detikcom
Rabu, 25/04/2012 17:41 WIB

Apa Kabar 'Berakhirnya' PKS di Setgab Koalisi?

Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Sudah hampir sebulan sejak Sekretaris Setgab Syarif Hasan menegaskan bahwa kebersamaan PKS di koalisi berakhir. Namun, hingga kini belum ada perubahan status politik terhadap PKS. Reshuffle pun tak ada. Ada apa?

Pada Selasa (3/4) malam di Cikeas, Syarif mengatakan dengan lugas bahwa PKS sudah berakhir di koalisi. Alasannya, ada sejumlah code of conduct yang dilanggar. Dia juga memastikan koalisi saat ini tinggal lima partai minus PKS.

Sejumlah spekulasi pun muncul. Mulai dari isu reshuffle kabinet hingga pengurangan jatah menteri. Berbagai kalangan sudah memberi sinyalemen ini.

Namun, hingga hari ini suasana politik malah adem ayem saja. Tak ada manuver dari Setgab Koalisi secara resmi maupun PKS.

"Politik tidak boleh gaduh, harus kondusif. Jadi kalau keputusan diambil saat kondisi gaduh itu kan tidak bagus," kata Syarif Hasan saat ditanya soal kelanjutan keputusan Setgab tersebut, Rabu (25/4/2012).

Syarif yang juga Menteri Koperasi dan UKM ini tak mau memberi jawaban pasti soal PKS. Termasuk soal pengurangan menteri atau pendepakan.

"Tergantung peta koalisi," jawabnya ngambang.

Saat ditanya kembali maksud pernyataan soal anggota koalisi tinggal 5 partai, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat ini menjawab, "Iya itu maksudnya yang solid tinggal 5,"

Jadi, apakah ada kemungkinan PKS keluar koalisi? "Ya ini kan lagi proses, mudah-mudahan semakin baik, kan kalau baik semakin enak. Kita tunggu aja. Tidak perlu ada di Setgab atau nggak," jawabnya.


Simak rangkuman aneka berita penting dan menarik sepanjang hari ini di "Reportase Malam" Pukul 0.30 WIB hanya di TransTV

(mad/nwk)





Sponsored Link
Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Jokowi Lebih Dahsyat Nyapres di 2019

Dalam berbagai survei, nama Gubernur DKI Jokowi menempati posisi teratas capres potensial 2014. Suara-suara yang menginginkan Jokowi maju menjadi Capres di Pilpres 2014 juga cukup kencang. Tetapi menurut peneliti politik senior LIPI, Siti Zuhro, Jokowi akan lebih kuat jika berkompetisi di Pilpres 2019. Bila Anda setuju dengan Siti Zuhro, pilih Pro!
Pro
33%
Kontra
67%