MPR: Hari Pers Nasional, Kembalikan Independensi Pers!
Kamis, 09/02/2012 08:08 WIB
Jakarta
Majelis Permusyawaratan Rakyat merespon peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh hari ini. MPR berharap pers nasional mampu kembali kepada independensinya.
"Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-27, kita semua dan insan pers khususnya, harus mampu mengembalikan independensi pers. Kini pers telah jadi industri. Liberalisasi ekonomi melanda dunia penyiaran kita. Ini tantangan terbesar. Negara dan penggiat pers sendiri harus mampu mengaturnya secara berkeadilan," kata Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saifuddin, kepada detikcom, Kamis (9/2/2012).
Lukman menilai, saat ini banyak lembaga penyiaran dimonopoli kepemilikannya. Sehingga frekuensi publik yang hakekatnya milik bersama juga didominasi, sementara lembaga penyiaran lokal makin tak berdaya.
"Lembaga Penyiaran Publik (TVRI dan RRI) jadi merana, kalah bersaing dengan yang menggurita," papar Lukman.
Akibatnya, imbuh Lukman, terjadi sentralisasi konten yang bias Jakarta. Rating, iklan, semuanya ditentukan selera pusat. Info keragaman daerah jadi tertutup.
"Juga marak tayangan sadisme, kekerasan, pornografi, yang diumbar tanpa saringan yang penjelasan yang memadai. Liberalisasi konten sepertinya tanpa kendali," kritiknya.
Karena itu, lanjut Lukman, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai institusi negara untuk mengawasi praktek penyimpangan terhadap UU Penyiaran harus lebih diberdayakan.
"Pada intinya, semoga peringatan HPN ini juga sekaligus ajang refleksi dan mawas diri atas kondisi dunia pers kita," tandasnya.
(van/mok)
"Memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-27, kita semua dan insan pers khususnya, harus mampu mengembalikan independensi pers. Kini pers telah jadi industri. Liberalisasi ekonomi melanda dunia penyiaran kita. Ini tantangan terbesar. Negara dan penggiat pers sendiri harus mampu mengaturnya secara berkeadilan," kata Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saifuddin, kepada detikcom, Kamis (9/2/2012).
Lukman menilai, saat ini banyak lembaga penyiaran dimonopoli kepemilikannya. Sehingga frekuensi publik yang hakekatnya milik bersama juga didominasi, sementara lembaga penyiaran lokal makin tak berdaya.
"Lembaga Penyiaran Publik (TVRI dan RRI) jadi merana, kalah bersaing dengan yang menggurita," papar Lukman.
Akibatnya, imbuh Lukman, terjadi sentralisasi konten yang bias Jakarta. Rating, iklan, semuanya ditentukan selera pusat. Info keragaman daerah jadi tertutup.
"Juga marak tayangan sadisme, kekerasan, pornografi, yang diumbar tanpa saringan yang penjelasan yang memadai. Liberalisasi konten sepertinya tanpa kendali," kritiknya.
Karena itu, lanjut Lukman, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai institusi negara untuk mengawasi praktek penyimpangan terhadap UU Penyiaran harus lebih diberdayakan.
"Pada intinya, semoga peringatan HPN ini juga sekaligus ajang refleksi dan mawas diri atas kondisi dunia pers kita," tandasnya.
(van/mok)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 15:53 WIB
Merampas Motor di 21 Lokasi, Briptu Dirwanto Ditangkap di Indramayu
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
Minggu, 27/05/2012 15:39 WIB
Antrean Mobil Masuk ke Mal Macetkan Jalan Margonda Depok
-
Minggu, 27/05/2012 15:31 WIB
Salut! 100 Persen Siswa di Pulau Terluar Indonesia Lulus UN
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 14:56 WIB
3 Orang Tewas & 3 Kritis Dalam Pesta Miras Oplosan di Indramayu
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 13:40 WIB
Corby Diusulkan Jadi Duta Anti Narkoba
-
677 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
