Senin, 13/02/2012 21:43 WIB

SBY: FPI Harus Bertanya Kenapa Bisa Ditolak di Kalteng?

Rachmadin Ismail - detikNews
Jakarta - Presiden SBY memantau kasus penolakan kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Semua organisasi memiliki hak untuk mendirikan cabang di setiap daerah di Indonesia. Namun organisasi itu pun harus berkaca mengapa ditolak di suatu daerah.

"Sejumlah organisasi massa pasti mengerti, membuat tidak nyaman bagi sebagian kalangan. Tentu harus bertanya kenapa? Yang lain boleh tapi saudara-saudara kita yang ada di FPI tidak boleh," jelas SBY dalam dialog dengan wartawan di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (13/2/2012).

SBY sudah berkomunikasi dengan Gubernur Kalteng Terang Narang, Menkopolhukam Djoko Suyanto, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo terkait insiden di Kalteng pada Sabtu (12/2) di mana warga Kalteng menolak pendirian cabang FPI.

"Saya sudah berbincang dengan Mendagri mengenai UU Ormas yang ada sejak 1985. Hingga era reformasi, kebebasan di mana-mana, NGO bisa berbuat apa saja, ada freeodm of speech, freedom of pers, tetapi tidak ada freedom of action," terang SBY mengomentari FPI.

Sebenarnya semua organisasi massa bisa melakukan kegiatan dan mendirikan cabang di mana-mana, sepanjang itu tidak bertentangn dengan UU.

"Menyikapi kejadian di Kalimantan, jajaran di Kalimantan jangan lengah. Bisa saja ada yang mengagitasi, karena itu ambil langkah bijak yang tepat. Jangan terjadi lagi aksi kekerasan atas nama agama, etnis, dan atas nama apapun, negara kita menjunjung atas nama ketertiban," tuturnya.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(ndr/nvt)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 22/08/2014 12:40 WIB
    ANS Kosasih: Fokus Pelayanan Prima TransJ, Kurangi 1 Juta Perjalanan di 2017
    Gb PT Transportasi Jakarta baru saja dibentuk pada Maret 2014 lalu. PT Transportasi Jakarta ini masih mengalami masa transisi dari BLU UP TransJakarta. Fokus mereka menggunakan teknologi untuk meningkatkan pelayanan menjadi prima hingga bisa mengurangi 1 juta perjalanan di tahun 2017 nanti.
ProKontra Index »

Pemprov DKI Larang Aplikasi Taksi Uber

Baru diluncurkan sepekan, aplikasi penghubung taksi Uber langsung mendapat respons negatif dari Pemprov DKI. Alasan pelarangannya, mulai dari tak ada izin, tak ada kantor, tak mengikuti tarif resmi, berpelat hitam sehingga dikhawatirkan merugikan konsumen. Bila Anda setuju dengan Pemprov DKI yang melarang aplikasi taksi Uber, pilih Pro! Bila tidak setuju pelarangan taksi Uber, pilih Kontra!
Pro
82%
Kontra
18%