Ini Dia Pertimbangan Membeli Pesawat Kepresidenan
Kamis, 09/02/2012 18:04 WIB
Boeing BusinessJet 2 (foto: flightsim.com)
Jakarta
Setelah sekian tahun merencanakan pengadaannya, pemerintah akhirnya jadi juga membeli pesawat kepresidenan. Pembelian ini didasari oleh banyak pertimbangan, salah satunya adalah faktor keamanan dan analisis biaya operasional yang lebih murah dibandingkan sewa seperti selama ini.
"Rencana pembelian pesawat kepresidenan sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama. Ini untuk penghematan anggaran. Ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan," ujar kata Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Lambock V Nahattans, saat konferensi pers di Kantor Setneg, Jl Veteran, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Beberapa aspek yang menjadi bahan perbandingan antara carter pesawat dengan membeli pesawat sendiri yakni aspek keamanan, aspek operasional dan aspek ekonomi.
"Untuk aspek keamanan, pesawat sewaan itu memiliki resiko keamanan yang lebih tinggi. Sebab selain digunakan untuk mendukung VVIP, pesawat juga digunakan penerbangan komersial," terang Lambock.
Selain itu, kata Lambock, pesawat sewaan tidak dilengkapi dengan peralatan navigasi dan komunikasi khusus yang mampu mendukung pekerjaan Presiden RI selama berada dalam perjalanan.
Sementara untuk aspek operasional, pelayanan dan kesiapan pesawat carter dinilai tidak optimal. Salah satunya adalah perubahan komposisi kursi dan penyesuaian tempat duduk itu bisa memakan waktu 24 jam penuh.
"Kalau pesawat carter, H-1 dipakai harus dilakukan rekonfigurasi interior. Kursi-kurisi nya harus ditata sesuai dengan spesifikasi VVIP," terang Lambock.
Pesawat carter juga tidak bisa dipakai untuk mendarat di bandara-bandara kecil. Sebab, rata-rata pesawat carter adalah pesawat yang berbadan besar.
"Jika memakai pesawat khusus kepresidenan lebih optimal karena perlengkapan dan sitem komunikasi telah disesuaikan dengan kebutuhan VVIP," katanya.
Untuk aspek ekonomi, biaya carter dinilai jauh lebih mahal. Hal-hal yang menyebabkan ongkos carter lebih mahal yakni salah satunya karena pengerjaan rekonfigurasi untuk dipakai Presiden memakan banyak waktu bagi perusahaan komersial, dan waktu terbuang ini dibebankan pada biaya carter.
"Selain itu, jadwal penerbangan komersial menjadi terganggu dan terdapat opportunity loss berupa hilangnya pemasukan dari penerbangan komersial termasuk berkurangnya image pelayanan. Opportunity loss ini diperhitungkan pada biaya carter," jelas Lambock.
"Biaya carter pesawat juga tiap tahun cenderung naik," sambungnya.
(gun/lh)
"Rencana pembelian pesawat kepresidenan sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama. Ini untuk penghematan anggaran. Ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan," ujar kata Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), Lambock V Nahattans, saat konferensi pers di Kantor Setneg, Jl Veteran, Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Beberapa aspek yang menjadi bahan perbandingan antara carter pesawat dengan membeli pesawat sendiri yakni aspek keamanan, aspek operasional dan aspek ekonomi.
"Untuk aspek keamanan, pesawat sewaan itu memiliki resiko keamanan yang lebih tinggi. Sebab selain digunakan untuk mendukung VVIP, pesawat juga digunakan penerbangan komersial," terang Lambock.
Selain itu, kata Lambock, pesawat sewaan tidak dilengkapi dengan peralatan navigasi dan komunikasi khusus yang mampu mendukung pekerjaan Presiden RI selama berada dalam perjalanan.
Sementara untuk aspek operasional, pelayanan dan kesiapan pesawat carter dinilai tidak optimal. Salah satunya adalah perubahan komposisi kursi dan penyesuaian tempat duduk itu bisa memakan waktu 24 jam penuh.
"Kalau pesawat carter, H-1 dipakai harus dilakukan rekonfigurasi interior. Kursi-kurisi nya harus ditata sesuai dengan spesifikasi VVIP," terang Lambock.
Pesawat carter juga tidak bisa dipakai untuk mendarat di bandara-bandara kecil. Sebab, rata-rata pesawat carter adalah pesawat yang berbadan besar.
"Jika memakai pesawat khusus kepresidenan lebih optimal karena perlengkapan dan sitem komunikasi telah disesuaikan dengan kebutuhan VVIP," katanya.
Untuk aspek ekonomi, biaya carter dinilai jauh lebih mahal. Hal-hal yang menyebabkan ongkos carter lebih mahal yakni salah satunya karena pengerjaan rekonfigurasi untuk dipakai Presiden memakan banyak waktu bagi perusahaan komersial, dan waktu terbuang ini dibebankan pada biaya carter.
"Selain itu, jadwal penerbangan komersial menjadi terganggu dan terdapat opportunity loss berupa hilangnya pemasukan dari penerbangan komersial termasuk berkurangnya image pelayanan. Opportunity loss ini diperhitungkan pada biaya carter," jelas Lambock.
"Biaya carter pesawat juga tiap tahun cenderung naik," sambungnya.
(gun/lh)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 15:58 WIB
Jusuf Kalla: Soal Capres, Tunggu Saja!
-
Minggu, 27/05/2012 15:53 WIB
Merampas Motor di 21 Lokasi, Briptu Dirwanto Ditangkap di Indramayu
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
Minggu, 27/05/2012 15:39 WIB
Antrean Mobil Masuk ke Mal Macetkan Jalan Margonda Depok
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
Minggu, 27/05/2012 14:56 WIB
3 Orang Tewas & 3 Kritis Dalam Pesta Miras Oplosan di Indramayu
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
680 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
