Anggota Timwas Century: Rencana Beli Bank Mutiara Tidak Masuk Akal
Senin, 13/02/2012 01:37 WIB
Jakarta
Yawadwipa companies menyatakan berminat untuk membeli Bank Mutiara dengan harga mahal Rp 6,75 triliun. Anggota Timwas Century DPR Bambang Soesatyo menilai minat beli tersebut tidak masuk akal.
"Minat beli investor atas eks Bank Century patut dicurigai. Minat beli itu bisa saja berlatarbelakang kejahatan kerah putih, yakni penghilangan jejak tindak pidana pencurian uang negara. Selain itu, minat beli itu juga sebagai modus pencucian uang negara," ujar Bambang Soesatyo kepada detikcom, Minggu (12/2/2012).
Bambang mengatakan dalam konteks pertimbangan imvestasi, minat beli Bank Mutiara itu tidak wajar dan tidak masuk akal. Sebab, Bank Mutiara dengan semua asetnya masuk kategori aset bermasalah.
"Sejatinya, seorang investor akan menolak membeli aset bermasalah, apalagi aset dengan muatan masalah politik," imbuhnya.
Karena itu, lanjut Bambang, investor yang berminat membeli Bank Mutiara patut dicurigai. Bambang meyakini adanya motif kriminal atau kejahatan kerah putih dibalik minat investasi itu.
"Jangan lupa bahwa eks pemilik Bank Century, Hesham dan Rafaat ali sedang menggugat pemerintah RI di arbitrasi internasional. Gugatan ini menempatkan semua aset eks Bank Century bermasalah," ungkapnya.
"Dengan demikian, minat beli itu bukan hanya tidak wajar dan tidak masuk akal, tetapi juga sangat dipaksakan. Pasti ada kekuatan besar yang ingin menghilangkam jejak tindak pidana pencurian uang negara," tutupnya.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) awal Februari lalu memang membuka lagi lelang penjualan Bank Mutiara. Penjualan Bank Mutiara dalam 2 kali kesempatan gagal karena tidak berhasil menemukan pembeli yang memenuhi syarat, terutama soal harga yang mencapai Rp 6,7 triliun.
Nah, awal pekan ini, perusahaan equity fund, Yawadwipa Companies membuat heboh karena mengumumkan rencananya membeli Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,7 triliun. Niat Yawadwipa itu mendapatkan banyak respons miring karena baru berdiri pada 9 Januari 2012, namun sudah berani koar-koar membeli Bank Mutiara pada harga mahal.
Atas tudingan miring tersebut, Direktur Operasional Yawadwipa Companies Prasetyo Singgih menyatakan pihaknya memang tengah mengincar Bank Mutiara, dan tak ada misteri apapun meski perusahaan ini baru berdiri 9 Januari 2012.
"Tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Yawadwipa sebagai private equity firm yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok profesional. Jadi simpel dan clear!" tegas Prasetyo kepada detikFinance.
(mpr/mpr)
"Minat beli investor atas eks Bank Century patut dicurigai. Minat beli itu bisa saja berlatarbelakang kejahatan kerah putih, yakni penghilangan jejak tindak pidana pencurian uang negara. Selain itu, minat beli itu juga sebagai modus pencucian uang negara," ujar Bambang Soesatyo kepada detikcom, Minggu (12/2/2012).
Bambang mengatakan dalam konteks pertimbangan imvestasi, minat beli Bank Mutiara itu tidak wajar dan tidak masuk akal. Sebab, Bank Mutiara dengan semua asetnya masuk kategori aset bermasalah.
"Sejatinya, seorang investor akan menolak membeli aset bermasalah, apalagi aset dengan muatan masalah politik," imbuhnya.
Karena itu, lanjut Bambang, investor yang berminat membeli Bank Mutiara patut dicurigai. Bambang meyakini adanya motif kriminal atau kejahatan kerah putih dibalik minat investasi itu.
"Jangan lupa bahwa eks pemilik Bank Century, Hesham dan Rafaat ali sedang menggugat pemerintah RI di arbitrasi internasional. Gugatan ini menempatkan semua aset eks Bank Century bermasalah," ungkapnya.
"Dengan demikian, minat beli itu bukan hanya tidak wajar dan tidak masuk akal, tetapi juga sangat dipaksakan. Pasti ada kekuatan besar yang ingin menghilangkam jejak tindak pidana pencurian uang negara," tutupnya.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) awal Februari lalu memang membuka lagi lelang penjualan Bank Mutiara. Penjualan Bank Mutiara dalam 2 kali kesempatan gagal karena tidak berhasil menemukan pembeli yang memenuhi syarat, terutama soal harga yang mencapai Rp 6,7 triliun.
Nah, awal pekan ini, perusahaan equity fund, Yawadwipa Companies membuat heboh karena mengumumkan rencananya membeli Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,7 triliun. Niat Yawadwipa itu mendapatkan banyak respons miring karena baru berdiri pada 9 Januari 2012, namun sudah berani koar-koar membeli Bank Mutiara pada harga mahal.
Atas tudingan miring tersebut, Direktur Operasional Yawadwipa Companies Prasetyo Singgih menyatakan pihaknya memang tengah mengincar Bank Mutiara, dan tak ada misteri apapun meski perusahaan ini baru berdiri 9 Januari 2012.
"Tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Yawadwipa sebagai private equity firm yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok profesional. Jadi simpel dan clear!" tegas Prasetyo kepada detikFinance.
(mpr/mpr)
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 16:36 WIB
JK: SBY Sudah Pikirkan Baik Buruk Grasi Corby
-
Minggu, 27/05/2012 16:30 WIB
Survei: Mayoritas Warga DKI Tak Yakin Banjir Bisa Selesai dalam 3 Tahun
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 16:24 WIB
Pemprov Sumut Inventarisir 5 Calon Nama Bandara Kualanamu
-
Minggu, 27/05/2012 15:58 WIB
Jusuf Kalla: Soal Capres, Tunggu Saja!
-
Minggu, 27/05/2012 16:36 WIB
JK: SBY Sudah Pikirkan Baik Buruk Grasi Corby
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
704 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
