detikcom

Ruhut Sitompul: KPK Jemput Bola, Kami Antar Bola Tak Lindungi Kader PD

Ropesta Sitorus - detikNews
Senin, 20/02/2012 12:00 WIB
Jakarta Elektabilitas Partai Demokrat (PD) merosot sekitar 7 persen dari perolehan suara Pemilu 2009, dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 1-12 Februari 2012 lalu. Kasus-kasus korupsi yang membelit PD diduga menjadi salah satu penyebabnya. Ketua DPP PD bidang komunikasi, Ruhut Sitompul, mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempersilakan untuk segera menindak kadernya jika bersalah. PD sendiri sudah mengantar bola dengan menegaskan tak akan melindungi kadernya.

"Karena itu kami minta KPK segera jemput bola. Jangan menunggu-nunggu lagi. Kalau kita kurang apa dengan mengatakan tidak akan melindungi kader kami. Itulah cara kami mengantar bola. Kalau partai lain, kadernya sudah diputuskan pidana, masih dicoba lagi untuk aktif di DPR, kalau kami tidak," ujar Ruhut Sitompul.

Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Ruhut Sitompul pada Minggu (19/2/2012):

Survei bilang kalau pemilu sekarang Demokrat kalah, tanggapan Anda?

Pemilu itu kan 2014 lucu juga ada pertanyaan 'kalau sekarang', memangnya sekarang pemilu. Itu kadang-kadang pertanyaannya nyeleneh kepada rakyat yang ikut menjawab kuesioner, betul tidak. Kita tunggu saja 2014, saya yakin partai kami akan tetap menjadi partai pemenang. Mudah saja. Apa ada figur yang sekarang di atas 50 persen selain pak SBY, tidak ada! Semua di bawah 10 persen.

Penggagas atau founding father-nya Partai Demokrat itu pak SBY jadi kalau beliau sudah mengatakan pilih Demokrat, maka pasti semua akan pilih Demokrat. Jangankan partainya, yang bukan partai politik pun dipilih rakyat, contohnya DPD. Semua yang nomor 31 dulu kan menang, itu yang tidak termasuk diperkirakan orang karena lebih percaya pada polling.

Artinya kalau SBY masih tetap jadi godfather, Demokrat masih tetap aman?

Iya, tapi jangan godfather-lah. Selama Pak SBY masih jadi Ketua Dewan Pembina.

Memang ada calon presiden dari Demokrat yang seperti SBY?

Siapa bilang, tunggu dong. Kalau sekarang sudah mencalonkan diri semua, sama saja dengan siap-siap akan telanjang. Masih ada dua tahun lagi, tunggu tanggal mainnya. Ingat, mau jadi presiden itu harus manusia setengah dewa dan yang lagi ramai-ramai (mencalonkan diri) sekarang ini kan semua ada masalah hukum.

Ada kasus lumpur Lapindo, kasus kereta api di Departemen Perhubungan, macam-macam (tertawa). Jadi biarkan saja, saya optimistis bisa di 2014 karena rakyat kita itu cerdas. Apalagi setelah mendengarkan pidato Pak SBY di Cikeas dan Istana Negara bahwa yang melakukan korupsi itu oknum dan partai tidak pernah terlibat.

Nyatanya dana juga tidak ada yang mengalir ke partai kok, jadi hanya oknumnya. Memang karena nila setitik, tapi titiknya tidak seberapa karena yang baiknya masih banyak. Masih ada Pak SBY, masih ada si Poltak Raja Minyak (tertawa).

Tapi soal popularitas sudah ditunjukkan oleh beberapa kali survei adanya kemerosotan?.

Beberapa minggu lalu, kami ada di nomor urut tiga setelah Golkar dan PDIP, sekarang kami nomor dua. Kemudian ingat, dua minggu lalu saat kami nomor tiga, Golkar di posisi 18 persen, sekarang hanya 15 persen lebih. PDIP juga turun di bawah kami. Jadi sebentar lagi kami akan kembali lagi ke nomor urut satu. Pasti.

