Pemandangan itu terlihat di halaman gedeung DPR pada Jumat (30/3/2012) sore. Beberapa demonstran sibuk mengobrol dengan personel Brimob. Beberapa dari demonstran rupanya tertarik dengan rompi yang dipakai sebagai pelindung oleh Brimob.
"Ini berat nggak? Kalau kena peluru tembus nggak?" tanya demonstran dari kalangan mahasiswa, Sidik, kepada seorang personel Brimob sambil menepuk-nepuk rompi yang melekat di tubuh sang Brimob.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada Sidik, sang Brimob berpesan agar mahasiswa semester akhir itu lebih sungguh-sungguh belajar dan memikirkan masa depannya. "Saya juga mikir nanti saya mau kerja di mana," ucap Sidik.
Personel Brimob itu menuturkan kelelahannya mengurusi demonstrasi. Sebenarnya dia tidak mau berhadap-hadapan dengan masyarakat, tapi hal itu terpaksa dilakukan jika masyararakat berubah anarkis.
"Makanya kalau ribut itu serba salah, satu sisi kita punya pimpinan, kita juga harus mengamankan negara. Satu sisi harus berhadapan dengan masyarakat. Dilema juga kalau BBM naik, saya juga pakai BBM. Kalau BBM naik, ikut merasakan kenaikan," terang petugas Brimob.
Sebelumnya masa sempat membakar spanduk dan mencoba merobohkan pagar DPR. Untunglah tidak ada kontak fisik demonstran dan petugas keamanan.
(vit/nwk)











































