Jadi Syarat Lulus S1, Awas Jurnal Ilmiah Abal-abal Menjamur!
Jumat, 10/02/2012 11:52 WIB
Wisuda sarjana/Dok Humas UI
Jakarta
Menulis di jurnal ilmiah menjadi syarat kelulusan mahasiswa S1, S2, dan S3. Jumlah jurnal ilmiah di Tanah Air tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang lulus. Karena itu dikhawatirkan jurnal ilmiah abal-abal akan menjamur.
"Tidak mudah karena jumlah jurnal yang ada terbatas. Nantinya malah banyak yang abal-abal," kata Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, Edy Suandi Hamid, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (10/2/2012).
Dikatakan dia, jumlah jurnal karya ilmiah di perguruan tinggi Indonesia lebih rendah ketimbang beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura dan Thailand adalah fakta. Tetapi Dirjen Dikti Kemendikbud juga harus realistis melihat situasi yang ada.
"Untuk S2 dan S3 saya kira bisa. Tapi kalau sarjana, saya kira tidak mudah. Per tahunnya saja, ada 800 ribu mahasiswa yang lulus. Nah, jurnal ilmiah yang ada tidak akan menampung," terang Edy.
Ditambahkan pria yang juga Rektor UII ini, berdasar data Indonesian Scientific Journal Database pada Oktober 2009, terdata sekitar 2.100 jurnal di Indonesia yang masih aktif. Jika setiap jurnal hanya terdiri dari 5 artikel saja, tentu tidak bisa mewadahi jumlah mahasiswa yang akan lulus.
"Kalau cuma dimasukkan ke online saja, yakni abstraknya saja, mungkin bisa. Tapi kan tidak semua universitas memfasilitasi ini," lanjut Edy.
Dengan kebijakan Dirjen Dikti ini, Edy juga khawatir akan bermunculannya jasa penulisan jurnal. "Nanti banyak juru tulis ilmiah," ucapnya sambil terkekeh.
Surat Dirjen Dikti yang menjadi kontroversi adalah surat bertanggal 27 Januari 2012 tentang publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa S1, S2, dan S3 sebagai syarat kelulusan yang berlaku mulai Agustus 2012.
Bunyi surat Dirjen Dikti Djoko Santoso yang menyangkut syarat kelulusan adalah:
Sebagimana kita ketahui pada saat sekarang ini, jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkannya. Sehubungan dengan itu terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlukan ketentuan sebagai berikut:
Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah
Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti
Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.
(vit/nrl)
"Tidak mudah karena jumlah jurnal yang ada terbatas. Nantinya malah banyak yang abal-abal," kata Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, Edy Suandi Hamid, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (10/2/2012).
Dikatakan dia, jumlah jurnal karya ilmiah di perguruan tinggi Indonesia lebih rendah ketimbang beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura dan Thailand adalah fakta. Tetapi Dirjen Dikti Kemendikbud juga harus realistis melihat situasi yang ada.
"Untuk S2 dan S3 saya kira bisa. Tapi kalau sarjana, saya kira tidak mudah. Per tahunnya saja, ada 800 ribu mahasiswa yang lulus. Nah, jurnal ilmiah yang ada tidak akan menampung," terang Edy.
Ditambahkan pria yang juga Rektor UII ini, berdasar data Indonesian Scientific Journal Database pada Oktober 2009, terdata sekitar 2.100 jurnal di Indonesia yang masih aktif. Jika setiap jurnal hanya terdiri dari 5 artikel saja, tentu tidak bisa mewadahi jumlah mahasiswa yang akan lulus.
"Kalau cuma dimasukkan ke online saja, yakni abstraknya saja, mungkin bisa. Tapi kan tidak semua universitas memfasilitasi ini," lanjut Edy.
Dengan kebijakan Dirjen Dikti ini, Edy juga khawatir akan bermunculannya jasa penulisan jurnal. "Nanti banyak juru tulis ilmiah," ucapnya sambil terkekeh.
Surat Dirjen Dikti yang menjadi kontroversi adalah surat bertanggal 27 Januari 2012 tentang publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa S1, S2, dan S3 sebagai syarat kelulusan yang berlaku mulai Agustus 2012.
Bunyi surat Dirjen Dikti Djoko Santoso yang menyangkut syarat kelulusan adalah:
Sebagimana kita ketahui pada saat sekarang ini, jumlah karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Indonesia secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, hanya sekitar sepertujuh. Hal ini menjadi tantangan kita bersama untuk meningkatkannya. Sehubungan dengan itu terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlukan ketentuan sebagai berikut:
Untuk program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah
Untuk program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti
Untuk program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal Internasional.
(vit/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 14:35 WIB
Gagal Curi Motor Kamerawan TVRI, Hendra Beraksi di Karawang
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 14:23 WIB
PKB Belum Siapkan Capres 2014, Tunggu Pileg
-
Minggu, 27/05/2012 13:40 WIB
Corby Diusulkan Jadi Duta Anti Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 13:40 WIB
Jelang Pilkada DKI, Alex Noerdin Diangkat Jadi Dewan Kehormatan MKGR
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 13:23 WIB
Komisi III DPR: Konser Lady Gaga Batal Terganjal Persyaratan
-
Minggu, 27/05/2012 13:40 WIB
Corby Diusulkan Jadi Duta Anti Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
630 Komentar
-
288 Komentar
-
254 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
