Jimly Minta KPK Bekerja Cepat Tuntaskan Kasus Wisma Atlet
Selasa, 07/02/2012 14:59 WIB
Surabaya
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie meminta KPK untuk bekerja secara profesional dan tidak terlalu lama menangani kasus korupsi Wisma Atlet. Sebab, saat ini konsentrasi publik tertuju pada masalah tersebut.
"Karena dia (KPK) harus menyadari, dia sedang ditonton oleh masyarakat," kata Jimly kepada wartawan usai menghadiri acara pengukuhan pengurus Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI) Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Selasa (7/2/2012).
Jimly menilai, KPK tidak perlu terlalu kaku dalam melihat persoalan. Ia berharap, KPK bisa mempercayai hakim dalam persidangan korupsi.
"Jangan terlalu kaku melihat persoalan. Percayalah, bahwa hakim itu tahu apa yang harus dibuktikan. Jadi jangan karena kurang buktinya gini gitu. Hakim itu bisa menangkap apa kebenaran yang ada di balik bukti-bukti itu, meskipun buktinya kurang lengkap," ujarnya.
Jika penanganan korupsi tidak segera tuntas, maka hukum bisa dipolitisir. Ujung-ujungnya, masyarakat tidak akan percaya lagi dengan penegakan hukum.
"Makin lama jadi konsumsi, makin terpolitisisasi. Karena itu, tenaga hukum harus kerja cepat," tuturnya.
Ia menambahkan, memang hukum acara di Indonesia boleh dibilang terlambat. Sementara, para penegak hukum berpikirnya penanganan hukum harus sempurna, sehingga seolah-olah tidak percaya lagi pada keputusan hakim.
"KPK jangan terlalu legalistik. Jangan terlalu mekanistik hanya gara-gara dia tidak punya SP3, lalu ingin sempurna. Percayalah pada hakim, hakim itu punya sense of justice, walaupun ada juga yang tidak bisa dipercaya," jelasnya.
(try/nrl)
"Karena dia (KPK) harus menyadari, dia sedang ditonton oleh masyarakat," kata Jimly kepada wartawan usai menghadiri acara pengukuhan pengurus Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI) Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Selasa (7/2/2012).
Jimly menilai, KPK tidak perlu terlalu kaku dalam melihat persoalan. Ia berharap, KPK bisa mempercayai hakim dalam persidangan korupsi.
"Jangan terlalu kaku melihat persoalan. Percayalah, bahwa hakim itu tahu apa yang harus dibuktikan. Jadi jangan karena kurang buktinya gini gitu. Hakim itu bisa menangkap apa kebenaran yang ada di balik bukti-bukti itu, meskipun buktinya kurang lengkap," ujarnya.
Jika penanganan korupsi tidak segera tuntas, maka hukum bisa dipolitisir. Ujung-ujungnya, masyarakat tidak akan percaya lagi dengan penegakan hukum.
"Makin lama jadi konsumsi, makin terpolitisisasi. Karena itu, tenaga hukum harus kerja cepat," tuturnya.
Ia menambahkan, memang hukum acara di Indonesia boleh dibilang terlambat. Sementara, para penegak hukum berpikirnya penanganan hukum harus sempurna, sehingga seolah-olah tidak percaya lagi pada keputusan hakim.
"KPK jangan terlalu legalistik. Jangan terlalu mekanistik hanya gara-gara dia tidak punya SP3, lalu ingin sempurna. Percayalah pada hakim, hakim itu punya sense of justice, walaupun ada juga yang tidak bisa dipercaya," jelasnya.
(try/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 15:03 WIB
Karyawan Terlibat Perampokan Alfamart di Depan PN Tangerang
-
Minggu, 27/05/2012 15:01 WIB
Masyarakat Kecewa 6 Cagub DKI Tak Seperti Ali Sadikin
-
Minggu, 27/05/2012 14:58 WIB
Eksekutor Penembak Kamerawan TVRI Ditetapkan Sebagai DPO
-
Minggu, 27/05/2012 14:56 WIB
3 Tewas dan 3 Kritis Dalam Pesta Miras Oplosan di Indramayu
-
Minggu, 27/05/2012 14:54 WIB
Jual Beli Mobil Hasil Curian Digagalkan, 4 Senpi Disita
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 13:40 WIB
Corby Diusulkan Jadi Duta Anti Narkoba
-
Minggu, 27/05/2012 13:23 WIB
Komisi III DPR: Konser Lady Gaga Batal Terganjal Persyaratan
-
669 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
