Rabu, 29/02/2012 12:17 WIB

Wartawan Yogyakarta Desak Polisi Usut Kekerasan FPI-FJI

Bagus Kurniawan - detikNews
Bagus Kurniawan/detikcom
Jakarta - Puluhan wartawan dari berbagai media menggelar unjuk rasa menolak kekerasan terhadap jurnalis. Mereka menuntut kepolisian mengusut tuntas kekerasan yang dialami kameraman TVOne, Nuryanto, saat Front Pembela Islam (FPI) dan Front Jihad Islam (FJI) terlibat perang batu.

Nuryanto terluka seusai meliput sidang Ketua Front Pembela Islam (FPI) DIY, Bambang Tedy, di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Selasa (28/2/2012). Pelipis kirinya berdarah akibat lemparan batu massa pendukung FPI dan Front Jihad Islam (FJI) Yogyakarta.

Unjuk rasa digelar di depan Gedung Agung Yogyakarta di Jl Ahmad Yani, Rabu (29/2/2012). Massa berasal dari PWI, PFI, AJI, Pawarta Yogya, IJTI, dan Forum Pewarta Bantul.

Para jurnalis membawa berbagai poster, di antaranya bertuliskan "Tolak Anarkisme", "Stop Kekerasan Terhadap Jurnalis", "Kekerasan Tak Menyelesaikan Masalah". Selain orasi, aksi juga diwarnai aksi teatrikal dari salah seorang reporter televisi, Kamandaka, yang mengambarkan terjadinya kekerasan dan menyuarakan anti kekerasan.

Kepala Biro TVOne, Hendrawan, dalam orasinya menyatakan pihaknya mengecam keras aksi kekerasan dan memalukan yang terjadi di depan kantor PN Yogyakarta. Akibat kekerasan tersebut pelipis kiri Nuryanto harus mendapat dua jahitan di RS Bethesda Yogya.

Hendrawan menambahkan, pihaknya telah melaporkan kasus kekerasan yang dialami Nuryanto ke Polresta Yogyakarta. Visum dari rumah sakit disertakan saat melapor ke polisi. Surat tanda bukti laporan dengan nomer LP/72/2012/DIY/Polresta YKA yang ditandatangani Kanit SPKT II Aiptu Haryana.

"Kami tidak ingin ada kekerasan terhadap jurnalis, baik di Indonesia, maupun di negara lain dan bumi Yogyakarta yang istimewa ini. Kami menuntut polisi untuk mengusut tuntas kasus kekerasan ini termasuk menangkap pelakunya," tegas Hendrawan.

Sementara itu Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta, Pamungkas WS, menyatakan pihaknya bersama elemen dan organisasi wartawan lainnya menyatakan menolak dan melawan segala bentuk kekerasan termasuk kepada jurnalis yang meliput di lapangan.

"Hentikan semua bentuk kekerasan sebab itu bukan solusi masalah. Jangan ada lagi kekerasan di Yogyakarta seperti yang di alami rekan kita Nuryanto," kata Pamungkas.


Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(try/nrl)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Motor akan Dilarang Melintas di Jalan Protokol Jakarta

Pada Desember 2014 mendatang motor tidak diperbolehkan untuk melintas di Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Rencananya motor akan dilarang di semua jalan protokol yang ada di Jakarta. Bila Anda setuju dengan kebijakan Pemprov DKI ini, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%