detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Senin, 21/04/2014 04:08 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 24/04/2012 18:37 WIB

Brimob vs Kostrad di Gorontalo Lebih Pada Masalah Personal

Salmah Muslimah - detikNews
Jakarta - Bentrokan yang melibatkan personel Brimob vs Kostrad di Gorontalo tidak bisa diterjemahkan sebagai bentrokan antar institusi. Perselihan keduanya lebih pada masalah personal.

"Awalnya personal, nggak ada urusan korps tapi secara sosiologis berkembang jadi korps," kata pengamat kebijakan publik dari UI Andrinof Chaniago kepada wartawan usai seminar 'Kontribusi Polri dalam Penetapan Kebijakan Publik Pemerintahan Daerah Guna Terwujudnya Situasi Kamtibnas yang Kondusif' di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jalan Tirtayasa, Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (24/4/2012).

Andrinof tak sependapat bentrokan antara Brimob dan Kostrad di Gorontalo disebut sebagai konflik institusi. Menurut dia pengkaitan dengan korps masing-masing terbentuk dengan sendirinya dan sering terjadi.

"Rasa korps itu terbentuk sendirinya walaupun awalnya konflik personal. Kebanyakan kejadiannya begitu kalau kita lihat," terang Adrianof yang mengenakan kemeja batik saat itu.

Andrinof melihat konflik di Gorontalo lebih pada konflik personal yang bahkan kadang-kadang terjadi di tingkat elite. Hanya saja masalah personal bisa menjadi masalah institusi dan menjadi luas ke kolega di masing-masing institusi.

Namun, Andrinof tidak memungkiri potensi konflik antar institusi akan selalu ada. "Kalau potensi (konflik) antar korps itu akan selalu ada karena mereka ada kegiatan di luar urusan kedinasan. Kemungkinan adanya gesekan itu ada, di sini menurut saya yang harus cepat bertindak ya di tingkat atas, pimpinan di tingkat atas masing-masing korps," katanya.

Menurut Andrinof, sebaiknya bukan polisi yang menangani konflik antar korps di Gorontalo dalam konteks sosiologis. "Secara sosiologis nggak mungkin ditangani oleh Polri, padahal yang bentrok itu antar korps. Karena itu pendekatannya di tingkat institusi, bagaimana di tingkat institusi itu bisa meredam dan menunjukkan sikap personal masing-masing," harap Andrinof.


Seorang Balita Tercebur Ke Dalam Kuali Panas. Saksikan selengkapnya di "Reportase Pagi" pukul 04.30 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(vid/nrl)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
78%
Kontra
22%
MustRead close