Memangnya langkah konkret apa yang sudah diambil Demokrat untuk memperbaiki citra?

Seperti yang sudah saya katakan, masalah-masalah hukum itu kan sudah berproses. Ingat pidato Pak SBY yang sangat simpatik itu. Untuk mencegah dan memberantas korupsi, tanggung jawab kita semua kepada Tuhan termasuk juga tanggung jawab KPK kepada Tuhan. Jadi sekarang lagi berproses.

Sabar saja, enam bulan ini lagi selesai masalah ini dan kami akan langsung melejit di atas 20-an persen, seperti meteor. Saya kan orang hukum, enam bulan lagi pasti selesai karena Nazaruddin sudah diperiksa, sebulan lagi putusan, Angie sudah BAP dan akan diperiksa.

Bagaimana dengan Anas Urbaningrum?

Ya karena itu, waktunya enam bulan. Dalam tempo itu siapa-siapa yang terlibat lainnya akan diusut. Jadi tidak ada masalah, setelah enam bulan kami akan naik.

Soal Angie di Komisi Hukum dan boikot pers, apa ini tak memperburuk citra partai?

Oh tidak, pak SBY sudah langsung 'turun' dan mengatakan itu putusan yang tidak cerdas. Orang kalau pak SBY sudah turun akan langsung simpatik. Kadernya sendiri pun dibilang tidak cerdas. Jadi orang paling simpatiklah melihat partai kami, tidak ada seperti partai lain. Kalau sudah jadi terpidana langsung dinonaktifkan.

Kami, loyalis pak SBY yang bersih-bersih, tidak setuju. Biar saja yang lain-lain bilang seperti itu. Saya bisa begini karena setia terus kok, apalagi saya kan ketua Komunikasi dan Informatika, harusnya sayalah yang bisa bilang seperti itu. Yang lain itu biasalah, mungkin mau curi start dan kegenitan. Karena itu saya minta kepada seluruh kader Demokrat agar tak bikin masalah baru.

Bahkan kemarin, saat saya siaran langsung (live) di sebuah stasiun televisi, saya meminta maaf sebagai ketua Kominfo. Seperti yang dikatakan oleh Pak SBY, kita sangat bersahabat dengan pers. Jadi kalau ada yang menambah masalah sedangkan badai belum berlalu, itu kegenitan.

Jadi menurut Anda itu tidak berpengaruh buruk pada citra partai?

Awalnya iya. Tapi setelah beliau ngomong, kami kan jadi meningkat dari urutan ketiga menjadi urutan kedua.

Kuncinya ada pada Anas dan SBY, sebab ada kesan DPP dan Dewan Pembina bertikai?

Oh tidak, tidak ada bertikai, karena tidak ada lembaga di dalam partai Demokrat yang berani melawan Pak SBY. Ayo tunjukkan siapa yang berani. Tidak ada, karena semua tahu bisa menikmati kemerdekaan itu karena partai ini dilahirkan pak SBY dan diridhoi Tuhan. Tanpa beliau, tak ada apa-apanya. Kami bisa karena Pak SBY. Karena itu kami tidak akan jadi kacang yang lupa akan kulitnya.

Bagaimana dengan yang disuarakan kader lain di Demokrat?

Kalau yang negatif-negatif itu, sudahlah. Saya yakin mereka akan seperti bunga yang akan layu sebelum berkembang (tertawa). Jadi tidak benar, kami tetap solid, dan kami tidak akan melindungi kader kami yang memang korupsi.

Tadi Anda bilang enam bulan akan selesai dan tak akan melindungi kader yang korupsi?

Karena itu kami minta KPK segera jemput bola. Jangan menunggu-nunggu lagi. Kalau kita kurang apa dengan mengatakan tidak akan melindungi kader kami. Itulah cara kami mengantar bola. Kalau partai lain, kadernya sudah diputuskan pidana, masih dicoba lagi untuk aktif di DPR, kalau kami tidak.

(nwk/vit)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel