detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Minggu, 20/04/2014 00:54 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 24/04/2012 15:42 WIB

Dikabarkan Kadernya Tersandung Transaksi Mencurigakan, PAN & PD Bantah

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jakarta - Kader Partai Demokrat (PD) Max Sopacua dan Sonny Waplau disebut-sebut terkait transaksi mencurigakan. Bukan hanya mereka berdua, politisi PAN Yasti Soepredjo pun ikut disebut. Benarkah?

Informasi yang dikumpulkan detikcom, Selasa (24/4/2012), data transaksi mencurigakan itu sudah dipegang Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK). Data laporan hasil analisa itu pun sudah diserahkan ke KPK.

"Ada 3 nama itu. Sudah tinggal diolah," terang sumber detikcom yang enggan disebutkan namanya.

Namun, kabar soal transaksi mencurigakan itu pun segera saja dibantah. Politisi PD Max Sopacua menegaskan dirinya tidak terlibat. Sedang kader PD yang lain, Ramadhan Pohan, juga meminta agar tidak ada tudingan lebih dahulu. Biar fakta hukum yang berbicara.

"Itu sesuatu yang belum jelas lebih baik kita tunggu penegakan hukum," terang Ramadhan.

Sedang Ketua DPP PAN Viva Yoga Mauladi setali tiga uang dengan sikap politisi PD. Viva menuding transaksi mencurigakan yang mengaitkan dengan kader PAN Yasti sebagi upaya hendak menjatuhkan kredibilitas partainya.

"Itu tidak benar, itu bermotif character assasination dan menjatuhkan kredibilitas PAN," Viva yang juga Wakil Ketua FPAN DPR ini.

Sebenarnya, soal transaksi mencurigakan anggota DPR ini pernah disebut oleh PPATK beberapa waktu lalu. Di DPR, PPATK pernah menyebut ada 2.000 terkait anggota DPR. Tapi apakah benar transaksi itu menyangkut ketiga orang itu, belum tentu juga. Pastinya data dugaan transaksi mencurigakan itu masih dikantung KPK.

secara terpisah, Ketua PPATK, M Yusuf pun sudah membantah pernah mengeluarkan nama-nama siapa saja yang terkait transaksi itu.

"Saya nggak tahu tiga nama itu didapat dari mana. Karena kita tidak pernah mengeluarkan statement pernyataan seperti itu," kata Yusuf kepada wartawan.
(ndr/vta)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
79%
Kontra
21%