detikcom
Senin, 05/03/2012 13:18 WIB

Jalan Masih Panjang Jadikan Situs Gunung Padang Jadi Situs UNESCO

Nograhany Widhi K - detikNews
Situs Gunung Padang (Foto: Wikipedia)
Jakarta - Kendati indikasi awal hasil pengujian dari radioisotop carbon C14 menunjukkan usia situs Gunung Padang lebih tua dari Piramid Mesir dan Machu Picchu di Peru, situs Gunung Padang belum bisa dikatakan resmi jadi situs sejarah apalagi diakui United Nation Educational, Scientific and Cultural (UNESCO). Jalannya masih panjang, apa saja yang perlu ditempuh?

Ketua Tim Peneliti Katastropik Purba, Dr Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, perlu pengujian sampel tanah di situs Gunung Padang pada beberapa titik lagi dengan beberapa kedalaman.

"Belum akhir, penelitian terus, ada beberapa titik lagi. Kami ingin tahu lebih banyak mengenai indikasi ruangan-ruangan di bawah punden berundak, apa ada apa nggak? Ini kan baru sampai 20 meter, yang kita curigai itu sampai 100 meter dalamnya, dan itu belum divalidasi. Intinya masih berjalan. Itu baru indikasi (lebih tua dari Piramid Mesir dan Machu Picchu)," jelas Danny ketika dihubungi detikcom, Senin (5/3/2012).

Sejak penelitian terakhir selama 2 pekan dari Februari sampai awal Maret 2012, Tim Katastropik Purba belum ada rencana memulai lagi. Untuk melanjutkan penelitian lebih dalam, Tim Katastropik sedang meminta izin dari para tokoh-tokoh masyarakat dan Bupati Cianjur.

"Yang jelas tanya sama tuan rumahnya dulu, instansi yang bertanggung jawab Kemendikbud apa diteruskan atau nggak? Kalau diizinkan diteruskan kita teruskan, lebih serius lebih dalam. Kan ada yang perlu geser-geser situsnya dan sebagainya. Menunggu nanti pertemuan para pemuka masyarakat, Pemda di sana, komunikasi Kemdikbud," jelas Danny.

Tim Katastropik Purba, imbuhnya, akan bertemu Bupati Cianjur, Selasa besok. Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata dan tokoh-tokoh masyarakat setempat pada umumnya memberikan sambutan positif atas penelitian situs ini.

"Bahkan mereka (para tokoh masyarakat lokal) yang membantu penelitian ini di sana," jelas Danny.

Tahapan selanjutnya, bila diizinkan melanjutkan penelitian, Tim Katastropik Purba membutuhkan setidaknya beberapa bulan untuk membuktikan dugaan-dugaan di awal penelitian. Kemudian bila terbukti, hasil penelitian ilmiah itu harus dipublikasikan secara ilmiah pula.

"Perkiraan kita terbukti benar-benar proven, jelas, butuh beberapa bulan ke depan. Kemudian, ada proses untuk makalah ilmiah, publikasi ilmiah, itu berbulan-bulan untuk pengakuan ilmiah. Kan ada naskah ilmiahnya, kemudian ke Dinas Kebudayaan didaftarkan begitu jalurnya untuk menjadi situs UNESCO. Malah kalau sudah diakui di internasional otomatis, malah UNESCO sendiri yang akan datang," papar Danny.

Sebelumnya diberitakan dari rilis Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Tim Katastropik Purba mengambil sampel tanah dari 2 titik pengeboran, masing-masing titik diambil 16 sampel. Sampel ini kemudian diuji menggunakan radioisotop carbon C14 untuk mengetahui usianya (carbon dating).

Tim Katastropik untuk menguji umur sisa arang, tumbuhan organik paleosoil dengan carbon dating dengan alat Liquid Scintillation Counting (LSC).

Hasilnya sebagai berikut:
1. Sampel pertama diambil dari Teras 2 titik bor 1 dengan kedalaman -3.5 meter dari permukaan tanah, hasilnya: 5.500 tahun plus minus 130 Before Present (Sebelum Masehi/SM, red) (pMC= 51,40 +/-0,54)

2. Adapun HASIL TERBARU sampel kedua diambil dari Teras 5 titik bor 2 dengan kedalaman -8,1 meter sampai -10,1 meter dari permukaan tanah, hasilnya: 11.060 tahun plus minus 140 tahun Before Present (Sebelum Masehi/SM, red) (pMC= 26,24 +/- 0,40)

"Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu SM," tutur anggota Tim Katastropik Purba, Dr Boediarto Ontowirjo yang juga periset di Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini.

Catatan:

pMC = percentage Measured Carbon
Persentasi unsur carbon C yang tersisa dari proses peluruhan tanah purba paleo soil. Unsur carbon akan mulai meluruh begitu tumbuhan, hewan mati tertimbun tanah/batu.
Untuk meluruh setengahnya, pMC = 50% diperlukan waktu 5.730 tahun.


(nwk/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel