Senin, 09/04/2012 07:46 WIB
Jokowi: Semut Vs Gajah, Lihat Saja Siapa yang Nanti Menang
"Lihat saja nanti siapa yang menang semut atau gajah," kata Jokowi kepada detikcom, Senin (9/4/2012).
Istilah semut dan gajah dilontarkan Jokowi pasca mendaftarkan diri ke KPU Jakarta bersama pasangannya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Melalui istilah ini, dia ingin menggambarkan kekuatan masing-masing calon.
Jokowi menganggap dirinya semut lantaran hanya punya pengalaman menjadi wali kota dan tidak punya modal banyak untuk pencalonannya. Sementara istilah gajah diberikan kepada dua calon yakni Fauzi Bowo dan Alex Noerdin yang masih menjabat sebagai gubernur di Jakarta dan Sumsel.
"Peta lapangan sudah dikuasai, kita baru memetakan persoalan Jakarta untuk menyusun program apa yang harus kita kerjakan," pungkasnya.
Jokowi mengaku tak risau dengan posisi Foke, calon incumbent. Dia yakin Foke tidak akan memanfaatkan struktur birokrasi yang tengah dikuasai untuk memuluskan jalan ke kursi nomor satu untuk kali kedua.
"Mereka (birokrat Jakarta) akan netral, saya percaya birokrasi akan netral. Mereka pintar-pintar kok, saya positif saja," imbuh lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini.
Saat ini baik Jokowi maupun Ahok memfokuskan pada pengenalan tahap awal ke warga Jakarta. Dalam pengenalan itu, keduanya juga memetakan persoalan yang masih jadi benang kusut di Ibu Kota.
"Ini manajemen perencanaan, kita melihat masalah melihat problem. Peta lapangan sudah dikuasai, kita baru menata apa yang harus kita kerjakan," ujar Jokowi.
(fdn/mpr)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
-
Kelelahan, Bupati Tegal Meninggal Dunia
1,402 share this. -
Akhirnya, Prancis Resmi Legalkan Pernikahan Sesama Jenis
985 share this. -
Ditolak Bercinta, Gadis 19 Tahun Gigit Penis Kekasihnya
865 share this. -
Konglomerat Swedia Kalah Melawan Pedagang Glodok
779 share this. -
Kapal Malaysia Tertangkap Curi Ikan di Selat Malaka
746 share this.
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru
Indeks Berita ยป
-
Sabtu, 18/05/2013 21:22 WIB
Bob Hasan Bela Aiptu LS, Tak Ada Illegal Logging
-
Sabtu, 18/05/2013 20:48 WIB
Aiptu Labora Diperiksa di Bareskrim Mabes Polri
-
Sabtu, 18/05/2013 20:10 WIB
Usai Temui Kompolnas, Aiptu Labora Digelandang ke Mabes Polri
-
Sabtu, 18/05/2013 19:12 WIB
Kompolnas Bantah Undang Aiptu Labora
-
Sabtu, 18/05/2013 18:44 WIB
Kompolnas Minta Polri Profesional Kelola Sengketa Lahan Pertambangan
-
Sabtu, 18/05/2013 20:08 WIB
Usai Temui Kompolnas, Aiptu Labora Digelandang ke Mabes Polri
-
Sabtu, 18/05/2013 21:22 WIB
Bob Hasan Bela Aiptu LS, Tak Ada Illegal Logging
-
Sabtu, 18/05/2013 20:48 WIB
Aiptu Labora Diperiksa di Bareskrim Mabes Polri
-
Sabtu, 18/05/2013 16:45 WIB
Kelelahan, Bupati Tegal Meninggal Dunia
-
Sabtu, 18/05/2013 19:12 WIB
Kompolnas Bantah Undang Aiptu Labora
-
Sabtu, 18/05/2013 16:35 WIB
Konglomerat Swedia Kalah Melawan Pedagang Glodok
-
Sabtu, 18/05/2013 17:14 WIB
Ini Alasan MA Kalahkan IKEA Melawan IKEMA di Perebutan Merek
-
Sabtu, 18/05/2013 17:34 WIB
Lakukan Penodaan Alquran di Pakistan, Pria Asal China Diamankan Polisi
-
427 Komentar
-
227 Komentar
-
226 Komentar
-
216 Komentar
-
210 Komentar
-
208 Komentar
-
203 Komentar
-
200 Komentar
-
Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
ProKontra
Index »
Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS
Pro
Kontra
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,834.000
- Rp .000
MustRead
close
-
Sabtu, 18/05/2013 12:59 WIB
Turbulensi Emirates, Penumpang: Pesawat Seperti Disedot
-
Sabtu, 18/05/2013 12:43 WIB
Anggota BK: DPR Banyak Bolos Karena Kebanyakan Pengusaha
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer

.gif)





_5.gif)



Namanya Markamah. Semangat perempuan berusia 46 tahun ini tak pernah padam untuk menyalakan lilin pendidikan di tempat-tempat marjinal. Mulai dari memberantas buta huruf di Marunda, mengajar anak-anak PSK di Jakarta Barat hingga kini menjalankan roda sekolah semi permanen yang dikepung pabrik.
Prinsip Sun Tzu dalam bukunya The Art of War, “Pertahanan Terbaik adalah Menyerang” nampaknya sedang diadopsi oleh PKS saat terjepit berhadapan dengan kasus hukum di KPK. Upaya perlawananoleh PKS yaitu melaporkan sejumlah penyidik dan jubir KPK kepada Kepolisian.
