Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Jakarta
Miranda S Gultom mengaku masih tenang-tenang saja meski sudah ditetapkan sebagai tersangka suap pemilihan Dewan Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI). Ia bahkan meminta keluarganya agar tidak bersedih.
Penetapan tersangka membuat Miranda kaget tapi lega. Ia yakin ia tidak bersalah karena tidak melakukan apa-apa untuk pemenangan dirinya sebagai DGS BI.
“Saya tidak meminta orang untuk memberikan uang, mensponsori, atau menjanjikan apapun,” kata Miranda.
Berikut petikan wawancara reporter majalah detik Isfari Hikmat dengan Miranda S Gultom usai menjadi promotor dalam sidang doktor di UI:
Bagaimana tanggapan keluarga setelah status Anda dinaikkan sebagai tersangka?
Saya sudah minta jangan ada yang bersedih, karena saya yakin tidak melalukan apa-apa. Saya tidak meminta orang untuk memberikan uang, mensponsori, atau menjanjikan apapun. Saya rasa memang berat sebagai tersangka, saya tetap tenang karena saya tahu tidak melakukan apa-apa.
Lalu, apa yang Anda ketahui terkait permasalahan yang terjadi?
Yang saya ketahui, terbukti ada cek pelawat, yang saya ketahui ada beberapa puluh anggota DPR yang dihukum untuk menerima gratifikasi, yang saya ketahui Bu Nunun sekarang menjadi tersangka.
Kaitannya dengan Anda?
Saya kurang jelas juga kalau kaitannya dengan saya, apa permasalahan yang terjadi. Adanya cek pelawat itu baru saya ketahui Agustus 2008 saat Agus Condro membuka itu ke publik. Yang saya ketahui hanyalah di dalam proses pemilihan deputi gubernur senior, saya mengikuti fit and proper test.
Ada pertemuan khusus sebelum mengikuti fit and proper test?
Sebelum fit and proper test, saya melakukan pertemuan dengan dua fraksi.
Kenapa hanya dua fraksi?
Karena memang dua fraksi tersebut yang waktunya cocok, yaitu PDIP dan angkatan bersenjata. Tidak berdua-dua, pertemuan terbuka, berlima belas dan berempat.
Yang menjadi pembahasan?
Yang saya sampaikan adalah misi visi saya, satu. Kedua bahwa saya enggan mengikuti fit and proper test bila yang ditanya adalah pertanyaan pribadi dan keluarga yang ditonjolkan. Seperti halnya yang ditonjolkan saat saya mengikuti pemilihan calon gubernur 2003, justru yang paling dominan adalah pertanyaan mengenai masalah keluarga. Saya mengikuti fit and proper test itu sebagai seorang profesional.
Apakah anda yakin dengan kemampuan anda?
Kalau Anda tanya saya, apakah saya yakin bahwa saya patut terpilih. Dengan kredensi saya, dengan pengalaman saya, dengan pendidikan saya, saya patut dipilih. Sehingga sewaktu saya terpilih, saya tidak merasa aneh. Pada waktu saya tidak terpilih sebagai gubernur BI pada 2003 saya justru merasa aneh, ada apa?
Bagaimana selanjutnya Anda dapat terpilih sebagai deputi gubernur senior BI?
Pada 2004 waktu saya terpilih, saya pikir logislah, pada 2003 saja saya sudah dicalonkan untuk menjadi Gubernur (BI), masa untuk suatu rank yang lebih rendah saya tidak pantas.
Ada tanggapan mengenai penurunan status dari mencalonkan sebagai gubernur menjadi deputi gubernur?
Padahal waktu dicalonkan awalnya saya enggan, Anda bayangkan setelah dicalonkan menjadi gubernur lalu menjai deputi gubernur senior, kan enggak enak. Tapi saya memakai nalar jernih, bahwa ini sebagai suatu kepercayaan penuh dari Ibu Presiden (Megawati, presiden waktu itu). Bukan menyombongkan, tapi saya diberi Tuhan talenta pengetahuan di bidang Bank Sentral, jadi saya terima.
Lalu apa yang menjadi motivasi anda?
Tidak ada motivasi untuk memenangkan apapun, motivasi saat menyampaikan fit and proper test adalah untuk menunjukan saya pantas diterima. Kalau bukan saya yang terpilih, saya justru bertanya-tanya.
Apakah karena terkejut karena sudah membayar untuk diterima?
