detikcom

Pilih Marzuki, PD Riau Tak Tahu Dugaan Suap Anas di Kongres

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 09/02/2012 15:14 WIB
Pekanbaru Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Riau mengaku tidak kecipratan aliran dana Nazaruddin untuk memilih Ketum DPP Anas Urbaningrum di Kongres PD di Bandung 2010. Alasannya, PD Riau memilih Marzuki Alie.

Demikian disampaikan, Sekretaris DPD PD Riau, Koko Iskandar saat dihubungi detikcom, Kamis (9/2/2012) di Pekanbaru. Koko menampik isu jajaran pengurus DPD serta DPC Demokrat di Riau menerima aliran dana dari Nazar untuk memilih Anas.

"Setahu saya, saat dilakukan pemilihan ketua umum, jajaran pengurus DPD dan DPC Demokrat di Riau lebih memilih Marzuki Alie," kata Koko.

Koko menjelaskan, saat kongres, dia belum menjabat sebagai Sekretaris DPD Demokrat Riau, sehingga tidak tahu detail bagaimana proses dan seluk beluk pemilihan di kongres. Namun ia yakin jajaran pengurus di Riau tidak memilih Anas.

Sementara, mantan Sekretaris DPD Demokrat Riau, Said Abubakar, saat dikonfirmasi detikcom, membenarkan bahwa Riau pada dasarnya mendukung Marzuki Alie. Pertimbangannya Marzuki dianggap orang lama yang banyak mengayomi sejumlah pengurus di jajaran DPC dan DPD.

"Jadi kami tidak tahu soal suap atau uang apa pun dalam pemilihan itu," kata Said.

Menurut Said, ketika akan dilakukan pemilihan ketum, dia bersama jajaran pengurus PD Riau, selalu dilobi tim sukses Anas. Namun, pihaknya tetap komit untuk mendukung Marzuki.

Said mengakui, ada dua pengurus DPC yang diduga membelot untuk mendukung Anas. Hal itu dimungkinkan, karena sejumlah pengurus kedua DPC tersebut beberapa kali menerima undangan bertemu dengan tim sukses Anas.

"Apa yang mereka bicarakan, saya tidak tahu, karena memang kami tidak mendukung Anas. Karena saya ini tidak mendukung Anas, makanya saya pun didepak dari kursi Sekretaris DPD,” kata Said yang kini menjabat Sekretaris Badan Kehormatan DPD Demokrat Riau.

Isu suap mencuat saat sejumlah DPD mengaku menerima dana saat kongres. Mantan Ketua DPC Demokrat Minahasa Tenggara, Diana Maringka misalnya, mengaku menerima uang sekitar Rp 100 juta dalam pecahan rupiah dollar dan BlackBerry. Dia siap mengembalikannya. Isu ini diusulkan dibahas Dewan Kehormatan dan Dewan Pengawas agar ke depan partai tidak diisi orang bermasalah.

(try/nrl)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel