasi (dok.detikcom)
Jakarta - TNI AD dan Mabes Polri punya versi yang berbeda tentang insiden Brimob vs Kostrad di Gorontalo akhir pekan lalu. TNI AD menegaskan tidak ada bentrokan, yang ada anggota TNI AD yang tidak bersenjata diserang dan tidak melakukan perlawanan. Sedangkan polisi menembakkan peluru ke arah personel TNI AD.

"Saya ulangi lagi, tidak ada baku tembak, yang ada penembakan. Karena anggota kita tidak ada perlawanan dan tidak ada yang bersenjata," kata Kepala Dinas penerangan TNI AD Brigjen TNI Pandji Suko dalam konferensi pers di Ruang Dispen TNI AD di Jalan Abdul Rahman Saleh, Jakarta Pusat, Kamis (26/4/2012).

Dalam peristiwa itu, prajurit TNI AD sama sekali tidak melawan. Pandji menegaskan, dalam kejadian tersebut tidak ada baku tembak antara anggota Kostrad dengan anggota Brimob.

"TNI AD menyatakan bahwa pada peristiwa tersebut bukanlah sebuah bentrokan karena TNI AD bersifat pasif, tidak ada baku tembak," tandas Brigjen TNI Pandji.

Meski diserang polisi, namun prajurit TNI tidak akan melakukan serangan balasan. Termasuk juga para prajurit di tingkat bawah.

"Sesuai perintah KSAD, prajurit itu tidak boleh bertindak sendiri. Kami berjanji tidak akan ada serangan balasan," ucap Pandji.

Versi Polri, peristiwa tersebut terjadi di Gorontalo, Sabtu (21/4) hingga Minggu (22/4) dinihari lalu. Peristiwa itu berawal saat anggota Brimob yang sedang patroli melintas di depan kantor PU Limboto. Mereka dilempari botol dan batu oleh sekelompok orang. Akibatnya ada dua orang anggota Brimob yaitu Briptu Sarifudin dan Briptu Asrul terluka di bagian kepala.

Pukul 01.00 Wita, personel Brimob kembali ke TKP. Di sini mereka menangkap 2 anggota Kostrad dan menembakkan peluru -- yang disebut Mabes Polri sebagai peluru karet -- dan mengenai 4 prajurit Kostrad. Penembakan dilakukan karena prajurit Kostrad berusaha menabrak personel Brimob dengan motor. Penembakan itu membuat 4 prajurit terluka, 1 di antaranya kritis.

Hari Kamis pagi, prajurit yang kritis tersebut, Prada Firman Baso meninggal dunia di RS Gorontalo akibat luka tembak di lengan sebelah kiri yang menembus hingga ketiak.


Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(asp/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Harga BBM Harus Naik

Terbatasanya kuota BBM bersubsidi berimbas pada langkanya BBM di sejumlah SPBU plus antrean panjang kendaraan. Presiden terpilih Jokowi mengusulkan pada Presiden SBY agar harga BBM dinaikkan. Jokowi mengatakan subsidi BBM itu harus dialihkan pada usaha produktif, ditampung di desa, UMKM, nelayan. Menurutnya anggaran subsidi jangan sampai untuk hal-hal konsumtif seperti mobil-mobil pribadi. Bila Anda setuju dengan Jokowi bahwa harga BBM harus naik, pilih Pro!
Pro
45%
Kontra
55%