Tidak ada niat saya sedikit pun, bahkan tidak terpikirkan untuk membayar orang agar memilih saya. Dan tidak terpikirkan untuk membayar orang untuk memilih saya. Rasa percaya diri saya terlalu besar, bahwa yang harus saya tunjukkan adalah profesionalisme saya, bukan permainan uang.
Namun ada yang mengaku menerima uang setelah anda terpilih?
Bisa anda bayangkan terkejutnya saya pada 2008, saat saya terlena-lena di hari Minggu, Agus Condro menyebut seperti itu. Tetapi karena saya yakin, tidak pernah meminta orang untuk memberikan uang, memberikan uang, meminta orang untuk mensponsori, tidak pernah juga memberikan janji kalau terpilih nanti, saya akan memberikan apa. Saya berjalan tenang.
Sejak saat itu Anda jarang terlihat?
Kalau sejak 2008 saya berjalan tenang dan tidak terlihat panik, itu bukan karena saya sok tahu. Tetapi karena saya memahami dan menghormati hukum. Saya diam selama ini karena bukan saya takut. Banyak yang menawarkan saya untuk talkshow dan sebagainya bukan karena saya takut, tapi karena saya menghormati lembaga ini (KPK).
Anda diam tapi opini publik berkembang terus?
Saya tidak ingin terdistorsi dengan pernyataan-pernyataan saya, kalau Anda liat saya tidak pernah memberikan pernyataan apapun yang substantif. Kalau pernyataan door stop di depan KPK tentu saya jawab. Ada pertanyaan digiring apa pertanyaan di dalam, saya pikir tidak elok, saya menghormati lembaga yang terhormat ini.
Edisi terbaru Majalah Detik (edisi 6 Februari 2012) mengupas tuntas tema 'Bui Menanti Angie', juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik nasional membahas 'Ada Apa Miranda dan Artha Graha?' , rubrik hukum berita komik "Tragedi Nenek Pencuri Piring', ekonomi bisnis 'Lompatan Logika Bank Infrastruktur',rubrik People' dan rubrik seni dan hiburan film 'The Artist: Masa Gemilang yang Terlupa' dan masih banyak artikel menarik lainnya.
(nrl/nrl)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Penetapan tersangka membuat Miranda kaget tapi lega. Ia yakin ia tidak bersalah karena tidak melakukan apa-apa untuk pemenangan dirinya sebagai DGS BI.
“Saya tidak meminta orang untuk memberikan uang, mensponsori, atau menjanjikan apapun,” kata Miranda.
Berikut petikan wawancara reporter majalah detik Isfari Hikmat dengan Miranda S Gultom usai menjadi promotor dalam sidang doktor di UI:
Bagaimana tanggapan keluarga setelah status Anda dinaikkan sebagai tersangka?
Saya sudah minta jangan ada yang bersedih, karena saya yakin tidak melalukan apa-apa. Saya tidak meminta orang untuk memberikan uang, mensponsori, atau menjanjikan apapun. Saya rasa memang berat sebagai tersangka, saya tetap tenang karena saya tahu tidak melakukan apa-apa.
Lalu, apa yang Anda ketahui terkait permasalahan yang terjadi?
Yang saya ketahui, terbukti ada cek pelawat, yang saya ketahui ada beberapa puluh anggota DPR yang dihukum untuk menerima gratifikasi, yang saya ketahui Bu Nunun sekarang menjadi tersangka.
Kaitannya dengan Anda?
Saya kurang jelas juga kalau kaitannya dengan saya, apa permasalahan yang terjadi. Adanya cek pelawat itu baru saya ketahui Agustus 2008 saat Agus Condro membuka itu ke publik. Yang saya ketahui hanyalah di dalam proses pemilihan deputi gubernur senior, saya mengikuti fit and proper test.
Ada pertemuan khusus sebelum mengikuti fit and proper test?
Sebelum fit and proper test, saya melakukan pertemuan dengan dua fraksi.
Kenapa hanya dua fraksi?
Karena memang dua fraksi tersebut yang waktunya cocok, yaitu PDIP dan angkatan bersenjata. Tidak berdua-dua, pertemuan terbuka, berlima belas dan berempat.
Yang menjadi pembahasan?
Yang saya sampaikan adalah misi visi saya, satu. Kedua bahwa saya enggan mengikuti fit and proper test bila yang ditanya adalah pertanyaan pribadi dan keluarga yang ditonjolkan. Seperti halnya yang ditonjolkan saat saya mengikuti pemilihan calon gubernur 2003, justru yang paling dominan adalah pertanyaan mengenai masalah keluarga. Saya mengikuti fit and proper test itu sebagai seorang profesional.
Apakah anda yakin dengan kemampuan anda?
Kalau Anda tanya saya, apakah saya yakin bahwa saya patut terpilih. Dengan kredensi saya, dengan pengalaman saya, dengan pendidikan saya, saya patut dipilih. Sehingga sewaktu saya terpilih, saya tidak merasa aneh. Pada waktu saya tidak terpilih sebagai gubernur BI pada 2003 saya justru merasa aneh, ada apa?
Bagaimana selanjutnya Anda dapat terpilih sebagai deputi gubernur senior BI?
Pada 2004 waktu saya terpilih, saya pikir logislah, pada 2003 saja saya sudah dicalonkan untuk menjadi Gubernur (BI), masa untuk suatu rank yang lebih rendah saya tidak pantas.
Ada tanggapan mengenai penurunan status dari mencalonkan sebagai gubernur menjadi deputi gubernur?
Padahal waktu dicalonkan awalnya saya enggan, Anda bayangkan setelah dicalonkan menjadi gubernur lalu menjai deputi gubernur senior, kan enggak enak. Tapi saya memakai nalar jernih, bahwa ini sebagai suatu kepercayaan penuh dari Ibu Presiden (Megawati, presiden waktu itu). Bukan menyombongkan, tapi saya diberi Tuhan talenta pengetahuan di bidang Bank Sentral, jadi saya terima.
Lalu apa yang menjadi motivasi anda?
Tidak ada motivasi untuk memenangkan apapun, motivasi saat menyampaikan fit and proper test adalah untuk menunjukan saya pantas diterima. Kalau bukan saya yang terpilih, saya justru bertanya-tanya.
Apakah karena terkejut karena sudah membayar untuk diterima?
Tidak ada niat saya sedikit pun, bahkan tidak terpikirkan untuk membayar orang agar memilih saya. Dan tidak terpikirkan untuk membayar orang untuk memilih saya. Rasa percaya diri saya terlalu besar, bahwa yang harus saya tunjukkan adalah profesionalisme saya, bukan permainan uang.
Namun ada yang mengaku menerima uang setelah anda terpilih?
Bisa anda bayangkan terkejutnya saya pada 2008, saat saya terlena-lena di hari Minggu, Agus Condro menyebut seperti itu. Tetapi karena saya yakin, tidak pernah meminta orang untuk memberikan uang, memberikan uang, meminta orang untuk mensponsori, tidak pernah juga memberikan janji kalau terpilih nanti, saya akan memberikan apa. Saya berjalan tenang.
Sejak saat itu Anda jarang terlihat?
Kalau sejak 2008 saya berjalan tenang dan tidak terlihat panik, itu bukan karena saya sok tahu. Tetapi karena saya memahami dan menghormati hukum. Saya diam selama ini karena bukan saya takut. Banyak yang menawarkan saya untuk talkshow dan sebagainya bukan karena saya takut, tapi karena saya menghormati lembaga ini (KPK).
Anda diam tapi opini publik berkembang terus?
Saya tidak ingin terdistorsi dengan pernyataan-pernyataan saya, kalau Anda liat saya tidak pernah memberikan pernyataan apapun yang substantif. Kalau pernyataan door stop di depan KPK tentu saya jawab. Ada pertanyaan digiring apa pertanyaan di dalam, saya pikir tidak elok, saya menghormati lembaga yang terhormat ini.
Edisi terbaru Majalah Detik (edisi 6 Februari 2012) mengupas tuntas tema 'Bui Menanti Angie', juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik seperti rubrik nasional membahas 'Ada Apa Miranda dan Artha Graha?' , rubrik hukum berita komik "Tragedi Nenek Pencuri Piring', ekonomi bisnis 'Lompatan Logika Bank Infrastruktur',rubrik People' dan rubrik seni dan hiburan film 'The Artist: Masa Gemilang yang Terlupa' dan masih banyak artikel menarik lainnya.
(nrl/nrl)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Minggu, 27/05/2012 16:26 WIB
Tabrak Jakmania di Dekat Halte Halimun, TransJ Diamuk Massa
-
Minggu, 27/05/2012 15:48 WIB
Mercy Terbakar di Depan PIM 2, Lalin Sempat Macet
-
Minggu, 27/05/2012 14:26 WIB
Survei LSI, Foke dan Jokowi Masih Cagub Terkuat
-
Minggu, 27/05/2012 15:43 WIB
Jelang Pilkada DKI, Foke Minta Petuah Jusuf Kalla
-
689 Komentar
-
288 Komentar
-
255 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
