detikcom
Jumat, 06/04/2012 02:16 WIB

Presiden PKS Minta 3 Menteri Tak Acuhkan Isu Reshuffle

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Jakarta, - Isu pencopotan menteri-menteri dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II terus berkembang. Kendati demikian, PKS menolak untuk memberi sikap terburu-buru dan memilih menunggu keputusan resmi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Nanti kita dengarkan apa yang ingin disampaikan, nanti baru akan berikan apa yang harus kami lakukan," ujar Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq, kepada wartawan di kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (5/4/2012) malam.

Meskipun banyak pihak yang telah menyuarakan soal rencana pencopotan menteri-menteri dari PKS yang tergabung dalam KIB II, Luthfi enggan menanggapi. Menurutnya, keputusan resmi ada di tangan SBY sebagai Ketua Setgab maupun Kepala Negara.

"Kalau ada sejumlah anggota atau pimpinan Demokrat berusaha menafsirkan situasi ini, itu sah-sah saja. Toh tafsir itu nanti tetap sebagai tafsir. Tapi konten atau substansi adalah otoritas dari Ketua Setgab, yang sekaligus Kepala Negara kita," tegasnya.

Luthfi menyatakan, selama menunggu keputusan tersebut, menteri-menteri dari PKS akan tetap bekerja seperti biasa. Dia juga memastikan, kinerja para menteri dari PKS tidak akan terpengaruh oleh isu yang berkembang di lapangan.

"Kami pastikan agar menteri-menteri bekerja profesional, sesuai tupoksi masing-masing kementerian dan tidak terbawa dinamika lapangan yang berkembang, karena di pundak mereka ada sejumlah tugas mulia yang harus diselesaikan," tutur Luthfi.

Lagipula, tambah Luthfi, PKS bukanlah partai oportunis yang hanya menginginkan kekuasaan semata. Dengan ada atau tidaknya kader PKS yang duduk dalam kursi kabinet, tidak akan mempengaruhi komitmen PKS bagi rakyat.

"Kita berada di pemerintahan bukan karena oportunis, kita ada di pemerintah karena memang rasa tanggung jawab. Ada amanat, ada tanggung jawab, dan itu yang harus dijalankan. Amanat diberi, jadi harus dijalankan sepanjang amanat masih dibebankan," tandasnya.


(nvc/mad)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel