detikcom

PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus

Nurvita Indarini - detikNews
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
Jakarta Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud menyaratkan menulis di jurnal ilmiah sebagai syarat lulus S1, S2 dan S3. Ada yang pro dan ada yang kontra. Bagi yang pro, kebijakan ini dinilai sangat bagus karena bisa meningkatkan kualitas alumnus dan membuat mahasiswa tak asal lulus.

"Kalau nggak dipaksa nanti nggak maju. Di kita ini kan masih biasa dipaksa dulu untuk maju. Karena ada juga mahasiswa yang malas, mahasiswa yang asal lulus. Dengan ini, maka akan semakin meningkatkan kualitas mahasiswa. Agar mahasiswa bukan sekadar status dan gelarnya bukan sekadar gelar," ujar Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI), Sri Hartinah.

Berikut ini wawancara detikcom dengan Hartinah, Jumat (10/2/2012):

Dirjen Dikti Kemendikbud mensyaratkan kelulusan mahasiswa S1, S2 dan S3 dengan menulis di jurnal ilmiah. Menurut Anda, apakah kondisi jurnal ilmiah kita sangat memprihatinkan?

Data jumlah jurnal yang terdaftar sekitar 7.000 buah. Dari jumlah tersebut, hanya 4.000 jurnal yang masih aktif, dan yang terakreditasi LIPI sekitar 400 jurnal ilmiah. Artinya tidak sampai 15 persen.

Itu data di LIPI, karena ada jurnal ilmiah dari lembaga penelitian yang proses akreditasinya dari LIPI. Tapi perlu dilihat juga data di Dikti Kemendikbud, karena Dikti mengakreditasi jurnal ilmiah juga.

Tanggapan Anda soal menulis jurnal menjadi syarat kelulusan?

Ya kenapa tidak? Kalau di luar negeri, itu wajib. Doktor juga kan sebelum lulus diminta mempublikasikan tulisan di jurnal internasional. Saya rasa ini bagus untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Saya kira ini kebijakan bagus untuk meningkatkan kualitas lulusan ke depan. Ini bisa memacu mereka untuk lebih baik. Kalau tulisannya masuk ke jurnal kan nantinya bisa diindeks juga oleh jurnal internasional.

Muncul kekhawatiran banyak bermunculan jurnal yang tidak memenuhi standar? Juga menjamurnya jasa penulisan jurnal?

Kalau abal-abal nggak bisa masuk ke ilmiah, nantinya tidak akan dapat akreditasi. Kalau jasa penulisan jurnal, selama ini kita juga tahu ada yang menawarkan jasa penulisan skripsi. Jadi ini tergantung orangnya.

Seharusnya ditekankan penulisan di jurnal terakreditasi?

Iya. Karena lebih terpercaya. Suatu tulisan untuk masuk ke jurnal itu juga ada ujinya. Ada reviewer untuk melihat kelayakan. Kalau kurang layak nanti dikembalikan kepada penulis untuk diperbaiki.

Untuk S1, mereka kan juga menulis skripsi. Sudah penelitian juga. Nanti kalau ada poin yang ditulis dan dimasukkan ke jurnal, maka akan ada nilai tambah. Tulisan itu bisa dikutip orang lain, lalu bisa ada penelitian lanjutan. Suatu tulisan yang dipublikasikan ke jurnal, saya yakin pasti ada nilai tambahnya.

Yang dikhawatirkan adalah jumlah jurnal yang terbatas padahal jumlah mahasiswa yang akan lulus ratusan ribu. Bagaimana jalan keluarnya?

Memang dalam satu jurnal itu artikelnya paling 5-6. Tapi nggak apa. Semakin banyak tulisan yang masuk, maka akan masuk bank naskah. Jadi saling menguntungkan, jurnal punya bank soal sementara mahasiswa membutuhkannya untuk lulus. Ke depan, kualitas penulisan di dunia keilmiahan saya kira akan semakin baik. Yang jurnalnya belum terakreditsi akan berusaha untuk mengakreditasi.

Bukankah kasihan mahasiswanya, tidak segera lulus karena tulisannya belum dimuat di jurnal ilmiah?

Tulisan yang masuk akan direview dulu, jadi menurut saya mahasiswa tidak perlu tunggu sampai tulisannya dimuat. Asal sudah direview dan mendapat surat tanda sudah direview ya sudah bisa. Kalau belum baik silakan diperbaiki. Ini juga bisa menjadi bentuk pembinaan ke mahasiswa.

Menurut saya, kebijakan ini tidak perlu dikhawatirkan. Karena tujuannya kan baik untuk tujuan kemajuan ilmu pengetahuan dan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa. Dengan menulis sesuatu, meneliti, mahasiswa akan semakin tahu dan memahami sesuatu.

Dengan syarat ini jadi terkesan ada pemaksaan?

Kalau nggak dipaksa nanti nggak maju. Di kita ini kan masih biasa dipaksa dulu untuk maju. Karena ada juga mahasiswa yang malas, mahasiswa yang asal lulus. Dengan ini, maka akan semakin meningkatkan kualitas mahasiswa. Agar mahasiswa bukan sekadar status dan gelarnya bukan sekadar gelar.

Ada jalan lain terkait keterbatasan jumlah jurnal?

Bisa menggunakan jurnal online, mengingat saat ini jurnal online mulai bermunculan. Jurnal online adalah jurnal ilmiah berbentuk cetak yang ditransformasi ke teknologi informasi. Ada keterbukaan informasi juga di sini. Jadi ini jurnal cetak yang digitalkan, penerbitan manual.

Ada juga jurnal elektronik atau e-journal. Jenis ini ada yang ada bentuk cetaknya, dan ada yang tidak. Jadi, administrasi sampai review itu pakai proses elentronik, begitu juga dengan penerbitannya.

(vit/nrl)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel