detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Kamis, 17/04/2014 19:28 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Kamis, 02/02/2012 17:28 WIB

Tragedi Berdarah Sepakbola, Mesir Berkabung Nasional Selama 3 Hari

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
CNN
Kairo - Tragedi sepakbola berdarah menyisakan duka mendalam bagi publik Mesir. Pemerintah pun menetapkan masa berkabung nasional selama 3 hari, terhitung sejak hari ini.

"Masa berkabung nasional diumumkan selama 3 hari, sejak hari Kamis (2 Februari 2012) hingga matahari tenggelam pada hari Sabtu (4 Februari 2012)," demikian pernyataan militer yang berkuasa di Mesir, Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) dalam akun Facebook-nya seperti dilansir oleh media terbesar di Mesir, Ahram Online, Kamis (2/2/2012).

Masa berkabung ini bertujuan untuk memberikan perhormatan terakhir bagi para korban tewas dalam tragedi sepakbola terburuk dalam beberapa tahun terakhir di Mesir tersebut. Ditambahkan juga, otoritas Mesir akan membentuk sebuah komite khusus untuk menyelidiki insiden maut yang sejauh ini menewaskan 74 orang.

"Sebuah komite penyelidikan akan dibentuk untuk menemukan kebenaran di balik insiden naas ini dan juga untuk membawa pihak-pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan," tegas SCAF dalam pernyataannya.

Dalam bentrokan maut ini, ratusan pendukung tim tuan rumah, Al-Masri menyerang pendukung tim lawan, Al-Ahly dengan melempari batu maupun botol. Atas kondisi ini, aparat polisi terlihat tak mampu mengendalikan situasi. Rekaman-rekaman video menunjukkan sejumlah polisi hanya berdiri melongo saat para suporter terlibat bentrok.

Para anggota parlemen Mesir menuding pemerintah militer Mesir sengaja membiarkan kerusuhan itu berlangsung. Tujuannya, untuk menjustifikasi penggunaan kekuatan militer dan polisi secara meluas.

Sedangkan para politikus serta fans sepakbola menyalahkan aparat polisi yang tidak melakukan pemeriksaan standar di gerbang stadion terhadap para penonton. Padahal dengan adanya pemeriksaan itu, polisi bisa mencegah masuknya pisau, pentungan ataupun senjata-senjata lain ke stadion.

Atas peristiwa berdarah itu, para anggota parlemen yang baru terpilih mengancam akan melakukan mosi tidak percaya kepada kabinet yang ditunjuk pemerintahan militer Mesir. Parlemen akan menggelar sidang darurat pada Kamis waktu setempat untuk membahas insiden maut tersebut.

Pemerintah menduga, kebanyakan korban tewas akibat terinjak-injak oleh kerumunan massa yang terlibat bentrok maupun yang berusaha melarikan diri. Namun pihak paramedis menuturkan, sejumlah korban tewas karena ditusuk. Hingga saat ini, sedikitnya 1.000 orang mengalami luka-luka akibat insiden ini.

Sementara itu, polisi setempat telah menahan 47 orang yang diduga sebagai provokator.

Ratusan mahasiswa di universitas Samratulangi Manado saling serang. Belasan gedung perkuliahan hancur dan puluhan sepeda motor dibakar. Saksikan liputan lengkapnya dalam program "Reportase Malam" pukul 02.51 WIB hanya di Trans TV

(nvc/ita)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 17/04/2014 12:31 WIB
    Dirut PT KCJ: Jangan Dulu Berharap Kereta Tepat Waktu
    Gb "PT KAI menggunakan track untuk kereta penumpang dan barang. Komuter di track yang sama. Dan jangan berharap ada ketepatan waktu jika rel digunakan bersama," kata Dirut PT KCJ Tri Handoyo.
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
83%
Kontra
17%