detikcom
Kamis, 05/04/2012 14:35 WIB

Jadi Korban Bom Bali I, Bule AS & Australia Tetap Suka Indonesia

Dhurandhara HKP - detikNews
Jakarta - 4 Bule WN Amerika Serikat (AS) dan Australia menjadi saksi terdakwa Bom Bali I, Umar Patek. Kendati sempat frustasi, depresi dan terluka saat Bom Bali I, mereka menyatakan tetap suka dan tak kapok ke Indonesia.

Seperti dikatakan Jason Paul McCartney, WN Australia. McCartney yang berada di Paddy's Pub saat Bom Bali I tahun 2002 itu menderita luka bakar tingkat 2-3 yang membuat luka 50 persen tubuhnya.

"Sekarang masih dalam taraf pemulihan, pendengaran saya terganggu," kata McCartney di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jalan S Parman, Jakarta, Kamis (5/4/2012) saat menjawab pertanyaan majelis hakim yang diketuai hakim Bambang Heriyadi.

McCartney yang sudah 10 kali berkunjung ke Indonesia tak kapok dan tetap cinta Indonesia.

"Saya masih cinta Indonesia dan Bali. Tapi masih sedih pada korban-korbannya. Dan saya masih merasa marah atas kejadian itu," kata Jason yang berkemeja putih itu.

Teman Jason, Peter Huges yang saat Bom Bali I berada di dekat McCartney, juga sempat merasa depresi, frustasi, dan sangat marah atas kejadian itu. Namun dia juga mengaku masih cinta Indonesia.

Stewart Anstie, WN Australia, juga masih suka dengan Indonesia, merasa Bom Bali I adalah ulah teroris.

"Masih. Masih suka Indonesia. Untuk kejadian ini bukan salah Indonesia tapi ulah teroris," ujar Anstie yang menderita luka di pundak dan kepala saat berada di Sari Club.

Sementara pengacara Umar Patek, Asludin Hatjani, mengatakan kesaksian 4 WN asing itu tak membuktikan bahwa Umar Patek terlibat.

"Intinya memang terjadi ledakan tersebut, dan mereka berada di tempat kejadian. Seperti tadi ada yang kena luka bakar dan pita suaranya tadi ada yang rusak. Tapi tidak ada yang bisa menerangkan kaitan bom dengan Umar Patek. Seperti tadi ada 2 orang saksi, yang bilang kalau sudah pernah menjadi saksi di persidangan sebelumnya, di persidangan Amrozi. Nah satu dari mereka saya tanya apakah mereka mengetahui Umar Patek terlibat atau tidak, mereka tidak bisa menjawab," jelas Asludin.

(nwk/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel