detikcom
Selasa, 17/04/2012 14:17 WIB

Sutopo Purwo Nugroho, Redam Info Hoax Soal Bencana dengan Teknologi

Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho adalah salah satu tokoh yang paling sibuk saat terjadi rentetan gempa di Aceh pada Rabu (9/4) lalu. Dia harus memberi informasi akurat ke publik di tengah berbagai isu hoax dan kabar menyesatkan lainnya. Untung, ada teknologi yang bisa membantu tugasnya.

Gempa Aceh yang berpusat di Kepulauan Simeulue itu berkekuatan hingga 8,5 Skala Richter (SR). Sempat juga muncul peringatan tsunami selama beberapa jam. Sontak saja, banyak warga yang panik. Kabar-kabar tak jelas soal tsunami dan air laut yang meninggi pun bermunculan.

Untunglah, ada informasi yang resmi dan akurat dari Sutopo. Pria yang bergabung dengan BNPB sejak 2010 ini rajin memberikan update soal gempa, mulai dari peristiwa, asal muasal gempa, hingga korban yang berjatuhan.

Namun, tugas itu tidaklah mudah. Ada sekian banyak media yang butuh keterangan dari Sutopo. Selain itu, dia juga harus menganalisis data dan terus mengontak orang BPBD di daerah.

Nah, untuk menyiasati itu dia menggunakan teknologi. Salah satunya dengan pesan berantai di BlackBerry Messenger.

"Apa pun informasi tentang bencana, saya kan harus cepat, karena kalau menunggu konferensi pers kan lama. Saya memahami tugas rekan-rekan media, terlebih lagi online. Perlu juga input yang benar. Makanya saya gunakan BBM," jelas Sutopo saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/4/2012).

"Itu yang namanya semua orang mengeluarkan statement. Ada hoax juga, di saat itulah perlu institusi yang kompeten menangani hal tersebut," sambungnya.

Saat ini, ada 817 kontak wartawan yang ada di BB milik Sutopo. Semua terus menanti perkembangan dari Sutopo saat gempa besar pekan lalu. Dan dengan cara itu, dia merasa cukup efektif.

"Makanya saya selalu broadcast message, karena butuh kecepatan dan harus mengendallikan semuanya dan saya langsung melakukan analisis juga," terangnya.

Meski begitu, Sutopo juga masih memiliki beberapa kendala dalam tugasnya memantau perkembangan situasi di daerah bencana. Salah satunya adalah masalah komunikasi dan listrik.

"Untungnya kemarin kita menggunakan radio komunikasi dan kami bisa memperoleh update yang cepat," ceritanya.

Sutopo Purwo Nugroho dilahirkan di Boyolali, Jawa Tengah, pada tanggal 7 Oktober 1969. Dia adalah putra pertama dari Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari dan menikah dengan Retno Utami Yulianingsih, S.H. Kini, dia dikaruniai 2 anak yaitu Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Sebelum di BNPB, dia menjabat sebagai fungsional Ahli Peneliti Utama IVe bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sutopo pada Tahun 1994 menyelesaikan kuliah di Fakultas Geografi, Jurusan Geografi Fisik, Program Studi Hidrologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Lalu dia diterima bekerja di UPT Hujan Buatan BPPT selama tahun 1995 - 2000 sebagai peneliti di UPT Hujan Buatan BPPT.

Tahun 1998 – 2000 melanjutkan pendidikan S2 di Program Studi Pengelolaan DAS IPB Bogor. Tahun 2001- 2010 sebagai peneliti di Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana BPPT. Tahun 1998 – 2010 menempuh pendidikan S3 di Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB Bogor. Sebelum pindah ke BNPB sebagai Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT.

Publikasi ilmiah yang telah dihasilkan terdiri dari 5 artikel jurnal ilmiah internasional, 76 artikel jurnal ilmiah nasional, 9 artikel ilmiah populer di media massa, 9 buku atau bagian dari buku yang diterbitkan tingkat nasional.

(mad/nwk)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel