detikcom
Kamis, 23/02/2012 10:55 WIB

Stendly, Korban Tewas di RSPAD Berprofesi Debt Collector

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
M Taufiqurrahman/detikcom
Jakarta - Jenazah korban penusukan di RSPAD Gatot Subroto, Stendly Wenno (29), masih berada di RSCM, Salemba, Jakarta Pusat. Sumiyati, istri Stendly, menyatakan suaminya berprofesi sebagai penagih utang.

"Kerjanya sebagai debt collector," kata Sumiyati (31) di kamar jenazah RSCM, Kamis (23/2/2012). Kesedihan menggelayuti perempuan berkulit putih yang tinggal di Kramat Pulo, Jakarta Pusat.

Sumiyati mengatakan, suaminya tidak memiliki musuh dan dia tidak mengetahui Stendly tewas dikeroyok. "Setahu saya tidak memiliki musuh," katanya.

Brian, anak Stendly, mengaku terakhir kali bertemu ayahnya semalam. Brian diberi uang Rp 20 ribu. Ayahnya berpesan agar Brian terus sekolah,

"Tadi malam dikasih uang Rp 20 ribu, katanya buat jajan," ujar remaja 13 tahun itu.

Selain Stanley, korban tewas lainnya adalah Ricky. Keduanya tewas saat melayat Bob Stanley Sahusulawan di rumah duka RSPAD. Pada pukul 02.30 WIB, seratusan pemuda dari kelompok Ambon menyerang 15-an pelayat. Motif penyerangan masih didalami polisi.


(nal/nrl)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel