Gerindra Tolak Kenaikan Harga BBM
Senin, 05/03/2012 15:27 WIB
Jakarta
Rencana pemerintah menaikkan harga BBM per 1 April mendatang terus menuai penolakan dari sejumlah pihak, salah satunya Partai Gerindra. Partai yang dikomandoi Prabowo Subianto ini menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Alasannya, subsidi BBM dirasa masih diperlukan rakyat.
"Subsidi masih diperlukan. Jika pemerintah bersikukuh untuk mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM maka langkah tersebut merupakan langkah inkonstitusional yang melanggar UU No 22 tahun 2011 tentang APBN 2012," kata Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/3/2012).
Menurut Muzani, menaikkan harga BBM sama saja menyengsarakan rakyat. Mengingat rakyat kelas menengah ke bawah akan merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang disediakan jelas tidak mencukupi.
"Merupakan langkah menyengsarakan rakyat yang jauh dari prinsip kemanusiaan dan keadilan. Minimal ada 135 juta rakyat Indonesia tercekik oleh inflasi riil yang mencapai 15-20 persen. Sementara BLT sebesar Rp 150.000/bulan untuk tiap kepala keluarga hanya menjangkau 70 juta penduduk saja. Masih ada 65 juta penduduk yang setiap harinya tercekik nyaris tak bisa bernafas," cetus Muzani.
Menaikkan harga BBM juga dinilai bertentangan dengan rasa keadilan. Menaikkan harga BBM bersubsidi terutama dengan memperhatikan jumlah belanja birokrasi, sangat bertentangan dengan rasa keadilan. Belanja birokrasi yang sejak tahun 2005 hingga 2012 naik sampai 400 persen dengan nilai Rp 733 triliun. Sementara subsidi BBM dalam APBN pada periode yang sama hanya naik 29 persen dengan nilai Rp 123,6 triliun pada tahun 2012.
Kalaupun alokasi anggaran subsidi tidak mencukupi, Muzani mengatakan sejatinya masih dapat ditutup dengan efisiensi belanja birokrasi yang daya serapnya rata-rata 94 persen. Dengan demikian, masih ada bantalan fiskal sebesar 6 persen atau setara dengan Rp 86,1 triliun dari total APBN yang mencapai Rp 1.436 triliun.
"Efisiensi dari belanja birokrasi sebesar 6 persen ini sangat mencukupi karena dengan opsi menaikkan tambahan alokasi sebesar Rp 60 triliun, masih ada sisa Rp 26 triliun lebih," katanya.
Belum lagi subsidi BBM yang sekarang ini banyak disalahgunakan orang yang tak pantas mendapatkannya. Ini jelas yang harus segera dibenahi pemerintah.
"Pemerintah menyatakan bahwa 53 persen pemakai BBM bersubsidi adalah mobil pribadi, 40 persen kendaraan roda dua, dan 7 persen angkutan umum. Hal ini artinya subsidi BBM selama ini yang tepat sasaran hanya 7 persen," tandas Muzani.
(rmd/nvt)
"Subsidi masih diperlukan. Jika pemerintah bersikukuh untuk mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM maka langkah tersebut merupakan langkah inkonstitusional yang melanggar UU No 22 tahun 2011 tentang APBN 2012," kata Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (5/3/2012).
Menurut Muzani, menaikkan harga BBM sama saja menyengsarakan rakyat. Mengingat rakyat kelas menengah ke bawah akan merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang disediakan jelas tidak mencukupi.
"Merupakan langkah menyengsarakan rakyat yang jauh dari prinsip kemanusiaan dan keadilan. Minimal ada 135 juta rakyat Indonesia tercekik oleh inflasi riil yang mencapai 15-20 persen. Sementara BLT sebesar Rp 150.000/bulan untuk tiap kepala keluarga hanya menjangkau 70 juta penduduk saja. Masih ada 65 juta penduduk yang setiap harinya tercekik nyaris tak bisa bernafas," cetus Muzani.
Menaikkan harga BBM juga dinilai bertentangan dengan rasa keadilan. Menaikkan harga BBM bersubsidi terutama dengan memperhatikan jumlah belanja birokrasi, sangat bertentangan dengan rasa keadilan. Belanja birokrasi yang sejak tahun 2005 hingga 2012 naik sampai 400 persen dengan nilai Rp 733 triliun. Sementara subsidi BBM dalam APBN pada periode yang sama hanya naik 29 persen dengan nilai Rp 123,6 triliun pada tahun 2012.
Kalaupun alokasi anggaran subsidi tidak mencukupi, Muzani mengatakan sejatinya masih dapat ditutup dengan efisiensi belanja birokrasi yang daya serapnya rata-rata 94 persen. Dengan demikian, masih ada bantalan fiskal sebesar 6 persen atau setara dengan Rp 86,1 triliun dari total APBN yang mencapai Rp 1.436 triliun.
"Efisiensi dari belanja birokrasi sebesar 6 persen ini sangat mencukupi karena dengan opsi menaikkan tambahan alokasi sebesar Rp 60 triliun, masih ada sisa Rp 26 triliun lebih," katanya.
Belum lagi subsidi BBM yang sekarang ini banyak disalahgunakan orang yang tak pantas mendapatkannya. Ini jelas yang harus segera dibenahi pemerintah.
"Pemerintah menyatakan bahwa 53 persen pemakai BBM bersubsidi adalah mobil pribadi, 40 persen kendaraan roda dua, dan 7 persen angkutan umum. Hal ini artinya subsidi BBM selama ini yang tepat sasaran hanya 7 persen," tandas Muzani.
(rmd/nvt)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Rabu, 23/05/2012 22:17 WIB
Dibacok Siswa SMK Budi Utomo, Seorang Pelajar di Depok Kritis
-
Rabu, 23/05/2012 22:10 WIB
Terima Penghargaan Portugal, Alwi Shihab: Gus Dur yang Pantas Menerimanya
-
Rabu, 23/05/2012 21:48 WIB
Nazar Minta KPK Fokus Usut Peranan Andi Mallarangeng di Hambalang
-
Rabu, 23/05/2012 21:31 WIB
Alwi Shihab: Konser Lady Gaga Cukup Disesuaikan dengan Budaya Indonesia
-
Rabu, 23/05/2012 21:20 WIB
Nazar Dicecar KPK Soal Kalender Anas dari Proyek Universitas
-
Rabu, 23/05/2012 20:39 WIB
Repot Urus Pesawat, Keluarga Pramugari Sky Pilih Ambulans ke Lampung
-
Rabu, 23/05/2012 21:09 WIB
Anggota Komisi III DPR Kecewa Gories Mere Lebih Pilih ke Las Vegas
-
Rabu, 23/05/2012 20:19 WIB
Kisah Tim DVI Sukhoi, dari Pulang Malam hingga Menginap di Kamar Mayat
-
Rabu, 23/05/2012 19:50 WIB
MA Setujui Grasi Karena Corby Sering Sakit-sakitan
-
685 Komentar
-
454 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
Lapsus
Index »
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,049.000
- Rp 469.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
