Kamis, 19/04/2012 16:54 WIB
GKR Hemas dan Perjuangan Melawan Diskriminasi pada Perempuan
Hemas lantas menceritakan pengalamannya kala perempuan hamil di bangku sekolah masih didiskriminasi pemerintah dengan tidak boleh mengikuti Ujian Nasional (UN).
"Anak perempuan yang hamil tidak boleh mengikuti ujian, apa-apaan. Laki-laki yang menghamili boleh ikut ujian. Di Papua, jadi tersangka pemerkosa saja bisa ikut ujian, perempuan kok tidak boleh," demikian gugat GKR Hemas saat bertandang ke detikcom, Jalan Warung Buncit Raya 75, Jakarta Selatan, Rabu (18/4/2012) malam.
Hemas tidak sendirian bertandang sebagai Wakil Ketua DPD 2009-2014, dia didampingi 2 anggota DPD perempuan lain yaitu Baiq Diyah Ratu Ganefi asal NTB dan Hairiah asal Kalimantan Barat yang tergabung dalam Kaukus Perempuan Parlemen DPD RI.
Permaisuri Sultan Hamengkubuwono X ini lantas melanjutkan bahwa dirinya pernah memperjuangkan perempuan hamil korban pemerkosaan agar terus bersekolah sampai tamat.
"Saya pernah memperjuangkan anak 14 tahun, hamil karena diperkosa sopirnya. Malam saya ajak jalan-jalan pakai mobil. Selama hamil dia tidak sekolah. Setelah melahirkan, kita pindahkan sekolahnya ke tempat lain," jelasnya.
Hemas juga geregetan melihat perempuan tidak leluasa berperan di sektor publik setelah menikah. Lagi-lagi karena budaya patriarki, sehingga perempuan tidak bisa memilih dan menyerah pada peran domestiknya sebagai ibu rumah tangga.
"Kalau kita mau lihat di strata bawah, orang desa bekerja di satu tempat. Terus ditanya, bagaimana, kalau kawin masih mau kerja nggak? Ya terserah suami," demikian Hemas menirukan warga desa yang pernah ditemuinya itu.
Hal-hal seperti ini juga dirinya temukan pada warga yang mengenyam pendidikan tinggi. "Dia sarjana UGM, saat itu mendapat beasiswa. Ketika ditanya ibu ambil nggak? Nggak, biar suami dulu deh," jelas Hemas.
Dari hal-hal di atas, Hemas menilai ketidakadilan gender masih sangat kental. Di setiap sisi, menurutnya, perempuan juga tak jarang dieksploitasi.
"Selalu yang diutamakan adalah laki-laki, padahal perempuan punya kemampuan yang sama. Kesempatan yang sama. Pekerjaaan yang sama bisa beda upah laki-laki dan perempuan karena dianggap bekerja bukan yang utama, hanya membantu suami. Dalam sektor publik atau yang lain, upahnya kadang jauh di bawah standar, padahal bebannya sama," keluh Hemas.
Untuk itulah, Kaukus Perempuan Parlemen DPD dan DPR RI sedang mendorong draft RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) yang dibahas di DPR bisa gol. Hemas juga menyoroti banyak aturan-aturan diskriminatif pada perempuan di daerah melalui Perda.
Namun, upaya menggolkan RUU KKG untuk kesetaraan gender ini ini masih disalahartikan sebagai upaya liberalisasi, meniru barat hingga menimbulkan resistensi dari pemuka agama.
"Kita minta pendapat kelompok perspektif agama, akademisi dalam kegiatan penelitian bidang sosial dan berbagai hal yang bersentuhan. Banyak penolakan, kita ingin UU ini dapat diterima," tutur Hemas.
(nwk/vit)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Pemerintah Siap Implementasikan Kurikulum 2013 Mulai 15 Juli
334 share this. -
Kecanggihan Electronic Banking Center BCA Hadir di Surabaya
0 share this. -
The New Samsung Smart TV 2013
0 share this. -
Kemendikbud Ajukan Anggaran Rp 829 miliar untuk Kurikulum 2013
0 share this. -
Kunjungi Longsor PT Freeport, Rombongan DPR Masuk Sampai Terowongan
0 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Tokoh Terbaru
Indeks Tokoh ยป
-
Senin, 20/05/2013 11:41 WIB
Yusianto, Pencicip Kopi Bersertifikat Internasional Pertama di Indonesia
-
Jumat, 03/05/2013 15:39 WIB
Markamah, Ibu Guru yang Tak Lelah Berjuang di Sekolah Marjinal
-
Kamis, 02/05/2013 13:02 WIB
Ustad Soenman, Stand Up Comedian Kocak dari PKS
-
Kamis, 02/05/2013 11:05 WIB
Beteguh, Guru Belia di Hutan Belantara dan Mimpi-mimpi Besarnya
-
Jumat, 26/04/2013 10:19 WIB
Luigi Pralangga dan Serunya Jadi Staf Lapangan Misi Perdamaian PBB
-
Selasa, 21/05/2013 04:40 WIB
Anggota Komisi X: Jangan Ganti Menteri Ganti Kurikulum
-
Selasa, 21/05/2013 02:36 WIB
Curi Infaq di Masjid Istiqlal Pekanbaru, Andi Babak Belur Dihajar Warga
-
Selasa, 21/05/2013 04:35 WIB
Dalam 1 Hari, Rentetan Bom Mobil Tewaskan 70 Muslim Syiah di Irak
-
Selasa, 21/05/2013 03:21 WIB
Kurangi Isi Tabung Gas, 2 Pengecer di Lampung Ditangkap Polisi
-
Selasa, 21/05/2013 03:05 WIB
Suryadharma: Caleg PPP Memang Tidak Punya Uang, Tapi Harus Tetap Solid
-
Selasa, 21/05/2013 01:38 WIB
Kunjungi Longsor PT Freeport, Rombongan DPR Masuk Sampai Terowongan
-
Selasa, 21/05/2013 02:11 WIB
Kemendikbud Ajukan Anggaran Rp 829 miliar untuk Kurikulum 2013
-
Senin, 20/05/2013 14:05 WIB
4 Sentilan Pedas Sefti terhadap Selingkuhan Fathanah
-
354 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
-
210 Komentar
-
206 Komentar
-
203 Komentar
-
174 Komentar
-
162 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Usut Aiptu Labora, Polri Jangan Ciut Usut Rekening Gendut Jenderal
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,837.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Senin, 20/05/2013 18:44 WIB
PPATK: Fathanah Alirkan Dana ke 40 Lebih Perempuan
-
Senin, 20/05/2013 18:17 WIB
JK Sayangkan Au San Suu Kyi yang Pasif Soal Kekerasan di Rohingya
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








_5.gif)





Kenikmatan nasi goreng khas Indonesia juga tak bisa disangkal Mikhail Kouritsyn. Setiap mampir ke Indonesia, orang Rusia ini takkan lupa menyantapnya.
Dalam Forum Newsmaker Thomson Reuters di Singapura, beberapa waktu lalu, SBY lebih memilih pembangunan yang tak melulu tergantung pada sistem kapitalisme (pasar bebas) atau sosialisme (anti pasar). Jalan ketiga yang menjadi antithesis dari keduanya dianggap SBY lebih pas untuk konteks Indonesia.

