KPK Minta PPATK Klarifikasi Mengenai Transaksi Panas Bendahara
Rabu, 22/02/2012 23:17 WIB
Jakarta
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya merasa perlu untuk meminta klarifikasi secara resmi dari Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) terkait dengan temuan mereka yang menyebutkan adanya pegawai KPK yang terindikasi melakukan transaksi mencurigakan.
"Tadi pagi kita mengirimkan surat resmi untuk meminta klarifikasi kepada PPATK," terang Juru Bicara KPK, Johan Budi di Gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/2/2012).
Johan menambahkan, surat resmi tersebut berisikan mengenai penjelasan tentang tugas pegawai KPK yang masuk dalam temuan PPATK tersebut. Menurutnya, klarifikasi penting untuk menghindari pandangan negatif dari masyarakat.
"Jangan sampai ada persepsi yang tidak baik pada KPK karena pengumuman itu," tuturnya.
KPK juga menyanyangkan PPATK yang tidak berkoordinasi dengan KPK terebih dahulu sebelum mengumumkan temuan tersebut. Menurutnya, kedepan jangan sampai ada miskomunikasi terjadi lagi, karena selama ini kerjasama PPATK dan KPK sudah cukup baik.
"Kami juga tidak tahu kenapa itu disampaikan di depan anggota dewan.
Kita minta sebelum dilakukan penguguman atau apapun kedepannya itu harus dilakukan dulu koordinasi dengan KPK," ucapnya.
Sebelumnya, Ketua PPATK M Yusuf mengungkapkan bahwa seorang bendaharawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terindikasi melakukan transaksi panas. Transaksi mencurigakan ini merupakan satu-satunya yang terendus di KPK.
"Bendaharawan, dia terindikasi melakukan transaksi panas sekitar Rp 200 juta atau Rp 300-an juta," terang M Yusuf dalam rapat dengan Komisi III di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
(riz/van)
"Tadi pagi kita mengirimkan surat resmi untuk meminta klarifikasi kepada PPATK," terang Juru Bicara KPK, Johan Budi di Gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (22/2/2012).
Johan menambahkan, surat resmi tersebut berisikan mengenai penjelasan tentang tugas pegawai KPK yang masuk dalam temuan PPATK tersebut. Menurutnya, klarifikasi penting untuk menghindari pandangan negatif dari masyarakat.
"Jangan sampai ada persepsi yang tidak baik pada KPK karena pengumuman itu," tuturnya.
KPK juga menyanyangkan PPATK yang tidak berkoordinasi dengan KPK terebih dahulu sebelum mengumumkan temuan tersebut. Menurutnya, kedepan jangan sampai ada miskomunikasi terjadi lagi, karena selama ini kerjasama PPATK dan KPK sudah cukup baik.
"Kami juga tidak tahu kenapa itu disampaikan di depan anggota dewan.
Kita minta sebelum dilakukan penguguman atau apapun kedepannya itu harus dilakukan dulu koordinasi dengan KPK," ucapnya.
Sebelumnya, Ketua PPATK M Yusuf mengungkapkan bahwa seorang bendaharawan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terindikasi melakukan transaksi panas. Transaksi mencurigakan ini merupakan satu-satunya yang terendus di KPK.
"Bendaharawan, dia terindikasi melakukan transaksi panas sekitar Rp 200 juta atau Rp 300-an juta," terang M Yusuf dalam rapat dengan Komisi III di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
(riz/van)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Selasa, 22/05/2012 13:29 WIB
Isu Ani Jadi Capres PD, Marzuki: Masih Terlalu Jauh Bicara Capres
-
Selasa, 22/05/2012 13:27 WIB
3 WN Rusia Lihat 8 Jenazah Awak Sukhoi di RS Polri
-
Selasa, 22/05/2012 13:24 WIB
Keluarga Masih Bisa Kenali Wajah DN Yusuf
-
Selasa, 22/05/2012 13:23 WIB
Ada Gambar Nabi Muhammad di Buku Cerita Bantuan Kemenag
-
Selasa, 22/05/2012 13:20 WIB
Ayah Pramugari Korban Sukhoi Bayangkan Jasad Anaknya Utuh
-
Selasa, 22/05/2012 12:32 WIB
Ayahanda Korban Sukhoi: Susana Tetap Manis & Cantik
-
Selasa, 22/05/2012 12:05 WIB
Keluarga Tampak Tabah Usai Melihat Jasad Korban Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 12:48 WIB
Badai Kerispatih: Papa dalam Keadaan Baik
-
Selasa, 22/05/2012 12:45 WIB
Belum Lihat Jasad Anaknya, Ibu Pramugari Sky Menangis
-
672 Komentar
-
446 Komentar
-
348 Komentar
-
304 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,087.000
- Rp 471.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer







Sending your message



_(baru).gif)

_2.gif)
(2).gif)
