detikcom
Minggu, 25/03/2012 06:23 WIB

Hasnaeni 'Wanita Emas' Sebut Uang untuk Partai Pendukung Capai Miliaran

Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Koalisi Partai Bersama yang digadang-gadang akan mendukung Hasnaeni 'Wanita Emas' telah membantah tudingan pihak Hasnaeni yang menyebutkan koalisi menilap sejumlah uang. Adapun uang yang pernah diberikan Hasnaeni tak lebih dari Rp 15 juta. Namun, kuasa hukum 'Wanita Emas', Arie S Tarigan, bersikukuh nominal yang digelontorkan kliennya itu lebih dari belasan juta.

"Namanya penggelapan ada tindak pidana yang menimbulkan kerugian, salah satunya materil. Jumlah yang dikeluarkan klien kita bisa miliaran bisa juga ratusan juta. Enggak mungkin puluhan juta," kata Arie saat dihubungi detikcom, Sabtu (24/3/2012).

Namun sayang, Arie menolak untuk menyebut jumlah pasti berapa uang atau pun materi yang telah digelontorkan kliennya tersebut untuk masuk pencalonan bursa Cagub dan Cawagub DKI Jakarta.

"Kita sepakat tidak mengeluarkan angka dengan alasan supaya tidak mengganggu konsentrasi Pilkada," papar Arie.

Adapun kisaran ratusan juta dan miliaran rupiah yang disebutkannya, menurut Arie jumlah tersebut masuk akal. Mengingat jumlah partai non kursi yang berniat mendukung Hasnaeni maju dalam Pemilu Kada DKI mendatang berjumlah 25 partai non kursi.

"Pemberian uang bukan persoalan partai itu dibeli, hanya untuk operasional saja," jelas Arie.

Selain kerugian materil, Arie menjelaskan, kliennya juga dirugikan secara immateril. Kerugian tersebut karena Hasnaeni tidak dapat masuk bursa Cagub ataupun Cawagub.

"Uang buat klien kami tidak seberapa, tapi kerugian materil beliau yang tidak maju minimal menjadi cawagub itu kerugian luar biasa," ungkapnya.

Hasnaeni si 'Wanita Emas' melaporkan Ketua Koalisi Bersatu DKI Jakarta Bambang RA ke Bareskrim Polri atas dugaan penipuan. Pihak Koalisi Bersatu DKI pun siap menjelaskan dan memenuhi panggilan Polri.

Juru bicara Koalisi Partai Bersama, Syarif, membantah jika pihaknya dikatakan mengalihkan dukungan dari Hasnaeni kepada pasangan Alex Noerdin dan Nono Sampono.

Menurutnya hingga detik-detik terakhir, pihaknya masih mendukung Hasnaeni hingga ada keputusan dari sejumlah parpol yang mengumumkan pasangan calon yang diusungnya masing-masing.

"Tidak ada membelok diluar konteks, sampai detik terakhir pendaftaran kita dukung, tapi tidak ada partai yang dukung mau gimana. Kita hanya punya 6,5 persen kan harus 15 persen," jelas Syarif.


(ahy/ans)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel