detikcom
Senin, 23/04/2012 01:47 WIB

RS Malaysia Sebut 3 TKI Diduga Korban Penjualan Organ Tubuh Tewas Ditembak

Rivki - detikNews
Hasan Alhabshy/detikcom
Jakarta - Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Migrant Care dari Rumah Sakit di Malaysia, 3 TKI asal Lombok yang diduga menjadi korban perdagangan organ tubuh tewas ditembak. 3 TKI itu diketahui bekerja sebagai buruh kasar di Malaysia.

"Herman (Gun shot Wound on the head), Abdul Kadir (Multiple Gun Shot Wounds) dan Mad Noon (Kesan Tembakan Berganda)," tulis Direktur Eksekutif Migrant CARE, Anis Hidayah, dalam siaran persnya yang diterima detikcom, Minggu (22/4/2012).

Kendati mendapat keterangan resmi dari rumah sakit, Namun, salah satu keluarga korban menemukan kejanggalan terhadap jasad 3 TKI tersebut. Kejanggalan itu terdapat pada jahitan tubuh korban.

"Dugaan tersebut muncul dari pihak keluarga ketika dalam tubuh ketiga jenazah tersebut ditemukan jahitan tidak wajar," pungkasnya.

Ketiga TKI tersebut memilih menetap di Kota Negeri Sembilan, Malaysia. dan bekerja di konstruksi bangunan serta perkebunan kelapa sawit.

Sebelum meninggal, ketiga korban itu diketahui sedang pergi memancing. Herman, salah satu korban sempat berniat ingin pulang ke kampungnya untuk mengengok anaknya.

"Jumat 23 Maret 2012 lalu, korban yang bernama Herman sempat mengabari istrinya kalau dia dan 2 temannya ingin memancing. Tetapi selang 2 hari itu mereka sudah tidak bisa ditelepon lagi," kata Anis.

Sebelumnya, pihak keluarga mendapat informasi kalau 3 TKI itu telah tewas. Mereka mendapatkan info itu setelah salah seorang keluarga korban membaca koran lokal di Malaysia 26 Maret 2012, tentang penemuan motor tak dikenal.

Motor itu ditemukan di daerah pemancingan yang dikunjungi ketiganya. Pihak keluarga yang membaca koran tersebut pun menghampiri rumah sakit setempat, dan menemukan 3 TKI itu telah meninggal pada 30 Maret 2012 dengan keterangan luka tembak.

Ikuti berbagai peristiwa menarik yang terjadi sepanjang hari ini hanya di "Reportase" TRANS TV Senin - Jumat pukul 16.45 WIB

(rvk/ahy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
62%
Kontra
38%